Sektor furnitur memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, dengan ekspor mencapai US$ 2,37 miliar pada tahun 2024.
Pelaku industri mebel dan kerajinan dituntut memiliki kemampuan riset dan pengembangan pasar yang mumpuni untuk bisa menembus pasar di negara tujuan. Antara lain dengan riset dan pengembangan (R&D) yang tepat sesuai selera pasar global.
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai langkah strategis untuk mengembangkan industri furnitur nasional. Salah satunya adalah memfasilitasi peningkatan pasar dan penguatan riset referensi pasar. Tahun 2024, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah memfasilitasi enam perusahaan furnitur melalui program Pengembangan Konsep Desain Industri Furnitur.

Kemenperin juga memiliki program Restrukturisasi Mesin/Peralatan Industri Pengolahan Kayu, berupa reimbursement penggantian sebagian pembelian mesin. Peremajaan mesin akan sangat membantu peningkatan produktivitas, kapasitas, dan kualitas produk furnitur.
Pengembangan R&D serta pengembangan teknologi juga berpengaruh besar terhadap kemampuan pelaku usaha menembus pasar dunia.
“Iklim di negara-negara Asia dan Afrika tentu berbeda dengan iklim di negara Amerika dan Eropa. Oleh karenanya, produk furnitur Indonesia harus bisa diproduksi sesuai dengan iklim di negara tujuan agar produknya bisa memiliki usia pakai yang panjang,” kata Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur pada pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2025 di Jakarta, baru-baru ini.

Para peserta pameran juga mengakui bahwa R&D sangat penting bagi keberhasilan usaha mereka. Andika dari Indospace mengatakan bahwa konsumen Amerika dan Australia lebih memilih produk yang tahan cuaca ekstrem, sementara konsumen Eropa lebih menyukai produk yang estetik. R&D akan sangat membantu menentukan jenis bahan baku yang perlu digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen global.
Pemanfaatan teknologi digital juga bisa membantu pelaku usaha menembus pasar global. Berbagai kanal sosial media, situs perusahaan, serta pemasaran produk melalui e-commerce akan memperluas jangkauan pasar. Laporan Statista menyebut pasar e-commerce furnitur di dunia diperkirakan mencapai lebih dari US$40 miliar pada 2030.
Para pelaku industri juga bisa memanfaatkan strategi omnichannel retailing yang menggabungkan berbagai saluran penjualan, baik online maupun offline . Mereka bisa mengunggah foto produk mereka di Instagram yang diintegrasikan dengan link ke situs perusahaan atau marketplace untuk memudahkan pelanggan membaca ulasan tentang produk mereka.
Dengan strategi ini, pelanggan dapat berinteraksi dengan pelaku industri melalui berbagai platform , seperti toko fisik, e-commerce , media sosial, aplikasi mobile , dan marketplace , dengan data yang terintegrasi di semua kanal.
Saat ini, beberapa pelaku industri terlihat sudah mulai memanfaatkan sosial media seperti Instragram untuk mempromosikan produk mereka. Peningkatan literasi digital melalui berbagai pelatihan diperlukan untuk membekali pelaku industri agar bisa membuat caption yang tepat, memanfaatkan SEO, menentukan product display , dan lain-lain untuk menarik pelanggan baik lokal maupun internasional.
Terus Berinovasi
Data Expert Market Research menyatakan nilai pasar furnitur global tahun 2024 mencapai US$660 miliar, dan diperkirakan akan terus tumbuh sebesar 4,9% pada periode 2025 hingga 2034. Penyelenggaraan pameran internasional menjadi sebuah hal yang signifikan untuk mendukung potensi pertumbuhan industri furnitur Indonesia.
Dengan pasar yang terus bertumbuh itu, Faisol Riza mengajak industri furnitur nasional untuk bisa terus berinovasi dalam hal desain, penggunaan bahan baku dan bahan baku penolong ramah lingkungan, menerapkan teknologi yang lebih efisien, dan menerapkan konsep sirkuler ekonomi.
“Dengan upaya maksimal dari seluruh pelaku industri dan dukungan dari stakeholder terkait, saya optimis kita akan bisa meningkatkan produktivitas industri furnitur, meningkatkan ekspor, dan memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri,” ujar Faisol.
Kemenperin terus mendukung pertumbuhan industri furnitur Indonesia antara lain dengan memfasilitasi ketersediaan bahan baku, memfasilitasi ketersediaan SDM, memfasilitasi peningkatan pasar dan penguatan riset referensi pasar, memfasilitasi peningkatan produktivitas, kapasitas, dan kualitas produk, serta memfasilitasi iklim usaha dan investasi.
Abdul Sobur menjelaskan bahwa industri mebel dan kerajinan adalah industri yang sangat strategis. Selain sebagai industri padat karya, industri ini juga merupakan industri berbasis kreatif yang mampu bertahan lama. Dia berharap pemerintah dapat membantu dalam hal regulasi.
“Kami berharap pemerintah bisa membantu dalam hal regulasi yang menghambat pertumbuhan industri misalnya terkait Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Agar SVLK cukup diberlakukan di hulu saja. Ini cukup menunjukkan industri mebel kita sadar akan lingkungan,” ujar Sobur.
“Di IFEX, produk dan exhibitor yang ditampilkan sudah kami kurasi sehingga kualitasnya terjamin. Produk yang hadir pada IFEX 2025 menggambarkan kemampuan pelaku industri untuk menembus pasar dunia.” jelas Daswar Marpaung, Presiden Direktur Dyandra Promosindo.

IFEX 2025 berlangsung dari 6 Maret – 9 Maret 2025 di JIExpo Kemayoran. IFEX tahun ini menarik lebih banyak pengunjung dibanding tahun lalu, dimana tercatat ada 14.507 pengunjung yang hadir pada IFEX tahun ini, atau naik dibanding tahun lalu sebanyak 13.000 pengunjung. Sementara asal negara didominasi oleh Uni Eropa di peringkat pertama diikuti oleh China, Amerika Serikat, Australia, dan India.
Produk-produk furnitur unggulan dengan berbagai macam bahan ikut serta seperti wooden, rattan, bamboo, leather, fabrics, art and craft, dan pottery .
Dengan capaian positif ini, IFEX 2026 diperkirakan akan menarik lebih banyak pembeli dan peserta pameran internasional, serta semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam pasar furnitur global. (Rinaldi)