Otoritas Pembangunan Kembali Perkotaan atau Urban Redevelopment Authority (URA) Singapura mengumumkan hingga kuartal II-2025 harga dan penjualan properti di Negeri Singa tersebut terus mengalami tekanan.
Aktivitas pemilihan umum di bulan April dan Mei, serta liburan sekolah pada Juni turut memengaruhi bisnis properti.
Secara kuartalan, sejalan dengan penurunan jumlah unit yang diluncurkan, volume transaksi penjualan properti di Singapura juga turun sekitar 40% di kuartal kedua tahun ini.
“Ada 4.340 rumah pribadi yang terjual pada kuartal kedua, turun dari 7.261 pada kuartal sebelumnya. Harga juga menurun 0,5%, padahal pada akhir kuartal I sempat naik 1%,” sebut URA seperti dikutip dari Straitstimes.com.
Di sisi lain, masih ada pergerakan harga beragam di seluruh wilayah Singapura. Di wilayah inti tengah, harga properti apartemen meningkat sebesar 2,3%, naik dari sebelumnya sebesar 0,8%. Di tempat lain, di wilayah tengah, harga properti non-tanah turun sebesar 1,1%, membalikkan pertumbuhan 1,7% pada kuartal sebelumnya.

Di luar wilayah tengah, harga rumah non-darat meningkat sebesar 0,9%, dibandingkan kenaikan sebelumnya sebesar 0,3%. Sedangkan untuk properti tapak, harga naik sebesar 0,7%, atau naik dari kenaikan 0,4% pada kuartal pertama.
Analis properti sebagian besar menghubungkan perlambatan pertumbuhan harga dengan sedikit peluncuran unit properti baru pada kuartal II-2025 dibandingkan dengan kuartal pertama. Kepala Eksekutif ERA Singapura, Marcus Chu menyebutkan kondisi ini disebabkan adanya periode pemilihan umum pada bulan April dan Mei, serta liburan sekolah pada bulan Juni.
Kepala Peneliti dan Analisis data di Singapore Realtors Inc., Mohan Sandrasegeran mengatakan hambatan dari tarif dagang Amerika Serikat (AS) juga menyebabkan pengembang menahan diri untuk meluncurkan proyek baru dalam beberapa bulan terakhir.
“Para pengembang kemungkinan besar menunggu ketidakpastian jangka pendek dan memposisikan diri untuk kondisi pasar yang lebih menguntungkan pada semester kedua tahun ini,” ungkapnya.
Meskipun ada ketidakpastian global, Mohan memperkirakan pasar perumahan swasta akan tetap tangguh pada paruh kedua tahun ini. Dia menghubungkan hal tersebut dengan serangkaian peluncuran proyek mendatang yang dapat memanfaatkan perbincangan seputar Rancangan Rencana Induk URA 2025, yang diluncurkan pada 25 Juni lalu.
Rencana tersebut diantaranya mencantumkan area di mana rumah dan fasilitas baru akan dikembangkan, seperti di Newton dan Paterson, yang keduanya akan diperuntukkan untuk perumahan pribadi.
Pada 24 Juni, URA juga mengumumkan bahwa 4.725 unit hunian pribadi akan diluncurkan pada paruh kedua tahun ini berdasarkan daftar yang dikonfirmasi, sehingga total pasokan yang dikonfirmasi pada 2025 menjadi hampir 10.000 unit. Mohan sepakat bahwa pertumbuhan setahun penuh kemungkinan moderat, berkisar antara 3% hingga 6%.
"Prospek ini mencerminkan keseimbangan antara ketidakpastian eksternal, permintaan lokal yang berkelanjutan, dan pasokan lahan yang terukur,” sebutnya.
Gencarkan Hunian
Dalam Rancangan Rencana Induk URA 2025, Singapura berencana membangun sekitar 80.000 unit hunian baru berupa rumah vertikal atau apartemen yang terkoneksi dengan area publik dan transportasi publik massal seperti MRT.

Mengutip Channel News Asia (CNA), pembangunan hunian vertikal baru tersebut akan berlokasi di Newton dan Orchad Road. Selain itu akan dibangun juga di kawasan Dover-Medway di sepanjang Dover Road, bekas lokasi Singapore Racecourse di Kranji, Pangkalan Udara Paya Lebar, serta di sekitar Galangan Kapal Sembawang.
Pemerintah Singapura berencana pula membangun sekitar 14.000 rumah baru di Sembawang dan Woodlands yang dimulai pada 2025 hingga 2035. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan pasokan hunian terjangkau bagi masyarakat menengah di negara kota tersebut.
“Ini merupakan bagian dari upaya kami untuk menyediakan pasokan rumah baru yang terjangkau di utara,” kata Menteri Pembangunan Nasional Singapura, Desmond Lee dikutip dari Straitstimes.com.
Proyek pertama di Sembawang North, direncanakan menyediakan 10.000 unit hunian. Sedangkan di Woodlands North Coast diproyeksikan memiliki sekitar 4.000 unit. Kedua kawasan perumahan ini akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti tempat makan, toko, taman, pusat komunitas, serta fasilitas kesehatan dan olahraga.
“Penyediaan pasokan flat yang stabil penting untuk menjaga kestabilan pasar properti,” kata Lee.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Singapura gencar membangun flat di lahan-lahan yang sudah dikembangkan negara, termasuk menggunakan lahan hijau yang belum terbangun seperti di Chencharu.
Proyek hunian di Sembawang North mencakup areal seluas 53 hektar, yang nantinya akan dilengkapi taman seluas 1 hektar dengan fasilitas bermain dan stasiun kebugaran. Taman ini sekaligus berfungsi sebagai kawasan hijau inti yang menghubungkan penduduk dari kawasan yang sudah ada di selatan Sembawang ke pengembangan waterfront di utara, yang terletak di lokasi Sembawang Shipyard.
Perumahan baru di Sembawang North ini akan menonjolkan warisan maritim kawasan tersebut dengan tema arsitektur kolonial serta elemen laut yang terintegrasi di dalam desain taman dan infrastruktur publik.
Sementara itu, Woodlands North Coast akan menjadi proyek mixed-use seluas 21 hektar dengan akses dekat ke terminal Singapura yang terkoneksi Johor Bahru-Singapore Rapid Transit System Link yang sedang dalam pembangunan.
Penduduk yang tinggal di Woodlands North akan mendapatkan manfaat dari perjalanan lintas batas yang lebih cepat dan banyak peluang kerja di dekat rumah. (Teti Purwanti)