Kebijakan penurunan suku bunga acuan sebesar 50 basis point (bps) menjadi 4,75%-5,0% yang dilakukan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed pada Rabu (18/9) waktu setempat, diprediksi akan berdampak positif terhadap sektor properti global, termasuk di Asia Pasifik.
Ini merupakan penurunan suku bunga pertama kalinya oleh The Fed dalam 4 tahun terakhir dan menandai berakhirnya era suku bunga tinggi, setelah sebelumnya berada di 5,25%-5,5% yang merupakan level tertinggi dalam 2 dekade.
Nick Wilson, Associate Director of Real Estate Economics at Oxford Economics memproyeksikan investasi realestat di Asia Pasifik akan meningkat usai The Fed melakukan langkah besar dengan mengendurkan bunga acuannya. Wilson memprediksi dari Mumbai hingga Sydney, properti akan tumbuh.
“Dengan pasar realestat yang mendekati akhir siklus penetapan harga ulang, imbal hasil yang lebih tinggi dan suku bunga dasar jangka menengah yang lebih rendah diperkirakan akan semakin mendukung perbaikan kondisi dan tingkat arus transaksi yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Kawasan Asia Pasifik telah mengalami peningkatan volume transaksi pada kuartal ini di tengah ekspektasi investor terhadap pelonggaran moneter, dengan jaringan transaksi realestat komersial Asia Pasifik yang telah mencapai level tertinggi dalam empat kuartal pada akhir Agustus, menurut penyedia data MSCI.
“Besarnya pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin berada di kisaran ekspektasi pasar yang lebih tinggi, sebagaimana dibuktikan oleh fakta bahwa harga saham perusahaan realestat yang terdaftar (khususnya REIT) menguat sebagai respons terhadap berita tersebut,” kata Benjamin Chow, Kepala Penelitian Real Estat untuk Asia di MSCI.
Meski begitu, menurutnya, yang lebih penting, sinyal Federal Reserve bahwa pelonggaran lebih lanjut dapat dilakukan akan memperkuat tren momentum investasi yang terus meningkat.
Sementara itu, JLL Intenasional menyebut dengan sinyalemen Fed akan menurunkan suku bunga, biaya modal yang lebih murah, peningkatan likuiditas, dan kejelasan arah kebijakan moneter akan mendongkrak investasi realestat komersial.
Pamela Ambler, Head of Asia Pacific Investor Intelligence JLL mengatakan investor akan lebih percaya diri karena didukung kebijakan moneter.
“Hal itu akan mendorong investor menggunakan modal mereka,” jelas Ambler.
Para analis juga memperingatkan bahwa pemotongan suku bunga tidak akan menjadi obat mujarab untuk semua tantangan yang dihadapi pasar properti di kawasan tersebut.
Lemahnya permintaan sewa dan pertumbuhan sewa di sektor perkantoran di Hong Kong dan Tiongkok daratan, risiko geopolitik, dan pinjaman warisan berbunga tinggi tidak mungkin diselesaikan dalam waktu dekat, sementara kondisi ekonomi AS akan terus membebani arah kebijakan di masa mendatang, menurut para ahli.
“Meskipun suku bunga kebijakan yang lebih rendah umumnya mendukung, suku bunga tersebut bukanlah solusi yang tepat untuk menyelesaikan semua tantangan di pasar real estat,” kata Wilson.
Begitu pun, pemangkasan suku bunga acuan AS oleh The Fed tampaknya gagal mengangkat pasar properti sekunder Hong Kong, karena pembeli tetap memilih berhati-hati.
Pada awal pengumuman The Fed, di Hong Kong hanya tujuh transaksi yang berhasil dilakukan selama akhir pekan dan justru terjadi penurunan sebesar 53,3% dari minggu sebelumnya. Hal ini menandai level terendah baru dalam delapan pekan berdasarkan data Centaline Property, dikutip dari scmp. com.
Sementara itu, South Horizons di Aberdeen mencatat tiga transaksi, Metro City di Po Lam mencatat satu transaksi, ada satu transaksi di Whampoa Garden dan satu transaksi di Caribbean Coast di Tung Chung.
Louis Chan Wing-kit, CEO Centaline Property Agency mengatakan penurunan suku bunga belum membuahkan hasil yang diharapkan, dan kota tersebut belum mengalami pemulihan seperti yang terjadi setelah tindakan pendinginan properti dicabut pada akhir Februari.
“Hal ini terutama disebabkan oleh lambatnya respons dari pembeli dan investor yang masih bersikap menunggu dan belum memasuki pasar. Saat ini, pasar sebagian besar didukung oleh pembeli lokal, dan karena itu belum menunjukkan perbaikan langsung," rinci dia.
Penurunan Lanjutan

The Fed diprediksi akan kembali memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) untuk kedua kalinya pada November 2024 mendatang. Hal ini didorong meredanya inflasi di Amerika Serikat (AS) yang mendekati target bank sentral sekitar 2,2%.
Melansir Reuters, banyak pengusaha di AS yakin suku bunga yang ditetapkan oleh The Fed sekarang ini masih akan turun sebesar 75 bps hingga akhir 2024.Suku bunga AS ke depan diperkirakan terus turun hingga berada di kisaran 3,00%-3,25% pada pertengahan tahun 2025.
The Fed dalam keterangannya menjelaskan pemangkasan suku bunga dilakukan dipacu oleh tingkat pengangguran AS yang melambung.
“Mengingat kemajuan dalam inflasi dan keseimbangan risiko, komite memutuskan untuk menurunkan suku bunga sebesar 50 bps,” tulis The Fed dalam website resminya.
Inflasi AS jauh melandai ke 2,5% ( year on year ) pada Agustus 2024, dari 3,7% pada Agustus 2023. Tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam sempat mencapai 4,2% pada Agustus 2023, dari 3,8% pada Agustus 2023. Angka pengangguran bahkan sempat menyentuh 4,3% pada Juli 2024 yang merupakan rekor tertinggi sejak Oktober 2021.
Chairman The Fed, Jerome Powell menegaskan pemangkasan suku bunga 50 bps mencerminkan keyakinan The Fed kalau kebijakan ini dapat membantu pasar tenaga kerja di AS dan mempertahankan inflasi tetap di 2% secara berkelanjutan.
“Target The Fed saat ini adalah mengembalikan stabilitas harga dengan menjaga tingkat pengangguran tetap terkendali,” ujar Powell dikutip dari CNBC International. (Teti Purwanti)