Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia mengatakan meskipun ada kemunduran di awal tahun, namun kinerja hotel mulai membaik pada kuartal kedua 2024. Diperkirakan kinerja hotel akan terus menguat pada paruh kedua 2024, terutama dengan meningkatnya aktivitas bisnis.
“Acara-acara besar biasanya direncanakan jauh-jauh hari, dimana biasanya hotel menawarkan tarif khusus yang kompetitif guna menarik tamu. Praktik ini juga berlaku untuk acara kelompok, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun entitas korporat, di mana hotel memberikan harga kompetitif berdasarkan jumlah peserta,” ungkap Ferry dalam laporan terbarunya.
Selain pendapatan dari kamar, hotel juga menghasilkan pendapatan tambahan dari pelayanan lain sektor F&B dan house keeping.
Data Colliers Indonesia mengungkap pada kuartal II-2024 terjadi peningkatan signifikan pasokan hotel di Jakarta. Beberapa hotel baru mulai beroperasi, diantaranya satu hotel bintang 3, dua hotel bintang 4, dan dua hotel bintang 5 dengan pasokan masing-masing 138 kamar, 213 kamar, dan 414 kamar. Penambahan itu terjadi di Jakarta Pusat (tiga hotel) dan kawasan pusat bisnis//CBD Jakarta (dua hotel).
“Pertumbuhan pasokan hotel baru di Jakarta tidak sekencang sebelumnya, namun, kami masih melihat peningkatan yang berkelanjutan,” sebutnya.
Kinerja pasar hotel di Jakarta saat ini telah berada di kondisi yang relatif stabil. Pasca Hari Raya Idul Fitri, kinerja perhotelan melonjak 18%, setelah di kuartal IV-2023 sempat lesu. Peningkatan ini disebabkan oleh berlanjutnya kegiatan MICE dan aktivitas offline lainnya.
Pasar hotel di Surabaya, juga diproyeksi tumbuh secara bertambah pada paruh kedua tahun 2024, meski dengan prospek pertumbuhan yang tidak terlalu tinggi.
Aktivitas bisnis yang didukung oleh sektor pemerintah dan korporasi diproyeksikan akan meningkat hingga minggu kedua bulan Desember 2024.
Colliers juga memproyeksikan bahwa periode dari Juli hingga November dianggap cukup optimal untuk mengejar target tahun 2024, meskipun relatif terbatas dibandingkan dengan pasar hotel di Jakarta dan Bali.
Di kuartal II-2024. sebuah hotel bintang 5 baru menambah pasokan kamar hotel di Surabaya dengan 227 kamar. Kawasan Surabaya Pusat tetap menjadi pilihan utama karena statusnya sebagai pusat bisnis di Kota Pahlawan tersebut. Meski begitu, Surabaya Selatan dan Surabaya Barat juga berkontribusi signifikan terhadap pasokan hotel.
Pertumbuhan hotel di Surabaya tergolong moderat. Antara tahun 2019 dan semester I-2024 hanya ada 12 hotel baru yang buka dan beroperasi,
“Pasar hotel Surabaya tetap menantang, dengan sektor pemerintah masih menjadi pendorong utama, diikuti oleh pasar korporat. Tamu korporat tidak hanya berasal dari Surabaya, tetapi juga dari kawasan industri di Jawa Timur seperti Gresik dan Sidoarjo,” papar Ferry.
Lalu, bagaimana kinerja hotel di Bali yang menjadi primadona pariwisata nasional? Colliers Indonesia memproyeksikan akan terus meningkat pada paruh kedua tahun 2024. Selain liburan sekolah, beberapa kegiatan luring juga diharapkan memberikan kontribusi positif.
Lonjakan kedatangan wisatawan ke Bali telah berdampak positif pada kinerja sektor perhotelan, terutama di kawasan Nusa Dua. Acara-acara internasional berskala besar secara signifikan akan meningkatkan kinerja hotel di Pulau Dewata.
Selain itu, banyaknya acara yang diselenggarakan oleh entitas pemerintah dan korporat juga berkontribusi pada peningkatan kinerja hotel di Bali.
“Tidak hanya acara MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition), tetapi juga acara olahraga, yang menambah daya tarik Bali sebagai destinasi, semakin meningkatkan kinerja hotel,” jelas Ferry.
Dinas Pariwisata Provinsi Bali mengungkap hingga Mei 2024 kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Dewata mencapai 2.412.695 orang atau meningkat 28,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Sementara kunjungan wisatawan nusantara hingga April 2024 tercatat sebanyak 3.238.796 orang atau meningkat 11,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini salah satunya disebabkan oleh meningkatnya frekuensi penerbangan ke Bali.
Berpotensi Tumbuh
Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) bidang Perhotelan dan Perkantoran, Wahyu Sulistio memproyeksikan sektor perhotelan di tahun 2024 terutama di Jakarta, Bali dan Surabaya akan terus melanjutkan kinerja positif. Meskipun secara persentase pertumbuhan akan beragam tergantung lokasi dan segmen pasarnya. Secara umum, dia memproyeksi kinerja sektor hotel akan tumbuh sekitar 10%-15%.
“Trennya tumbuh terutama dari sisi okupansi karena aktivitas pariwisata dan bisnis sudah menggeliat kembali. Pelantikan pemerintahan baru juga membawa dampak yang positif bagi sektor properti termasuk perhotelan,” jelasnya.
Sektor MICE, karena sudah banyak kegiatan bisnis korporat akan mendominasi kinerja hotel, setelah sempat menurun frekuensinya pada saat Pemilu lalu. Wahyu berharap upaya pemerintah yang tengah menggalakkan kunjungan 14 juta wisatawan mancanegara di 2024 akan tercapai sehingga mampu mendongkrak tingkat hunian hotel.
“Hanya saja sebarannya perlu dipikirkan, akses transportasinya harus dibenahi. Transportasi ke daerah-daerah wisata harus dibuat merata, sehingga wisman dapat menyebar lebih luas agar tidak hanya terkosentrasi di daerah-daerah mainstream saja,” kata Direktur PT Metropolitan Land Tbk tersebut.
Menurutnya, pasar pariwisata nasional memiliki berkah yakni jumlah dan minat wisatawan lokal yang cukup besar termasuk untuk mengunjungi destinasi-destinasi baru yang makin banyak bermunculan. “Inilah kekuatan bisnis pariwisata termasuk perhotelan di Indonesia yang perlu dioptimalkan,” pungkasnya.(Rinaldi)