• 23 Apr, 2026

Saat banyak negara berlomba menaikkan pajak, Vietnam menjadi salah satu negara yang justru menurunkan pajak berusaha dan membuka lebar-lebar kemudahan berinvestasi. Hal tersebut berdampak besar terhadap industri di negara para “Nguyen” tersebut, tidak terkecuali bisnis properti dan perhotelan. 

Sektor perhotelan di Vietnam pada 2024 sangat positif yang didorong melonjaknya jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Diprediksi, pertumbuhan sektor perhotelan dan pariwisata di negara itu masih akan berlanjut pada tahun ini. 

Sektor perhotelan didukung oleh kebijakan visa yang menguntungkan, peningkatan infrastruktur pariwisata, dan upaya pemasaran strategis oleh pemerintah dan bisnis setempat. Reputasinya sebagai destinasi wisata yang ramah dan aman semakin memperkuat daya tarik negara berjuluk Negeri Naga Biru itu.

Pada 2024, Vietnam menyambut hampir 17,6 juta kedatangan internasional, meningkat 39,5% secara tahunan, dan akhirnya mencapai tingkat sebelum pandemi pada tahun 2019.

vietnam2.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Mauro Gasparotti, Direktur Senior dan Kepala SE Asia Hotel Advisory, Savills Hotels mengatakan tahun 2024 merupakan tahun yang kuat bagi pariwisata. Kota Ho Chi Minh dan Hanoi memimpin negara-negara ASEAN dalam pendapatan pariwisata. Destinasi pesisir utama di Vietnam seperti Nha Trang–Cam Ranh terus mengalami pertumbuhan signifikan dalam kedatangan wisatawan internasional yang meningkat hingga 125%.

Phu Quoc juga mengalami lonjakan pariwisata yang signifikan pada bulan-bulan terakhir tahun 2024, didorong oleh meningkatnya jumlah rute penerbangan internasional langsung. 

“Momentum ini diharapkan terus berlanjut, terutama karena Phu Quoc telah dipilih sebagai kota tuan rumah KTT APEC 2027,” kata Gasparotti.

Pasar perhotelan di Kota Ho Chi Minh menunjukkan pemulihan yang kuat pada tahun 2024, dengan kinerja yang solid baik dalam okupansi maupun tarif kamar. Di sisi pasokan, jumlah pembukaan hotel baru di segmen skala menengah ke atas dan atas masih sangat terbatas, padahal kedatangan wisatawan telah tumbuh hingga tingkat dua digit. Hal itu menunjukkan bahwa Kota Ho Chi Minh masih memiliki ruang untuk memperbesar pasokan lebih lanjut.

Uyen Nguyen, Kepala Konsultan di Savills Hotels menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur sedang membentuk kembali lansekap perhotelan di Kota Ho Chi Minh. Setelah Bandara Internasional Long Thanh dan koneksi metro-nya selesai dibangun, maka kota ini akan menjadi lebih mudah diakses oleh wisatawan domestik dan internasional. 

“Peningkatan konektivitas ini kemungkinan akan mendorong masa inap yang lebih lama dan peningkatan permintaan hotel di lokasi non-CBD, sekaligus memperkuat sektor pariwisata MICE ( Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions ) di kota ini,” ungkapnya.

Uyen Nguyen menambahkan, hotel-hotel di dekat stasiun metro, terutama di area komersial dan wisata utama, kemungkinan akan mengalami peningkatan permintaan untuk tarif kamar yang lebih tinggi. Akibatnya, pembangunan hotel baru mungkin akan berpusat di sekitar halte metro utama.

Sementara itu secara umum, pasar Asia masih mendominasi kunjungan utama wisatawan dunia. Korea Selatan tetap menjadi pasar sumber utama selama tiga tahun berturut-turut, menyumbang hampir 4,57 juta pengunjung. Pasar pariwisata Tiongkok juga bangkit secara signifikan, menduduki peringkat kedua dengan 3,74 juta kedatangan, atau meningkat 114,4% dari tahun ke tahun. Meski belum mampu menyamai angka kunjungan pada 2019 atau sebelum pandemi Covid-19.

Gasparotti mencatat bahwa pasar perhotelan telah menunjukkan pertumbuhan global yang luar biasa, tangguh terhadap krisis dan merupakan sektor yang sangat baik untuk investasi dan pengembangan di masa depan.

“Teknologi baru seperti AI, akan merevolusi perjalanan dengan menyederhanakan proses dan mempersonalisasi pengalaman bagi pelancong bisnis maupun rekreasi. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menilai kembali industri ini sebagai peluang investasi jangka panjang," imbuhnya.

Pasar Properti

Terkait pasar modal, Vietnam menarik minat yang kuat, terutama dari investor Asia dan kantor keluarga. Namun, jumlah transaksi masih terbatas karena kompleksitas kepemilikan, tantangan regulasi, dan proses negosiasi yang berlarut-larut.

Sedangkan untuk pasar properti, di kota-kota utama dengan lokasi utama dan konektivitas infrastruktur yang kuat semakin dicari, karena investor memprioritaskan aset dengan apresiasi nilai jangka panjang dan permintaan yang stabil. Lansekap hukum yang terus berkembang dan proyek infrastruktur yang akan datang dapat lebih membentuk tren investasi, yang berpotensi membuka peluang baru di sektor realestat.

Produk hunian bermerek, pengembangan hunian ultra-mewah, bar atap, klub pantai, resor kebugaran, dan klub keanggotaan eksklusif merupakan contoh dari perpaduan yang mulus antara realestat dan perhotelan. Konsep-konsep ini diperkirakan akan mendorong evolusi berikutnya dari industri realestat dan perhotelan Vietnam, dengan lebih banyak merek papan atas yang diharapkan akan memasuki pasar.

Vietnam memang kemungkinan akan mengalami peningkatan jumlah hunian bermerek di segmen kelas atas, sebuah tren yang unik dibandingkan dengan pasar lain. Meskipun diversifikasi ini meningkatkan penawaran bagi pembeli, namun diversifikasi ini juga menghadirkan risiko diantaranya proyek yang gagal memenuhi standar merek dapat berdampak negatif pada persepsi pembeli terhadap hunian bermerek.

Di tengah peningkatan properti di Vietnam juga timbul dampak buruk, seperti bermunculannya spekulan. Oleh karena itu, mengutip VietnamPlus, Perdana Menteri Pham Minh Chinh telah mengarahkan Kementerian Keuangan untuk mengembangkan kebijakan guna membatasi spekulasi properti dan meningkatkan pengawasan proyek konstruksi. 

Laporan menunjukkan bahwa beberapa wilayah telah mengalami kenaikan harga di luar kemampuan finansial penduduk, didorong oleh perilaku spekulatif yang mendistorsi informasi pasar. Pengembang tertentu telah memanfaatkan keterbatasan ketersediaan properti, sehingga menaikkan harga secara signifikan.

Perdana Menteri juga telah menugaskan kementerian untuk mengusulkan langkah-langkah pajak guna mengatasi masalah ini, termasuk potensi pajak atas selisih antara biaya penggunaan lahan dan harga jual. (Teti Purwanti)

Teti Purwanti