Sebagai federasi profesional realestat internasional dengan 76 chapter di seluruh dunia, FIABCI atau Federasi Realestat Dunia memainkan peran strategis dalam menjembatani kolaborasi antara sektor publik dan swasta, akademisi, serta masyarakat sipil.
Di bawah kepemimpinan Rusmin Lawin, FIABCI Asia Pasifik meneguhkan arah pembangunan menuju ekonomi hijau dan biru yang inklusif dan berdampak luas. Penegasan tersebut disampaikannya di perayaan UN World Habitat Day 2025 yang berlangsung di Hawaii, USA, pada Oktober 2022 lalu.
“Perayaan UN World Habitat Day tahun ini menjadi momentum refleksi bagi FIABCI Asia Pasifik untuk membangun masa depan perkotaan yang berkelanjutan dan manusiawi,” ungkap Presiden FIABCI Asia Pasifik, Rusmin Lawin di hadapan Wakil Gubernur Hawaii, Sylvia Luke yang hadir di kegiatan tersebut.

Tahun ini, UN World Habitat Day mengusung tema “Komunitas Tangguh, Masa Depan Berkelanjutan”, yang selaras dengan komitmen FIABCI Asia Pasifik dalam menumbuhkan keseimbangan antara inovasi, pertumbuhan ekonomi, dan tanggung jawab lingkungan.
Acara ini juga memperingati 8 tahun kolaborasi erat antara FIABCI-USA, Pemerintah Negara Bagian Hawaii, serta berbagai organisasi lokal dalam memberikan contoh bagaimana kemitraan global dan lokal dapat melahirkan perubahan nyata di lapangan.
“Kawasan Asia Pasifik adalah mosaik yang unik, perpaduan antara ekonomi yang dinamis, keragaman budaya, dan ekosistem yang rapuh,” ujar Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) bidang Hubungan Luar Negeri tersebut dalam keterangannya.
Dorong Keberlanjutan
Ke depan, FIABCI Asia Pasifik meneguhkan arah pembangunan menuju ekonomi hijau dan biru yang inklusif dan berdampak luas. Hal itu dilakukan melalui beberapa langkah strategis pengembangan ekonomi hijau.
Pertama, melalui Advokasi dan Kebijakan, dengan mendorong pemerintah dan sektor swasta mengadopsi perencanaan kota berkelanjutan dan standar bangunan hijau. Kedua, Pertukaran Pengetahuan, lewat penyelenggaraan konferensi, seminar, dan publikasi internasional untuk berbagi praktik terbaik dalam desain hemat energi dan konstruksi ramah lingkungan.
Ketiga, Jaringan Kolaboratif, yang menghubungkan para profesional lintas sektor dalam proyek infrastruktur hijau dan pengembangan kota pintar. Keempat, Standar Keberlanjutan, yakni dengan mendukung penerapan sertifikasi bangunan hijau yang diakui secara global.
Sementara itu, untuk mengembangkan ekonomi biru dilakukan sejumlah strategis. Pertama, Pembangunan Pesisir yang Bertanggung Jawab, dengan mempromosikan model pengembangan realestat dan pariwisata yang melindungi ekosistem laut. Kedua, Pengelolaan Sumber Daya Air, yakni mendorong praktik efisien dan berkelanjutan dalam penggunaan air dan energi.
Ketiga, Pariwisata Berkelanjutan, dengan mendorong keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian alam laut. Keempat, Inovasi dan Adaptasi, yakni membuka ruang dialog untuk energi laut terbarukan dan infrastruktur pesisir adaptif.
“Ketika saya tiba di Honolulu, saya membayangkan pesona pantai dan sejarah Hawaii yang mendalam. Namun yang paling membekas bukanlah lanskap tropisnya, tetapi pengalaman di Waimānalo Hui Mahi‘ai ʻĀina, yakni sebuah komunitas kecil yang berdiri di atas cinta, kerja keras, dan solidaritas yang dipimpin oleh Blanche McMillan,” ungkap Rusmin.
Komunitas ini bukan sekadar proyek perumahan, melainkan perwujudan martabat manusia. Dimana setiap hari para penghuni bahu-membahu menanam, memasak, membersihkan, dan berbagi makanan. Di sini, anak-anak, orang tua (kūpuna), dan mereka yang pernah kehilangan rumah hidup dalam harmoni dan saling mendukung.
Hui Mahi‘ai ʻĀina juga menyediakan klinik kesehatan, program sosial, serta kebun yang memberi hasil bumi bagi seluruh warga.
Data dari Point in Time Count 2024 menunjukkan 4.494 orang di Oʻahu merupakan tunawisma (tak memiliki rumah). Jumlah itu meningkat 12% dibanding tahun sebelumnya. Secara nasional, 6.389 warga Hawaii hidup tanpa tempat tinggal tetap, atau menjadi salah satu yang tertinggi di Amerika Serikat.
Dalam konteks itu, ungkap Rusmin, komunitas seperti Hui Mahi‘ai ʻĀina menjadi oase harapan dan bukti bahwa keberlanjutan sosial harus berjalan seiring dengan keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.

“FIABCI Asia Pasifik percaya bahwa keberlanjutan sejati akan lahir dari kolaborasi lintas batas antara pemerintah, pengembang, serta masyarakat. FIABCI sebagai organisasi realestat dunia tidak hanya membangun gedung, tetapi juga membangun masa depan. Karena keberlanjutan bukan sekadar konsep, melainkan komitmen moral,” jelasnya.
Melalui ekonomi hijau dan ekonomi biru, tegas Rusmin, sektor realestat dunia terutama di Asia Pasifik sedang mendefinisikan ulang tujuan pembangunan realestat dari sekadar mengejar keuntungan materi menjadi menciptakan perubahan yang bermakna bagi manusia dan permukaan bumi.
Tren Investasi
Direktur Pengembangan Promosi Kementerian Investasi/BKPM Rakhmat Yulianto mengatakan tren investasi properti di Indonesia saat ini tengah mengarah ke pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable).
“Bagaimana tren investasi ke depan? Mau tidak mau, kita harus siap untuk menciptakan produk-produk yang lebih berkelanjutan,” ungkapnya dalam sebuah forum seperti dikutip dari Antara.
Tren ini akan menjadi tantangan bagi industri properti menyusul komitmen untuk mengurangi jejak karbon secara nasional dan global. Meski begitu, tren ini juga menjadi peluang sehingga pengembang dalam menciptakan residensial atau properti baru tidak hanya harus ramah lingkungan, namun juga berkelanjutan.
“Saat ini total emisi karbon di wilayah properti masih cukup tinggi, sehingga ini menjadi pekerjaan rumah bagi para pihak terkait termasuk pengembang dan pemerintah, untuk mencari solusi pengurangan emisi karbon,” tegasnya. (Rinaldi)