• 21 Apr, 2026

Pemerintah mempercepat pengerjaan konstruksi tol Yogyakarta – Bawen. Bahkan, untuk ruas seksi 6 ditargetkan beroperasi akhir 2025, serta seksi 1 ditargetkan rampung pada kuartal II-2026.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) berkomitmen untuk terus mempercepat pembangunan jalan tol Yogyakarta-Bawen.

Kehadiran tol ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan konektivitas di wilayah segitiga emas Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang). 

“Kita akan percepat, mengingat jalan tol ini akan mempercepat mobilitas dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Selain itu, dengan akses yang lebih mudah ke Borobudur dan berbagai destinasi wisata lainnya, kita berharap dapat meningkatkan kunjungan wisatawan,” kata Menteri PU, Dody Hanggodo dalam keterangannya.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PU, Roy Rizali Anwar menjelaskan pekerjaan pembangunan tol Yogyakarta-Bawen dikerjakan PT Jasamarga Jogja Bawen selaku BUJT. Nilai investasinya mencapai Rp14,26 triliun dengan biaya konstruksi Rp10,65 triliun. Jalan tol ini melintasi dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Jalan tol ini akan menjadi bagian dari jaringan tol Trans Jawa yang menghubungkan tol Semarang-Solo dengan tol Solo-Yogyakarta-Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo,” ungkap Roy.

tol-jogjabawen3.JPG
FOTO FOTO ISTIMEWA

Tol Yogyakarta-Bawen memiliki total panjang 75,12 km yang terbagi menjadi 6 Seksi. Seksi 1 JC Sleman – SS Banyurejo sepanjang 8,80 km dengan progres pembebasan lahan 96,73% dan progres konstruksi 77,32%, Seksi 2 SS Banyurejo – SS Borobudur sepanjang 15,20 km dengan progres pembebasan lahan 91,60%, Seksi 3 SS Borobudur – SS Magelang sepanjang 8,10 km dengan progres pembebasan lahan 73,20%.

Kemudian Seksi 4 SS Magelang – SS Temanggung sepanjang 16,65 km dengan progres pembebasan lahan 36,54%, Seksi 5 SS Temanggung – SS Ambarawa sepanjang 21,39 km dengan progres pembebasan lahan 11,25% dan Seksi 6 SS Ambarawa - JC Bawen sepanjang 4,98 km yang tersambung dengan tol Semarang-Solo dengan progres pembebasan lahan 95,8% dan progres konstruksi mencapai 61,40%. 

“Ruas yang sudah dalam tahap konstruksi yaitu Seksi 1 ditargetkan selesai kuartal II tahun 2026 dan Seksi 6 ditargetkan selesai kuartal IV tahun 2025. Untuk ruas lainnya juga akan kita percepat pembebasan lahannya agar bisa segera mulai konstruksinya, dan diharapkan bisa tuntas pada tahun 2027-2028," ujar Dirjen Roy. 

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Wilan Oktavian menambahkan dukungan dari para pemangku kepentingan terkait lainnya sangat diperlukan untuk kelancaran percepatan pembangunan jalan tol Yogyakarta-Bawen, termasuk Komisi V DPR RI.

“Juga dukungan pemerintah daerah agar pembangunan tidak hanya berjalan cepat, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar jalur jalan tol ini,” ungkapnya.

tol-jogjabawen1.jpg

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Robert Rouw saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik (Kunfik) Komisi V DPR RI di Kabupaten Sleman, Jumat (23/5) mengatakan 

pembangunan jalan tol ini juga diharapkan dapat memperkuat posisi Yogyakarta khususnya di industri pariwisata yang semakin tumbuh dan berkembang.

“DPR berharap nantinya akan meningkatkan peran Yogyakarta sebagai daerah untuk perkembangan ekonomi di Pulau Jawa bagian Selatan,” tegas Robert Rouw.

Sektor Properti Terdampak

Ketua DPD Realestat Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (REI DIY), Ilham Muhammad Nur mengatakan pembangunan jalan tol Yogyakarta-Bawen yang terhubung dengan jaringan tol Trans Jawa tentu akan membawa dampak signifikan bagi bisnis properti di daerah tersebut, baik yang positif maupun negatif. Namun, secara umum pihaknya meyakini pembangunan akses infrastruktur jalan terlebih jalan tol akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan peluang investasi di sekitarnya.

“Aksesibilitas yang lebih baik pasti akan membuat properti di sekitar jalan tol menjadi lebih menarik dan bernilai jual tinggi. Biasanya akan diikuti dengan masuknya beragam investasi termasuk properti seperti perumahan, Kawasan komersial, hotel, pusat perbelanjaan atau kawasan industri. Kalau investasi masuk, maka akan tercipta lapangan kerja,” ungkapnya saat dihubungi.

Dengan beroperasinya tol Yogyakarta-Bawen, nantinya salah satu daerah yang akan mendapatkan manfaat dari akses infrastruktur tersebut termasuk untuk properti adalah kawasan Sleman. Hal itu, kata Ilham, karena banyak gerbang masuk dan keluar tol berada di wilayah Kabupaten Sleman. 

ilham-m-nur-diy1-1.jpg

Meski banyak nilai positifnya untuk mendorong masuknya investasi di kawasan tersebut, namun diakui beroperasinya jalan tol tersebut juga membawa pengaruh negatif diantaranya potensi lonjakan harga tanah di Sleman.

“Padahal, saat ini saja harga tanah di Sleman relatif sudah sangat tinggi, sehingga tentunya akan berakibat terhadap harga jual rumah di Sleman yang semakin mahal,” jelas Ilham.

Diakuinya, mahalnya harga tanah memang menjadi salah satu kendala pembangunan hunian di Yogyakarta. Terlebih untuk rumah bersubsidi, tidak hanya di Sleman tetapi di daerah kabupaten/kota lainnya. Padahal, ungkap Ilham,  tanah merupakan komponen utama dalam pembangunan rumah dengan persentase hingga 40%. Kondisi ini menyebabkan pasokan rumah bersubsidi di DIY terus berkurang setiap tahunnya.

“Karena itu, kami sudah pernah mengusulkan kepada pemerintah pusat agar membedakan batasan harga jual rumah subsidi di Yogyakarta dengan wilayah lainnya di Pulau Jawa. Tetapi memang saat itu terbentur upah minimum regional (UMR) di sini yang rendah, sehingga dikhawatirkan memengaruhi daya jangkau masyarakat,” pungkasnya. (Rinaldi)

Muhammad Rinaldi