Sektor pariwisata yang masih lesu di Pulau Dewata turut menekan daya beli masyarakat Bali. Akibatnya, penjualan rumah bersubsidi terganggu, meski pada awal tahun ini pengembang masih optimistis.
Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Bali, Anak Agung Ngurah Made Setiawan menyebutkan penurunan penjualan rumah FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) ini terjadi karena turunnya sektor pariwisata di Bali, sehingga memengaruhi perekonomian masyarakat.
Penurunan terutama terjadi di Singaraja yang saat ini menjadi konsentrasi pembangunan rumah bersubsidi di Bali. Selain Singaraja, perumahan FLPP di Bali berada di sejumlah kabupaten seperti Tabanan, Buleleng, hingga Jembrana.
“Hingga Juni FLPP agak menurun, begitu juga dengan komersial. Oleh karena itu kami memprediksi akan ada penurunan hingga 15% dari target tahun ini,” ungkap pria yang akrab dipanggil Ajik tersebut.
Pada awal tahun ini, DPD REI Bali menargetkan realisasi sebanyak 1.500 unit rumah subsidi. Namun dengan situasi terkini, realisasi diperkirakan hanya sekitar 1.200 unit.
Menurutnya, mayoritas masyarakat Bali masih mengandalkan sektor pariwisata, sehingga jika aktivitas pariwisata turun maka dampaknya akan melebar ke berbagai sektor, tidak terkecuali properti.
“Selain juga karena isu ekonomi dan geopolitik global, harga tanah yang terus naik, serta regulasi perizinan yang masih lama dan mahal. Itu semua menjadi tantangan yang tidak dapat dihindari di Bali,” jelas Ajik.
Dukungan Regulasi
Ajik menambahkan, meski banyak dukungan dari pemerintah pusat pada tahun ini seperti pembebasan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan percepatan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), namun diakui tidak semua kemudahan tersebut dapat dinikmati pengembang REI di Bali. Yang paling terasa dampaknya terutama bagi konsumen adalah Pajak Pertambahan Nilai yang Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
Oleh karena itu, REI Bali mengharapkan PPN DTP dapat diteruskan di tahun-tahun mendatang. Pasalnya, dengan adanya PPN DTP pengembang REI Bali bisa sedikit terbantu untuk penjualan ditambah berbagai promo dan diskon dari pengembang, sehingga mampu menarik calon konsumen.
"Kami juga memaksimalkan marketing dan kualitas demi menarik konsumen,” sebutnya.
Untuk memaksimalkan penjualan anggota REI Bali di semester kedua tahun 2025, DPD REI Bali akan melakukan pameran ( expo ) dari 12 Juli hingga 20 Juli 2025 dengan target transaksi mencapai Rp250 miliar. Expo ini merupakan pameran bisnis perumahan yang diikuti 17 pengembang anggota REI dan industri penunjang lainnya.
Dia menjelaskan ribuan unit rumah tersebut tersebar di seluruh Bali, termasuk daerah yang selama ini menjadi primadona hunian komersial seperti Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Selain proyek properti segmentasi menengah bawah yang kini berekspansi ke beberapa wilayah seperti Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Buleleng.
“Adapun target pasar pada pameran ini adalah segmentasi keluarga muda yang membutuhkan hunian,” ujar Ajik.
Di tengah tantangan dinamika ekonomi global dan nasional, dia berkeyakinan kinerja sektor properti di Pulau Dewata berpeluang tetap menarik. Selain karena merupakan kebutuhan dasar manusia, rumah dan properti masih menjadi sarana investasi bagi masyarakat. (Teti Purwanti)