Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sepanjang 2026 diproyeksikan masih tumbuh positif, meski dengan standar yang lebih berhati-hati. Optimisme didukung perpanjangan insentif PPN DTP, fokus perbankan di sektor konsumsi, serta target penyaluran KPR FLPP yang mencapai 285 ribu unit.
Survei Bank Indonesia (BI) menunjukkan sebagian besar pembelian hunian oleh masyarakat dilakukan melalui skema KPR. Di triwulan III-2025, pangsa pasar KPR sebesar 74,41 persen. Masyarakat memilih membeli properti residensial dengan skema KPR, karena memungkinkan cicilan terjangkau tanpa perlu dana tunai besar di awal.
Peneliti Ekonomi Digital CELIOS, Rani Septya mengatakan KPR berpotensi menjadi salah satu “mesin” penting bagi pertumbuhan sektor perbankan di tahun ini. Namun hal itu sangat tergantung kepada tiga poin penting. Pertama adalah profitabilitas bank yang sensitif pada cost of fund /margin sehingga KPR non-subsidi biasanya baru lari kencang saat suku bunga dan biaya dana turun.
Yang kedua, ujarnya, sangat tergantung kepada daya beli masyarakat (ketika daya beli melemah, kredit konsumsi termasuk KPR cenderung melambat). Dan ketiga adalah eksekusi program, kepastian kuota-anggaran, kesiapan pasokan rumah, serta kualitas developer.
“Sehingga bank cenderung fokus pada segmen yang paling bankable dan risikonya terukur,” ungkap Rani saat dihubungi.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai tantangan kredit properti terutama KPR segmen komersial (non-subsidi) bukanlah uang muka, melainkan kemampuan mencicil, beban biaya di luar harga rumah, dan keyakinan rumah tangga terhadap prospek ekonomi dan pekerjaannya.
Selama tidak ada terobosan yang lebih kuat pada aspek suku bunga kredit, biaya awal transaksi, dan desain program perumahan yang lebih terjangkau, maka Josua memprediksi perpanjangan relaksasi seperti LTV 100 persen hanya akan menjaga kredit properti tetap tumbuh moderat, bukan mengubahnya menjadi motor utama pertumbuhan kredit.
“Kebijakan yang lebih menyentuh kantong dan rasa aman masyarakat akan jauh lebih menentukan dalam menghidupkan kembali siklus perumahan secara sehat dan berkelanjutan,” sebutnya.
Hingga November 2025, KPR dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) tercatat tumbuh 6,9 persen ( year on year ) menjadi Rp834,7 triliun, dan naik tipis dari Oktober 2025 sebesar Rp830,9 triliun. Artinya, sinyal permintaan konsumen masih ada meski tidak kencang.
“Untuk 2026, dorongan KPR dan KPA masih kuat karena pemerintah telah mengalokasikan KPR FLPP hingga 350.000 unit. Selain itu skema Kredit Program Perumahan (KPP) juga berpotensi menambah permintaan pembiayaan perumahan di luar FLPP,” pungkas Rani Septya.
Optimis Tumbuh
Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi mengatakan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi membaik, maka pertumbuhan kredit juga akan ikut tumbuh.
“Kita melihat bahwa kredit perbankan mungkin tumbuh lebih baik dibandingkan 2025, tapi angkanya berkisar antara 9 persen hingga 11 persen,” ungkapnya.
Hery menjelaskan, proyeksi ini turut tecermin dari kondisi perbankan menjelang akhir tahun lalu, di mana Loan to Deposit Ratio (LDR) terus menurun yang secara industri berada pada posisi 84 persen, sehingga masih dalam rentang ideal LDR 78-92 persen.

Ketua bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani turut menuturkan proyeksi tersebut didasari membaiknya pertumbuhan kredit pada 2025 dan Dana Pihak Ketiga (DPK), meski DPK sendiri menurutnya sempat mengalami tekanan dan mulai rebond pada Agustus 2025.
“Jadi kalau kita ambil rata-rata minimal sekitar 7,6 persen sampai dengan maksimal 12 persen. Jadi rata-rata sekitar 9,68 persen ya kita ambil rata-rata dari angka prediksi dari bank-bank,” katanya.
Sebagai catatan saja, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 akan berada di kisaran 8-12 persen. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibanding proyeksi pertumbuhan kredit bank sampai akhir tahun lalu yakni 8-11 persen.
Pertumbuhan kredit perbankan juga diproyeksikan Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro yang memperkirakan pertumbuhan kredit tahun 2026 akan high single digit alias berada di kisaran 9-10 persen.
Dengan demikian, dia memperkirakan pertumbuhan kredit yang ditargetkan oleh bank sentral di 2026 akan tercapai, dengan catatan pada kuartal I dan II pemerintah perlu mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan kredit kan mengikuti juga dari pemulihan pertumbuhan ekonomi ya,” ujar Asmoro.
Dengan beragam proyeksi yang ada, Bank Tabungan Negara (BTN) mematok target pertumbuhan kredit pada 2026 di kisaran 8–10 persen. Proyeksi tersebut mencerminkan sikap kehati-hatian perusahaan dalam merespons dinamika ekonomi, sekaligus sejalan dengan estimasi pertumbuhan industri perbankan nasional.

Corporate Secretary BTN, Ramon Armando menyampaikan proyeksi tersebut telah disesuaikan dengan berbagai faktor makroekonomi yang memengaruhi sektor keuangan.
“Untuk proyeksi, kami masih di kisaran 8–10 persen,” ujar Ramon.
Dijelaskan, aarah kebijakan moneter yang cenderung lebih longgar serta stimulus fiskal pemerintah menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit di 2026. Meski demikian, BTN tetap mencermati potensi risiko eksternal yang dapat memengaruhi kinerja penyaluran pembiayaan.
“Didorong oleh arah kebijakan moneter yang lebih longgar, stimulus fiskal pemerintah, serta meningkatnya aktivitas ekonomi domestik,” pungkas Ramon. (Teti Purwanti)