Pemerintah tidak hanya fokus pada pengelolaan jangka pendek, tetapi secara konsisten mendorong program strategis jangka panjang melalui pengembangan pariwisata berkualitas. Pendekatan diarahkan pada kualitas pengalaman wisatawan, peningkatan belanja, serta penguatan posisi pariwisata Indonesia.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan arah baru sektor pariwisata nasional akan difokuskan pada pengembangan segmen unggulan seperti gastronomi, wisata bahari, wisata kesehatan ( wellness tourism ), termasuk memperluas daya tarik bagi segmen wisatawan menengah ke atas ( high-end travelers ).
“Pemerintah saat ini fokus pada pariwisata berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal di 13 destinasi utama yang terdiri atas 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 3 Destinasi Regeneratif,” ujarnya.
Di saat yang sama, ruang tetap dibuka bagi pemerintah daerah dan pelaku industri untuk memimpin pengembangan destinasi lainnya secara mandiri
Menpar menekankan kekayaan fundamental Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, keanekaragaman hayati yang luar biasa, serta lebih dari 6.100 desa wisata yang menawarkan tradisi dan kearifan lokal. Bahkan lima di antaranya telah diakui sebagai desa wisata terbaik dunia oleh UN Tourism.
Indonesia juga memiliki 12 UNESCO Global Geopark, 10 Situs Warisan Dunia, dan 16 warisan budaya takbenda yang tercatat di UNESCO.
“Hal ini menegaskan bahwa pariwisata Indonesia bukan sekadar tentang satu destinasi, melainkan sebuah ekosistem yang terbentang dalam berbagai lapisan geografi, budaya, alam, dan masyarakatnya,” kata Menteri Widiyanti.
Saat menerima kunjungan Harvard Indonesian Student Association (HISA), organisasi mahasiswa resmi Universitas Harvard, Menpar menegaskan visi pemerintah kini tidak hanya menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif guna memastikan peluang yang adil bagi seluruh masyarakat.

“Sepanjang 2025, sektor pariwisata mencatat kinerja solid. Sektor ini menjadi motor penciptaan lapangan kerja dengan menyerap 25,91 juta tenaga kerja dan ditargetkan meningkat menjadi 26,53 juta pada 2026,” paparnya.
Di 2025, pariwisata Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan, baik dari sisi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) maupun pergerakan wisatawan nusantara (wisnus). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari hingga November 2025, total kunjungan wisman mencapai 13,98 juta kunjungan. Angka ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 10,44 persen secara tahunan.
Menteri Widiyanti menjelaskan, sekitar 72 persen dari total kunjungan tersebut berasal dari negara-negara pasar utama yang menjadi fokus promosi Kementerian Pariwisata. Malaysia menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 17 persen dari total kunjungan wisman.
“Capaian ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran dan promosi yang kami jalankan berjalan efektif dan tepat sasaran,” katanya.
Dari sisi pergerakan wisatawan nusantara, Menteri Pariwisata memaparkan sepanjang Januari hingga November 2025, jumlah perjalanan wisnus telah mencapai 1,09 miliar perjalanan. Angka ini melampaui target 1,08 miliar perjalanan dan menjadi pencapaian tertinggi sepanjang sejarah pencatatan. Hal itu memperlihatkan pariwisata domestik memiliki resiliensi yang sangat kuat.
Prioritas di 2026
Di tahun 2026, Kementerian Pariwisata mengkurasi lima program unggulan, yakni penguatan keamanan pariwisata, peningkatan skala dan kualitas desa wisata, pengembangan paket wisata tematik, penguatan program Event by Indonesia, serta Tourism 5.0 melalui pemanfaatan teknologi.
Menpar menyoroti adanya sejumlah tantangan fundamental. Pertama, konektivitas. Sebagai negara kepulauan, akses udara dan laut menjadi kunci. Pemerintah mengupayakan penyesuaian harga tiket domestik agar lebih kompetitif melalui tinjauan regulasi, pemberian insentif, serta penambahan armada pesawat yang sempat berkurang pascapandemi.

Kedua, kebijakan visa. Pemerintah menyeimbangkan antara pendapatan langsung dari biaya visa dan manfaat ekonomi jangka panjang dari kebijakan bebas visa agar Indonesia tetap kompetitif di kawasan ASEAN.
Ketiga, pengelolaan lingkungan dan keamanan. Penanganan sampah di destinasi menjadi prioritas untuk menjaga citra pariwisata, sementara standar operasional prosedur (SOP) wisata alam dan bahari terus diperketat.
Keempat, manajemen pengunjung. Upaya pencegahan kepadatan berlebih dilakukan untuk melindungi lingkungan dan memastikan praktik pariwisata yang etis.
Kelima, ketersediaan tenaga kerja pariwisata bersertifikat. Pemerintah menggencarkan program upskilling tahunan guna mencetak tenaga kerja yang siap bersaing di tingkat global.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rapat Koordinasi Kepariwisataan di Jakarta, Senin (12/1) menyampaikan telah disepakati beberapa pilar utama untuk penguatan sektor pariwisata ke depan, di antaranya yaitu mengakselerasi infrastruktur dan konektivitas.
“Diantaranya dengan mendorong konektivitas antar bandara yang sudah ada dengan beberapa bandara yang baru dibuka, ditambah juga dengan mengadakan program bersama antara pemerintah pusat dan daerah khususnya di daerah destinasi prioritas,” ujarnya.
Selain itu, akan dilakukan pula penyederhanaan akses masuk dengan mengevaluasi kebijakan visa kunjungan wisman. Kemudian dilakukan transformasi tata kelola dan digitalisasi yakni dengan memperbaiki ekosistem penyelenggaraan event di berbagai daerah dalam negeri melalui perizinan terintegrasi, kemudian tentang penguatan standar keselamatan melalui asuransi pariwisata.
Sementara untuk peningkatan daya saing tenaga kerja dilakukan melalui program upskilling dengan target 400 ribu orang per tahun, serta memastikan keberlanjutan fiskal melalui pembentukan Indonesia Quality Tourism Fund (IQTF) dan pemberian insentif pajak (PPh DTP) kepada para tenaga kerja pariwisata di tahun 2025-2026. (Rinaldi)