• 21 Apr, 2026

SEWA GUDANG LOGISTIK DI ASIA PASIFIK MELAMBAT, HARGA TERSENDAT

SEWA GUDANG LOGISTIK DI ASIA PASIFIK MELAMBAT, HARGA TERSENDAT

Konsultan properti, Knigh and Frank mengungkap bahwa sektor pergudangan logistik di kota-kota di Hong Kong dan daratan Tiongkok kemungkinan akan mengalami lebih banyak ruang kosong dan penurunan harga dalam setahun mendatang.

Di semester I-2024, harga sewa gudang logistik di Asia-Pasifik rata-rata naik sebesar 2,4%. Namun harga tersebut lebih lambak dibandingkan pada 2023 sebesar 6,2%.  Hal ini diperkirakan terjadi karena aktivitas bisnis di daratan Tiongkok yang sedang melambat, sehingga terjadi penurunan harga sewa gudang logistik sekitar 13,5% di Beijing dan Shanghai. Beijing dan Shanghai merupakan bagian dari 17 kota yang dipantau oleh Knight Frank. 

“Kota-kota lainnya termasuk Singapura, Melbourne, Hong Kong, dan Mumbai,” ungkap laporan tersebut.

Akibat melambatnya kegiatan bisnis, Knight Frank memperkirakan perlambatan pertumbuhan bisa mencapai 20%. Di sisi lain, pengembang dan juga land lord berupaya bertahan dengan berbagai upaya termasuk memotong harga sewa atau memperpendek masa sewa. Knight Frank menyatakan bahwa situasi ini kemungkinan akan menjadi lebih buruk karena semakin banyak gudang yang dibangun di daratan China. 

Perusahaan konsultan itu mencatat, sewa yang stabil dan meningkat untuk periode semester I-2024 terjadi di Singapura. Pendapatan logistik di Negeri Singa tersebut ini mengalami kenaikan 6,7% dalam paruh pertama tahun ini dan 10,8% secara tahunan. Hal ini merupakan pertumbuhan tertinggi yang tercatat dalam 10 tahun terakhir.

Knight Frank mengemukakan bahwa pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh sektor manufaktur Singapura yang kuat, karena indeks manajer pembelian secara keseluruhan telah berkembang secara berturut-turut dalam dekade terakhir. Selain itu, harga sewa gudang logistic premium di Singapura mencapai rekor tertinggi sebesar S$2,88 per kaki persegi per bulan di tengah permintaan baru untuk ruang penyimpanan dingin (cold storage), sehingga mendorong pertumbuhan di subsektor ini.

“Kinerja yang kuat ini diperkirakan akan terus berlanjut, dengan perkiraan yang memproyeksikan peningkatan 3% hingga 5% dalam sewa logistik utama untuk tahun 2024, karena produsen internasional terus melihat Singapura sebagai lokasi yang menarik untuk rencana ekspansi operasional luar negeri mereka,” ungkap Knight Frank yang dikutip dari Businesstime.com . 

Tetap Moderat

Knight Frank meyakini bahwa pertumbuhan sewa akan tetap moderat pada paruh kedua tahun ini. Hal ini menyorot bahwa penghuni di beberapa pasar telah mulai menjajaki opsi untuk membeli gudang daripada menyewa, guna mengurangi kenaikan sewa dan mengamankan masa sewa mereka di properti tersebut.

Tim Armstrong, Kepala Strategi dan Solusi Global di Knight Frank mengatakan dibatasi oleh prospek ekonomi yang rapuh dan kondisi operasi yang menantang, penghuni dan penyewa akan terus meneliti persyaratan ruang. 

“Para penghuni cenderung lebih cermat ketika mempertimbangkan ruang ekspansi. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi dan menyelaraskan jejak logistik secara strategis akan tetap menjadi prioritas utama," pungkas Tim. 

Sementara di kawasan Jabodetabek, pada kuartal II-2024 tingkat okupansi rata-rata gudang sewa juga mengalami penurunan tipis menjadi 86,20%, atau menunjukkan penurunan 0,10% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. 

Meski begitu, Cushman & Wakefield Indonesia memprediksi pasar akan tetap kompetitif dengan terus bertambahnya pasokan baru. Pola permintaan diperkirakan akan tetap serupa, dengan permintaan utama berasal dari sektor otomotif dan logistik yang didorong oleh aktivitas e-commerce.

“Untuk mengantisipasi persaingan pasar yang sedang berlangsung, rata-rata tarif sewa gudang sewa di wilayah Jabodetabek diperkirakan akan tetap stabil pada kisaran Rp78.000 per meter persegi per bulan,” ujar Director of Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo dalam laporannya.

Sementara itu, di kuartal II-2024 total transaksi penjualan lahan industri di Jabodetabek mencapai 182,90 hektar, yang menandai peningkatan signifikan sebesar 184,0% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh penjualan 108 hektar oleh Subang Smartpolitan kepada raksasa otomotif China. 

Dengan penjualan ini, sektor otomotif mendominasi dengan pangsa permintaan terbesar mencapai 82,60% dari total transaksi penjualan lahan industri selama kuartal tersebut, dan sisanya dikontribusi oleh sektor lain seperti data center, tekstil, dan material bangunan. (Teti Purwanti)

Teti Purwanti