Di awal tahun 2026, sektor properti khususnya perumahan di Pulau Batam mengalami perlambatan, terutama di segmen menengah bawah. Penurunan permintaan dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya akibat gangguan di sektor properti sebagai dampai kebijakan geopolitik.
“Sedikit melambat di segmen menengah ke bawah, karena ada beberapa industri yang pindah karena kebijakan geopolitik, sehingga menyebabkan pengurangan tenaga kerja,” ungkap Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Khusus Batam, Robinson Tan saat dihubungi.
Situasi industri yang terganggu yang mendorong pemutusan hubungan kerja (PHK) memperparah kondisi pasar properti bagi masyarakat berpenghasil rendah (MBR) di Batam yang sejak tahun lalu juga terimbas akibat penurunan daya beli masyarakat.
Selain faktor konsumen, beberapa kendala masih dihadapi pengembang di Batan terutama terkait kekurangan fasilitas dasar seperti jalan, listrik, dan jaringan air bersih. Hal ini membuat biaya pembangunan menjadi lebih tinggi bagi pengembang, sementara harga rumah bersubsidi dibatasi oleh kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, Robinson menyebut dukungan lintas sektor mutlak diperlukan agar program tersebut berjalan efektif.
Selain itu, peliknya pembebasan lahan di Batam juga menjadi catatan. Selain proses yang memakan waktu lama, dia menyebut lemahnya posisi hukum pengembang dibandingkan dengan para penghuni liar di atas lahan negara menjadi hambatan tersendiri.
Meski begitu, menurutnya, pengembang masih terus melakukan pembangunan. Apalagi pelemahan permintaan diperkirakan hanya berlangsung pada awal tahun.
“Untuk lebih pastinya, setelah triwulan pertama akan lebih jelas apa industri yang keluar dan apakah ada industri penggantinya,” kata Robinson.
Incar Milenial
Soal target pembangunan di 2026, DPD REI Batam berharap target tidak lebih rendah dari tahun lalu. Namun dia belum bisa menyebutkan secara angka pasti karena masih dikumpulkan dari para anggota.
Apalagi, saat ini REI Batam juga tengah menyusun program kerja yang selaras dengan kebijakan pemerintah agar pembangunan sektor properti berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi daerah.
Robinson juga memastikan pengembang mulai berinovasi menghadirkan produk yang lebih modern dan ramah lingkungan. Pasar juga mulai bergeser, terutama didominasi kalangan milenial.
Segmen milenial disebut memiliki potensi pasar yang besar, yakni sekitar 50%-60% dari total permintaan properti di Batam. Karena itu, REI Batam berfokus mendorong para anggotanya merancang hunian yang sesuai dengan gaya hidup, kemampuan finansial, dan kebutuhan generasi muda.
Lebih jauh, Robinson menegaskan bahwa REI Batam berkomitmen membangun ekosistem properti yang berkelanjutan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan.
Tidak heran kalau saat ini Batam menjadi salah satu pilihan terbaik di Indonesia untuk memiliki atau berinvestasi properti. Pasalnya, infrastruktur di Batam terus berkembang. Pemerintah pusat dan daerah sangat serius dalam membangun kota ini agar makin terintegrasi dan kompetitif secara regional.
Oleh karena itulah, menurutnya, harga rumah memang mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya permintaan dan biaya pembangunan. Namun harga tersebut masih sebanding dengan perkembangan infrastruktur dan potensi ekonomi daerah yang terus tumbuh pesat.
“Ke depan, warga negara asing juga akan semakin melirik Batam karena letaknya yang strategis dan infrastrukturnya yang cukup baik,” pungkas Robinson. (Teti Purwanti)