Pembangunan MRT line timur-barat fase 1 tahap 1 yang membentang dari Tomang di Jakarta Barat hingga Medan Satri di Kota Bekasi sepanjang 24,5 kilometer akan dimulai pada 2026. Konstruksi dilakukan dengan co-financing dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Asian Development Bank (ADB).
PT MRT Jakarta (Perseroda) dan PT Deltasari Adipratama telah menyepakati potensi kerja sama pengembangan lahan di sekitar jalur MRT line timur-barat fase 1 tahap 1. Penandatanganan kerja sama tersebut diadakan di Gedung Transport Hub, Dukuh Atas, awal November lalu.
“Penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan bentuk komitmen MRT Jakarta untuk mendukung pengembangan jalur MRT, khususnya line timur-barat, termasuk pengembangan kawasan berorientasi transit di sepanjang koridor MRT Jakarta tersebut,” jelas Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta, Farchad Mahfud.
Ruang lingkup kesepahaman meliputi studi dan kajian berkaitan potensi pengembangan lahan dan properti di sekitar jalur line timur-barat fase 1 tahap 1, termasuk pengembangan aksesibilitas dari dan ke stasiun MRT. Selain itu, pemanfaatan lahan juga mencakup identifikasi potensi penempatan stasiun yang efisien dan efektif dari aspek interkoneksi dan integrasi dengan kawasan di sekitarnya.

“Rencananya, penjajakan awal ini akan berlangsung hingga dua tahun ke depan,” ujarnya.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat sebelumnya menyampaikan pihaknya saat ini sedang mempersiapkan pembangunan line timur-barat yang akan dimulai pada 2026. Tahap pertama akan dilakukan sepanjang 24,5 kilometer dari Tomang hingga Medan Satria, termasuk jalur sepanjang 5,9 kilometer menuju depo di Rorotan.
Secara keseluruhan, line timur-barat akan menghubungkan Cikarang di Jawa Barat dan Balaraja di Banten dengan total panjang koridor mencapai 84 kilometer.
Selain itu, MRT Jakarta juga terus mengembangkan kawasan di sekitar stasiun seperti interkoneksi antarmoda di Dukuh Atas, interkonsi dengan bangunan di sekitar seperti di Blok M dan Lebak Bulus, serta pembangunan berbagai infrastruktur TOD lainnya. Tuhiyat menambahkan bahwa MRT Jakarta juga sedang mempersiapkan operasional segmen 1 fase 2A.
“Pada tahun 2027 kami menargetkan Bundaran HI-Monas sudah beroperasi, dan pada 2029 beroperasi hingga Kota,” ungkapnya.
Tuhiyat optimis dengan tersedianya infrastruktur yang aman dan nyaman akan mendorong perubahan bermobilitas di Indonesia.
Konstruksi fase 2A per Oktober 2025 telah melampaui target akhir tahun. Pada akhir Oktober lalu, perkembangannya telah mencapai 54,36 persen dari target 51,73 persen. Capaian tersebut bahkan telah melampaui target akhir 2025 yang ditetapkan, yaitu 53,29 persen.

Fase 2A MRT Jakarta akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Kota sepanjang sekitar 5,8 kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Fase 2A tersebut dibagi menjadi dua segmen, yaitu segmen satu Bundaran HI-Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027, dan Fase 2A MRT Jakarta dibangun dengan biaya sekitar Rp25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang.
Sedangkan segmen dua Harmoni-Kota ditargetkan selesai pada 2029. Sedangkan fase 2B MRT Jakarta yang rencananya melanjutkan dari Kota sampai dengan Depo Ancol Barat masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).
Berorientasi TOD
Berbeda dengan fase 1, fase 2A dibangun sekaligus dengan mengembangkan kawasan stasiun dengan konsep kawasan berorientasi transit (transit-oriented-development).
MRT Jakarta memiliki tiga mandat utama, yaitu pembangunan infrastruktur, operasi dan pemeliharaan, serta pengembangan bisnis dan kawasan berorientasi transit atau TOD.
Tuhiyat menjelaskan, dengan dengan progres konstruksi fase 2 yang telah mencapai 52,27 persen, maka proyek MRT akan memperluas layanan transportasi publik sekaligus membuka peluang integrasi termasuk dengan kawasan Kota Tua. Nantinya, konsep tata ruang di Kota Tua akan diutamakan dengan mendukung konektivitas pejalan kaki dan transportasi ramah lingkungan.
“MRT Jakarta ingin memastikan pembangunan infrastruktur sejalan dengan pelestarian warisan budaya dan Sejarah,” tegasnya.
Pengembangan TOD Kota Tua dirancang dengan prinsip heritage-led urban regeneration, yang menempatkan Stasiun MRT Kota sebagai katalis revitalisasi kawasan bersejarah. Desain stasiun akan mengadopsi atmosfer Batavia tempo dulu dengan menghadirkan area publik yang nyaman, commercial concourse, serta galeri arkeologi yang terintegrasi langsung dengan jaringan pejalan kaki dan transportasi kota.
Dengan pendekatan ini, MRT Jakarta menargetkan kawasan Kota Tua sebagai distrik yang terintegrasi, mudah diakses, dan berdaya saing ekonomi, serta tetap mempertahankan nilai sejarah dan karakter arsitekturnya.
Hal itu diwujudkan melalui revitalisasi koridor utama seperti Jalan Pintu Besar Selatan dan kawasan Beos Plaza sebagai pedestrian spine, penerapan konsep adaptive reuse untuk bangunan cagar budaya, serta pemanfaatan mekanisme inovatif seperti Transfer of Development Rights (TDR) dan Land Value Capture (LVC) untuk mendukung pembiayaan konservasi dan pengembangan kawasan. (Rinaldi)