• 05 Jun, 2026

Didukung momentum sektor swasta yang kuat, investasi asing langsung yang tangguh dan reformasi pemerintah yang berwawasan ke depan, pasar industri di Vietnam diperkirakan akan mengalami pertumbuhan signifikan di tahun 2025.

Pertumbuhan tersebut diantisipasi dengan baik oleh pusat industri terutama yang telah menerapkan teknologi tinggi dan logistik yang berfokus kepada energi terbarukan dan ramah lingkungan. Meskipun peluang bertumbuh sangat besar, namun tantangan terkait ketersediaan lahan, logistik, dan transformasi digital juga perlu diantisipasi.

Mengutip Vietnam Investment Review (VIR) dilaporkan bahwa meningkatnya ketegangan pasca penerapan tarif perdagangan oleh Amerika Serikat (AS) belum banyak memengaruhi pasar kawasan industri di negara “Nguyen” tersebut. Kawasan industri menawarkan peluang investasi yang menarik termasuk bagi investor asing berkat kombinasi keunggulan strategis dan adaptasi proaktif pemerintah negara itu terhadap pergeseran ekonomi global.

Penangguhan 90 hari terakhir atas penerapan tarif 46% untuk ekspor Vietnam ke AS memberi cukup banyak peluang bagi investor. Penangguhan itu juga menjadi kesempatan bagi otoritas Vietnam untuk menegosiasi persyaratan yang lebih baik dengan AS. Selama periode ini, Vietnam dan AS sepakat untuk melakukan negosiasi perjanjian perdagangan komprehensif. 

vietnam2-1.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Pasar AS memainkan peran krusial, yang menyumbang sekitar 30% dari ekspor Vietnam. Selama periode negosiasi tersebut, Vietnam memanfaatkan secara efektif 70% pasar ekspor yang tersisa di luar AS, diantaranya beragam ekspor produk ke pasar ASEAN, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang.

“Vietnam dan negara-negara lain menavigasi tantangan ketegangan perdagangan global dan tarif untuk mengidentifikasi potensi pasar baru di luar AS. Diantaranya telah mendorong Vietnam dan Uni Eropa untuk meningkatkan hubungan kemitraan strategis,” ungkap laporan VIR.

Sebagai bagian dari ASEAN, Vietnam juga terus meningkatkan integrasi ekonomi dan perjanjian perdagangan regional di kawasan ASEAN. Dengan begitu, Vietnam dapat mengakses pasar konsumen dengan populasi sekitar 650 juta jiwa, sementara populasinya yang lebih dari 100 juta jiwa dengan kelas menengah yang terus berkembang, juga menawarkan pasar domestik yang signifikan. 

Vietnam sedang melaksanakan reformasi administrasi paling menyeluruh sejak reformasi ekonomi pada tahun 1980-an. Perubahan-perubahan itu mencakup undang-undang baru, percepatan jadwal implementasi, koordinasi pemerintah terpusat dan provinsi, serta menciptakan peluang baru yang signifikan bagi industri untuk berkembang bahkan di tengah ketegangan perdagangan dan tantangan tarif. 

Jumlah kementerian dikurangi dari 18 menjadi 14, seiring dengan pengurangan, penghapusan, dan penggabungan berbagai lembaga, departemen, dan instansi yang berafiliasi dengan pemerintah di setiap kementerian. Vietnam juga akan mengurangi jumlah provinsi dan kota dari 63 menjadi hanya 28 provinsi dan enam kota pusat dalam tahun 2025. Hal itu termasuk penghapusan total administratif tingkat distrik dan pengurangan unit administratif tingkat komune hingga 60%-70%.

Perampingan dan konsolidasi kementerian telah menciptakan badan koordinasi yang kuat, yang dapat menyelaraskan kebijakan dan menyederhanakan persetujuan untuk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) secara lebih efektif. Misalnya, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Konstruksi yang digabung dapat menyelaraskan pembangunan infrastruktur di kawasan industri. Sementara Kementerian Perencanaan dan Investasi serta Kementerian Keuangan digabung untuk mensinkronkan insentif dan pendanaan investasi.

vietnam6.jpg

“Langkah-langkah ambisius itu dilakukan Pemerintah Vietnam untuk melaksanakan perubahan-perubahan menyeluruh dalam meningkat daya saing industrinya,” sebut VIR.

Manufaktur Cerdas

Selain reformasi administrasi, Vietnam sangat berambisi untuk menarik investasi asing langsung ( foreign direct investment/ FDI) yang berbasis manufaktur cerdas atau investasi hijau yang ramah lingkungan.

Dikutip dari InCorp Vietnam, April 2025 menandai titik krusial dalam kebangkitan ekonomi Vietnam dengan melonjaknya FDI di berbagai sektor utama. Hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini, FDI yang masuk ke negara tersebut mencapai US$6,9 miliar atau naik 35,5% ( year-on-year ) sehingga semakin memperkuat daya tarik Vietnam sebagai tujuan utama modal global. 

Provinsi-provinsi terkemuka seperti Binh Duong, Bac Ninh, dan Dong Nai menarik investasi bernilai tinggi di bidang logistik, semikonduktor, dan manufaktur cerdas. Seiring dengan arus masuk keuangan ini, lanskap industri dan teknologi Vietnam berkembang pesat. Dari pabrik ramah lingkungan Lego di Binh Duong hingga inisiatif Zona Perdagangan Bebas Kota Da Nang senilai US$4 miliar dan sektor swasta Hai Phong yang berkembang pesat.

“Provinsi-provinsi ini muncul sebagai pusat inovasi, energi hijau, dan pertumbuhan digital yang cepat sekali,” ungkap InCorp Vietnam.

Menurut laporan ini, Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar dicatatkan Binh Duong yang memimpin dengan US$630 juta, naik 326%, sementara Bac Ninh dan Dong Nai menyusul dengan masing-masing US$1,44 miliar dan US$1,16 miliar. Proyeksi memperkirakan total PMA terdaftar lebih dari US$9 miliar pada akhir kuartal I-2025.

Investor utama termasuk Mapletree disebutkan telah meluncurkan kawasan logistik senilai US$100 juta di Dong Nai. Pabrik semikonduktor potensial bernilai miliaran dolar juga sedang dipertimbangkan, yang memperkuat peran Vietnam dalam rantai pasokan global. Pemerintah pun terus bergiat melakukan reformasi untuk memenuhi kebutuhan investor, terutama di bidang infrastruktur dan keandalan energi.

Vietnam sedang mempercepat transisinya menuju manufaktur cerdas, dengan investasi besar dari perusahaan Tiongkok seperti Chery dan Geely. 

Chery berinvestasi lebih dari US$800 juta untuk pabrik berkapasitas 200.000 unit per tahun di Thai Binh, sementara pabrik Geely senilai US$168 juta akan memproduksi 75.000 kendaraan per tahun, keduanya ditargetkan selesai pada tahun 2026. Jumlah produsen yang terdaftar di Tiongkok di Vietnam diperkirakan akan melebihi 350 pada akhir tahun 2025. (Rinaldi)

 

Muhammad Rinaldi