Sektor industri di dalam negeri makin bergerak positif di semester pertama tahun ini. Disrupsi rantai pasokan akibat perang dagang dan tarif impor yang ditetapkan Amerika Serikat (AS) membawa peluang bagi Indonesia dengan mulai aktifnya relokasi pabrik, termasuk dari China dan Vietnam.
Sepanjang kuartal II-2025 terlihat industri kendaraan listrik dan penunjangnya ( electrical vehicle related) menjadi sektor paling potensial yang menyerap lahan industri di koridor timur Jakarta. Kondisi ini merupakan kelanjutan dari investasi China dan Vietnam sejak tahun lalu. Sementara industri tekstil mendominasi serapan lahan di koridor barat Jakarta.
Tarif impor Indonesia ke Amerika Serikat ditetapkan turun dari 32% menjadi 19% setelah ada kesepakatan antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump. Kesepakatan ini membuat Indonesia memperoleh tarif impor yang relatif lebih rendah dibandingkan negara Asia lainnya Filipina, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam yang dikenai tarif 20%.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat menyebutkan Indonesia masuk dalam “radar” investasi utama bagi investor global termasuk pabrikan asal China dan Vietnam, karena tarif impornya ke AS lebih kompetitif. Pabrik yang masuk sebagian besar bergerak di industri tekstil, electrical vehicle (EV), agrikultur, elektronik, dan lain-lain. Meski begitu, Indonesia masih harus bersaing ketat dengan Thailand dan India.
“Relokasi pabrik ke Indonesia mulai terlihat, karena investor manufaktur mempertimbangkan tarif yang dikenakan AS untuk barang impor dari Indonesia lebih rendah. Tetapi itu saja tidak cukup, karena investor juga butuh iklim investasi yang baik dan pasti dari Pemerintah Indonesia. Ease of doing business dan stabilitas keamanan tetap menjadi tolak ukur penting dalam proses relokasi industri,” tegas Sari, demikian dia akrab disapa kepada Majalah REI.
Diakuinya, serapan lahan dari relokasi pabrik akibat dampak tarif impor ke AS yang kompetitif cukup signifikan. Lokasi yang menjadi incaran favorit kedua negara tersebut dalam cakupan Greater Jakarta, antara lain Karawang, Cilegon-Serang, Bekasi, Subang, dan beberapa submarket industri di Pulau Jawa.
Menurut Sari, wilayah dengan ketersediaan infrastruktur yang baik, jaringan transportasi yang terus tumbuh, dekat dengan pelabuhan ekspor, ketersediaan tenaga kerja melimpah, serta kemudahan perizinan menjadi alasan lokasi itu diminati investor.

Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip menyebutkan serapan lahan kawasan industri terus menunjukkan tren positif di semester I-2025, meski tidak sekuat tahun 2024. Kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden Trump menjadi alarm bagi sektor industri, sekaligus membuka peluang untuk memanfaatkan pergeseran rantai pasokan global.
“Industri EV, data center , elektronik dan tekstil dapat menjadi engine generator yang tangguh untuk pertumbuhan ekonomi ke depan,” jelasnya.
Gelombang masuknya pabrikan asal China ke Indonesia demi menghindari tarif impor tinggi dari AS diungkapkan juga oleh Gao Xiaoyu, konsultan lahan industri PT Yard Zeal Indonesia.
Dia menyebutkan menerima banyak sekali permintaan dari perusahaan China yang ingin berekspansi atau memindahkan operasional industri mereka ke Indonesia.
“Keputusan itu menyusul pemberlakuan tarif impor AS hingga lebih dari 30% untuk barang-barang dari China,” ujar Gao dikutip dari Reuters.
Tren pasar ini dibenarkan Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Ma'ruf Maulana. Menurutnya, permintaan lahan dari investor asal China meningkat sejak akhir 2024. Selain China, permintaan juga berasal dari Jepang, Taiwan, Amerika, dan beberapa negara Eropa. Kenaikan permintaan dipicu relokasi industri akibat kebijakan tarif impor AS.
“HKI melihat tren ini akan terus berlanjut, terutama di sektor industri yang terkait rantai pasok global,” ungkap Akhmad dikutip dari Kontan.
Direktur Utama PT Jababeka Tbk, Setyono Djuandi (SD) Darmono mengakui adanya peningkatan minat investasi dari perusahaan-perusahaan asal China ke Indonesia usai penetapan tarif impor AS. Peningkatan permintaan dari Tiongkok di kawasan industri Jababeka terjadi sejak awal 2025.
“Kebijakan tarif AS mendorong strategi China+1, sehingga Indonesia termasuk Jababeka menjadi tujuan relokasi,” ungkap dikutip dari Bisnis.
Menurut Darmono, mayoritas perusahaan dari China yang telah dan berencana melakukan ekspansi pengembangan pabrik berasal dari sektor energi, ekosistem kendaraan listrik elektronik, hingga logistik.
Dukungan Regulasi
Meski lahan industri dan pergudangan di Indonesia sedang “naik daun” saat ini, namun Syarifah Syaukat mengingatkan Pemerintah Indonesia untuk lebih menyederhanakan perizinan sebagai bentuk meningkatkan layanan kepada investor, serta memastikan stabilitas keamanan dan politik nasional.

“Adanya insentif fiskal dan non-fiskal yang kuat juga penting, serta kualitas tenaga kerja perlu terus ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan vokasi. Keberlanjutan pengembangan infrastruktur juga menjadi kunci dalam menangkap investasi,” ujarnya.
Harapan serupa disampaikan Ketua Umum HKI, Akhmad Ma'ruf Maulana. Dia melihat potensi investasi dan permintaan lahan industri akan terus berkembang di Tanah Air.
“Namun trantangannya juga tidak sedikit, terutama yang berkaitan dengan perizinan yang rumit di setiap kementerian terkait dan pemerintah daerah,” sebutnya.
Kinerja emiten kawasan industri pada semester I-2025 dilaporkan memperlihatkan kondisi yang beragam. Beberapa emiten mencatatkan pertumbuhan positif, sementara yang lain mengalami penurunan. Perbedaan kinerja dipengaruhi ketersediaan stok lahan dan gudang, juga lokasi kawasan industri yang dimiliki emiten. (Rinaldi)