Bank Indonesia (BI) memprediksi The Federal Reserve atau The Fed bakal menurunkan lagi suku bunga acuannya. Langkah itu menjadi angin segar bagi pemangkasan lanjutan bunga acuan BI atau BI Rate yang sudah empat kali diturunkan sepanjang 2025. Sayangnya, belum banyak berdampak bagi bisnis properti.
Rapat Dewan Gubernur The Federal Reserve alias Bank Sentral Amerika Serikat (AS) pada Rabu (17/9) waktu setempat, memutuskan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,00% - 4,25%. Keputusan ini merupakan yang pertama kali dilakukan sejak awal tahun 2025, mengingat The Fed terakhir kali memotong suku bunga acuannya pada Desember 2024.
Penurunan suku bunga acuan dilakukan The Fed karena khawatir terhadap melonjaknya angka pengangguran dan adanya tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja yang cukup serius.
BI memprediksi The Federal Reserve bakal menurunkan suku bunga acuannya satu kali lagi di 2025. Proyeksi ini didorong prospek ekonomi AS yang terpantau melambat, dengan mulai turunnya tekanan inflasi dan meningkatnya pengangguran.
Sinyalemen ini membawa angin segar bagi bunga acuan BI yang juga diprediksi akan kembali turun, setelah empat kali diturunkan pada 2025 yakni di Januari, Mei, Juli dan terakhir di September. BI telah memangkas suku bunga acuan atau BI Rate hingga 1,5% atau 150 bps menjadi 4,75% pada September 2025. Suku bunga acuan ini menyentuh level terendah sejak Oktober 2022 lalu.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 16-17 September lalu juga menurunkan suku bunga deposito atau deposit facility 50 bps menjadi 3,75%. Langkah ini untuk mendorong perbankan memanfaatkan likuiditas berlebihnya untuk disalurkan sebagai kredit kepada sektor riil.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan ke depan pihaknya akan mencermati ruang penurunan BI Rate kembali jelang akhir 2025, sejalan dengan prospek inflasi 2025 dan 2026 yang rendah, serta pertumbuhan ekonomi.

“BI akan terus mencermati prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi dalam memanfaatkan ruang suku bunga acuan BI lebih lanjut dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah,” tegasnya.
Pemangkasan bunga acuan The Fed dan bunga acuan BI sebanyak empat kali sepanjang tahun ini memberi harapan besar bagi pelaku usaha properti dan masyarakat supaya suku bunga kredit properti juga segera turun. Hal itu diyakini membawa dampak positif bagi sektor properti yang masih dalam tahap pemulihan.
“Kita berharap pemangkasan bunga acuan The Fed masih akan berlanjut seperti proyeksi BI, sehingga membuka ruang bagi penurunan kembali BI Rate agar memacu bank-bank untuk juga menurunkan bunga kreditnya,” kata Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) bidang Perbankan dan Pembiayaan, Umar Husin yang dihubungi, baru-baru ini.
Bagi konsumen, penurunan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) akan membuat besaran cicilan KPR-nya menjadi lebih rendah dan terjangkau. Demikian juga bagi nasabah yang KPR-nya sudah eksisting maka besaran cicilannya berpotensi turun menjadi lebih murah. Sedangkan untuk pengembang, penurunan bunga kredit akan membuka kesempatan mendapatkan pinjaman dengan biaya lebih murah untuk modal kerja.

Umar menambahkan, beberapa bank milik negara telah mendapat kucuran likuiditas dari pemerintah sebesar Rp200 triliun. Bank-bank tersebut merupakan bank penyaluran KPR dan kredit modal kerja bagi pengembang yang cukup terkemuka. Oleh karena itu, dia berharap dengan permodalan dan likuiditas yang cukup akan membuat bank lebih banyak menyalurkan kredit dengan suku bunga terjangkau, sehingga ekonomi dapat bertumbuh.
“Kami tentu mendorong agar suku bunga kredit bank-bank segera turun, namun memang itu semua sangat tergantung kebijakan dan beban biaya di masing-masing bank. Harapan kami semoga segera turun terutama untuk bunga KPR, apalagi bank itu kan bisnisnya selain modal adalah kepercayaan,” tegasnya.
Stimulus Pasar
Managing Director PT Ciputra Development Tbk, Budiarsa Sastrawinata juga berharap penurunan suku bunga acuan BI dapat diiringi dengan penurunan bunga KPR. Langkah ini untuk menstimulus pasar properti, mengingat selama semester I-2025 penjualan properti belum sebesar tahun sebelumnya.
“Harapan kami ya segera diikuti dengan turunnya bunga KPR sehingga bisa menggairahkan pasar lagi,” harapnya.
Menurut Budiarsa, kondisi daya beli dan ekonomi saat ini cukup berdampak pada penjualan rumah kelas menengah. Padahal, rumah kelas menengah dan menengah bawah memiliki porsi besar dalam penjualan hunian di Tanah Air.
Corporate Secretary Bank Mandiri, M. Ashidiq Iswara mengatakan penyesuaian suku bunga kredit di bank tersebut akan mempertimbangkan kondisi likuiditas hingga kebijakan moneter yang berlaku.

"Penyesuaian suku bunga kredit dan simpanan akan kami lakukan secara prudent dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas internal, dinamika pasar, serta arah kebijakan moneter yang berlaku,” ungkapnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Bank Mandiri akan terus menjaga peran intermediasi secara sehat dan selektif, khususnya dalam mendukung sektor-sektor produktif yang berorientasi pada penguatan ekonomi kerakyatan.
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) mengakui tambahan likuiditas Rp25 triliun dari pemerintah telah memberikan dorongan lebih bagi perseroan untuk menurunkan biaya dana (cost of fund ) terutama setelah BI memangkas suku bunga acuan hingga 125 basis poin dalam satu tahun ke belakang.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu menyebutkan, sebagai langkah konkret, BTN telah menurunkan bunga deposito special rate tidak lama setelah tambahan dana segar dari pemerintah diterima perseroan.
“Waktu Jumat (12 September) diputuskan oleh pemerintah (tambahan likuiditas), maka Senin (15 September) kami putuskan untuk menurunkan bunga special rate deposito 50 bps,” ungkapnya. (Teti/Rinaldi)