Sepanjang paruh pertama 2025, pasar properti khususnya segmen residensial tapak di Lampung menunjukkan tren positif. Hal itu didukung data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia yang menyebutkan penjualan residensial mengalami tren bertumbuh sejak triwulan I-2025.
Survei Bank Indonesia juga menyebutkan adanya kenaikan tipis harga properti residensial di triwulan pertama tahun ini, yang menunjukkan stabilitas dan daya serap pasar yang sehat. Sementara itu, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Lampung tumbuh 5,47% secara tahunan ( year on year ) di triwulan I-2025, dengan tingkat inflasi hanya 2,12%, dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat 140 atau tertinggi dalam lima tahun terakhir.
“Sinyal-sinyal ini memperkuat kepercayaan pasar, khususnya di sektor rumah tinggal terjangkau," ungkap Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Lampung, Yuliana Gunawan yang dihubungi.
Dia pun meyakini sektor properti di Lampung akan lebih baik dibandingkan tahun lalu yang hingga akhir tahun 2024 terkontraksi -15,09% ( year on year ). Menurut Yuliana, tahun ini pasar properti khususnya hunian tapak subsidi didukung berbagai stimulus pasar seperti Program 3 Juta Rumah dan tambahan kuota FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) dari 220.000 menjadi 350.000 unit secara nasional.
Tak hanya itu, segmen rumah bersubsidi dengan skema utama pembiayaan melalui FLPP dan Tapera mendapat bantuan tambahan dari pemerintah berupa Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) yang akan membuat pasar rumah subsidi semakin bergairah di 2025.
Sedangkan untuk rumah komersial (non-subsidi), perpanjangan PPN DTP hingga Desember 2025 akan meringankan beban pembeli rumah pertama. Oleh karena itu, REI Lampung berharap PPN DTP dapat dilanjutkan untuk menggerakkan sektor residensial, khususnya rumah tinggal dengan harga di bawah Rp 2 miliar.
“Khusus di Lampung, kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Lampung sebesar 6,5% diharapkan semakin meningkatkan kemampuan mencicil rumah,” ungkapnya.
Meski tidak bisa memastikan angka pasti target realisasi DPD REI Lampung baik subsidi maupun komersial pada tahun ini, tetapi Yuliana menegaskan bahwa pihaknya akan terus menjaga ritme penjualan properti dengan kegiatan pameran ( expo ) properti, kampanye program rumah subsidi, kolaborasi dengan perbankan serta promosi terpadu produk rumah terjangkau.
Antisipasi Hambatan
Di sisi lain, Yuliana juga menyebutkan bahwa tantangan tetap ada. Dia mengatakan banyak konsumen rumah subsidi di Lampung yang terhalang skor SLIK OJK akibat riwayat pinjaman online yang berdampak pada kolektibilitas dan kelayakan mengakses KPR.
“Kami berharap ada solusi yang dapat diberikan pemerintah terkait skor SLIK OJK ini, sehingga penyerapan tambahan kuota FLPP juga lebih optimal di 2025,” ujarnya.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik global dan perang dagang juga ikut memengaruhi psikologi pasar dan keberanian masyarakat untuk melakukan pembelian properti.
Ditambah lagi, kata Yuliana, ada beberapa masalah yang secara spesifik dihadapi pengembang REI di Lampung, seperti ketidakpastian kebijakan tata ruang, termasuk kepastian lahan dan implementasi RTRW yang belum seragam di semua kabupaten/kota.
Di samping itu, fluktuasi harga bahan bangunan turut menyulitkan prediksi biaya dan perencanaan proyek. (Teti Purwanti)