• 21 Apr, 2026

Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Bengkulu menargetkan pembangunan sebanyak 2.500 unit rumah pada tahun ini. Hal tersebut sebagai kontribusi pengembang di Bumi Rafflesia itu terhadap Program 3 Juta Rumah yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Tetapi, Ketua DPD REI Bengkulu, Syamsu Ihwan Basir berharap target tersebut dapat didukung oleh kuota kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi yang mencukupi. Sehingga kekurangan kuota KPR tidak terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya.

“REI Bengkulu akan berinovasi lebih baik lagi untuk mencapai target, dengan mengedepankan kualitas lokasi proyek dan kualitas bangunan serta desain yang menarik," jelas Ihwan yang dihubungi, baru-baru ini. 

Optimisme itu juga didukung dengan beragam kebijakan pemerintah, termasuk penghapusan biaya pengurusan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan percepatan layanan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). DPD REI Bengkulu mengaku menyambut baik adanya terobosan dari ketiga menteri tersebut.

“Dukungan ini sangat baik dan cukup membantu. Namun selain itu, kami masih menunggu dukungan yang lebih konkrit untuk mendukung dunia properti khususnya di Provinsi Bengkulu,” kata Ihwan. 

Menurutnya, REI sangat menyambut baik pembebasan BPHTB dan PBG karena akan berdampak terhadap penjualan rumah subsidi yang lebih tinggi. Menurutnya, pembebasan biaya BPHTB dan PBG akan menekan beban biaya yang ditanggung masyarakat yang membeli rumah bersubsidi, sehingga membantu daya beli masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Tahun lalu, REI Bengkulu berhasil merealisasikan 1.500 unit rumah dengan realisasi terbanyak di Kota Bengkulu. Tahun 2024, kendala yang dihadapi adalah kurangnya kuota subsidi yang terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia. 

Selain itu, ada juga rumor yang terlanjur meluas di masyarakat tentang adanya rumah murah dan rumah gratis yang diisukan oleh pemerintah pusat sehingga menjadi hambatan bagi REI Bengkulu dalam memasarkan rumah bersubsidi. Oleh karena itu, REI Bengkulu masih berharap adanya edukasi dari pemerintah pusat terkait program nyata di sektor perumahan. 

Pasar Komersial

Sementara itu, untuk sektor rumah komersial di Bengkulu diakuinya saat ini harga tanah yang terus meroket menyebabkan pengembang komersial juga mulai kesulitan mendapatkan lahan yang sesuai. Padahal, menurut Ihwan, pasar komersial cukup baik, terutama untuk hunian harga Rp400 juta hingga Rp600 juta.

“Sayangnya, harga tanah untuk bisa membangun di harga rumah tersebut kini semakin sulit,” jelasnya.

Untuk memacu penjualan rumah subsidi dan komersial, REI Bengkulu berencana akan menggelar REI Expo yang diharapkan bisa meningkatkan penjualan anggota. 

Di awal tahun 2025, REI Bengkulu bekerjasama dengan BTN Bengkulu juga telah menggelar akad massal KPR subsidi yang melibatkan 130 debitur yang terdiri dari pekerja formal dan informal, serta mayoritas berasal dari generasi milenial.

Menurut Ihwan, akad masal ini menandakan tren positif di sektor realestat beberapa tahun terakhir. Dikatakan, pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan harga komoditas pertanian yang tinggi telah mendorong kesadaran masyarakat untuk memiliki rumah sendiri.

“Kami mengapresiasi BTN sebagai mitra utama REI dalam merealisasikan KPR subsidi di Bengkulu. Tantangan seperti keterbatasan lahan di Kota Bengkulu akibat perubahan tata ruang wilayah masih dapat diatasi, sementara aksesibilitas dan harga tanah tetap dalam kondisi stabil,” kata Ihwan. 

Selain mendukung program perumahan terjangkau, REI Bengkulu juga berkomitmen menjaga kualitas pembangunan unit dan memberikan edukasi kepada calon konsumen terkait pentingnya memiliki rumah sendiri. (Teti Purwanti)

 

Teti Purwanti