Kota Batam di Kepulauan Riau memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan strategis bagi pembangunan industri kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) di Indonesia. Apalagi di kota pulau yang bertetangga dengan Singapura itu, kini sudah berdiri belasan kawasan industri.
Penegasan itu dikatakan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza pada Focused Group Discussion (FGD) bertema “Potensi Penguatan Industri Elektronika dalam Rangka Pengembangan Industri AI di Indonesia” di Batam, baru-baru ini.
Menurutnya, Batam bisa menjadi salah satu kawasan pembangunan industri AI di Indonesia, karena Batam memiliki 19 kawasan industri yang sudah berkembang. Dimana beberapa perusahaan yang beroperasi telah terlibat dalam pengembangan teknologi elektronika, termasuk komponen-komponen penting yang menjadi fondasi pengembangan AI.
“Kami telah mengunjungi perusahaan sektor telematika, pemasok komponen untuk produk gadget global, serta lokasi rencana pembangunan pabrik mitra dalam rantai pasok Apple yang akan memproduksi AirTag di Batam. Itu semua bukti bahwa Batam sangat berpotensial,” ungkap Faisol.

Dirinya mengaku telah melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah perusahaan di Batam, serta melihat langsung kesiapan kawasan dan perusahaan industri di Batam dalam mendukung terwujudnya basis industri berteknologi tinggi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan, Batam telah lama menjadi garda terdepan dalam industri perangkat telekomunikasi dan jasa digital. Dia merujuk infrastruktur dan posisi Batam yang strategis dalam mendukung perannya sebagai pusat unggulan pengembangan AI nasional.
“Batam bisa jadi flagship negara dalam memproduksi perangkat dan jasa telekomunikasi. Maka penting kita untuk menyiapkan infrastruktur industri AI di sini,” ujarnya.
Nezar menekankan agar para pelaku industri manufaktur Indonesia bisa segera melakukan adopsi AI dan tidak tertinggal, sehingga daya saing Indonesia tetap terjaga. Guna mengoptimalkan adopsi teknologi terbaru tersebut, pemerintah tengah menyusun peta jalan AI nasional yang terukur dan realistis, dengan mempertimbangkan kesiapan sektor industri domestik.
Direktur IT Digital PT Telkom Indonesia, Faizal Rochmad Djoemadi menekankan pentingnya memperkuat industri vertikal terutama di sektor manufaktur, dalam konteks Batam.
“Kita harus tetap waspada terhadap risiko seperti kebocoran data privasi, tapi mari kita fokus pada potensi positif dari pengembangan industri AI ini,” tuturnya.
Diskusi ini menjadi langkah awal yang penting dalam menyatukan pandangan lintas sektor, baik pemerintah, pelaku industri, hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menjadikan Batam sebagai pusat unggulan dalam transformasi industri berbasis AI.
Pasar yang Besar
Berdasarkan analisis Kearney, pemanfaatan AI di Indonesia diprediksi berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi dengan kontribusi PDB sebesar 12% pada tahun 2030 atau sebesar USD366 miliar. Nilai ini merupakan yang terbesar secara nominal di kawasan ASEAN.

Potensi tersebut mencerminkan bahwa Indonesia memiliki pasar yang luas dan basis industri yang kuat untuk menyerap dan mengembangkan teknologi AI. Namun untuk merealisasikan potensi ini secara optimal, diperlukan percepatan dalam pembangunan infrastruktur digital, peningkatan kualitas SDM, serta regulasi yang mendukung ekosistem AI nasional.
Data Kemenperin juga mengungkap bahwa sektor industri teknologi informasi dan komunikasi ( information and communication technology /ICT) dinilai menjadi salah satu kunci pendorong pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%.
Wamenperin mengatakan, pemerintah terus mencermati negara-negara yang cukup sukses dalam pengembangan industri berbasis teknologi tinggi seperti India, Vietnam, dan Taiwan. Dalam satu dekade terakhir, India bahkan berhasil melompat jauh dalam industri ICT.
“Mereka mampu menarik investasi besar dan membangun produksi yang tangguh. Itu yang sedang kita pelajari dan adaptasi,” ujar Faisol.
Industri ICT sangat kompleks. Bahkan dalam satu unit gawai seperti ponsel, menurutnya, terdapat ribuan komponen hasil olahan industry mulai dari integrated circuit (IC), central processing unit (CPU), baterai, layar, hingga resistor, dan transistor. Semua komponen ini menjadi peluang besar bila Indonesia mampu memproduksinya secara mandiri.
“Pemerintah ingin kita tak sekadar menjadi perakit barang jadi dengan komponen impor. Kita ingin seluruh rantai produksinya berasal dari dalam negeri. Ini butuh dukungan semua pihak, termasuk pelaku industri dan kawasan industri," tegasnya.

Mengutip The Business Times, Johor (Malaysia) dan Singapura yang berdekatan dengan Batam masih menjadi pusat data ( data center ) unggulan di Asia Pasifik. Bahkan Johor siap meningkatkan kapasitas sebesar 85% melalui investasi terencana senilai USD4,7 miliar, sementara Singapura terus mendominasi transaksi skala kecil bermargin tinggi di tengah tingkat kekosongan yang hampir nol.
Johor dan Singapura berada di garis depan lonjakan permintaan pusat data di Asia-Pasifik, karena kawasan tersebut menarik investasi lintas batas yang memecahkan rekor dan membentuk kembali lanskap infrastruktur digital global, ungkap laporan Knight Frank.
Disebutkan, Johor-Singapura berhasil menarik investasi di sektor data center lintas perbatasan senilai USD15,5 miliar pada tahun 2024 atau lebih banyak dibandingkan kawasan lain di dunia. (Rinaldi)