• 21 Apr, 2026

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terus memperkuat kolaborasi untuk memacu implementasi Rumah Rendah Emisi (RRE) di Indonesia. Salah satunya dengan United Nations Environment Programme Financial Initiative (UNEP FI).

Langkah strategis tersebut dilakukan untuk mendukung program Presiden Prabowo Subianto yakni perumahan nasional dan ekonomi hijau. Adapun UNEP FI merupakan bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bidang keuangan berkelanjutan.

Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo mengatakan sektor perumahan dapat menjadi kekuatan utama dalam mencapai target net zero emission Indonesia pada 2060, sekaligus memperluas akses perumahan layak dan ramah lingkungan bagi masyarakat. BTN, lanjutnya, juga berkomitmen menjadi pelopor dan penggerak pembiayaan hijau di sektor perumahan.

"BTN berperan sebagai jembatan antara kebutuhan hunian rakyat dan agenda keberlanjutan global. Kolaborasi dengan UNEP FI ini akan mempercepat financial transition Indonesia ke ekonomi hijau dari perumahan," ujarnya di sela acara UNEP FI Regional Roundtable on Sustainable Finance Asia Pacific di Suzhou, Jumat (20/6).

btn3-1.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

BTN menargetkan pembangunan 10.000 unit rumah rendah emisi pada 2025. Target tersebut merupakan bagian target dari roadmap 150.000 unit rumah rendah emisi hingga 2029.

Rumah rendah emisi merupakan hunian dengan minimal 15% material ramah lingkungan. Pada 2029 nanti, penggunaan material ramah lingkungan pada rumah rendah emisi ditargetkan naik menjadi 30%. Dengan implementasi tersebut, jika target 150.000 unit tercapai, maka diperkirakan akan terjadi pengurangan 2,2 juta kilogram limbah plastik dan 2.425 ton emisi karbon atau setara menanam 110.000 pohon.

“Inisiatif ini bukan hanya soal rumah, tapi soal masa depan bumi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan,” tegasnya.

Menurut Setiyo, perubahan iklim memiliki dampak bagi pertumbuhan ekonomi karena berpengaruh pada rantai pasok pangan dan menjalar ke sektor lainnya. Sehingga, BTN sebagai enabler ekonomi juga berupaya mendukung pembangunan rumah rendah emisi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Hingga akhir 2024, BTN telah menggandeng 8 pengembang yang mulai menerapkan 10% material ramah lingkungan dalam pembangunan 1.367 unit rumah. Bank fokus perumahan itu juga akan mempertemukan pelaku UMKM produsen material ramah lingkungan dengan para mitra pengembang perumahan.

Penyaluran Kredit 

Di kuartal I-2025, kinerja BTN ditopang penyaluran kredit dan pembiayaan yang konsisten dan penurunan biaya dana ( cost of fund ). BTN membukukan laba bersih sebesar Rp904 miliar pada tiga bulan pertama tahun 2025, bertumbuh 5,1% secara tahunan ( year-on-year /yoy) dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp860 miliar. Peningkatan laba bersih tersebut ditopang oleh penyaluran kredit dan pembiayaan yang bertumbuh secara konsisten serta fundamental keuangan yang terjaga.

“BTN tetap menjalankan strateginya secara konsisten di tengah persaingan likuiditas dan biaya dana yang masih mahal, sehingga perseroan mampu mencetak kinerja yang positif pada tiga bulan pertama tahun 2025. BTN mencatat peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan, terutama terkait sektor perumahan, dengan didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang tetap stabil dan program pemerintah untuk pembangunan rumah nasional,” ujar Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu.

Penyaluran kredit dan pembiayaan BTN mencapai Rp363,11 triliun hingga kuartal I-2025, ditopang oleh meningkatnya permintaan kredit di sektor perumahan. Penyaluran kredit dan pembiayaan tersebut naik 5,5% (yoy) dibandingkan kuartal I-2024 yang sebesar Rp344,24 triliun.

Penyaluran kredit dan pembiayaan BTN pada kuartal I-2025 terutama didorong oleh bisnis kredit pemilikan rumah (KPR) baik subsidi maupun non-subsidi, sejalan dengan terus meningkatnya permintaan hunian. 

Nixon mengatakan, BTN optimistis dengan potensi pertumbuhan kredit pada tahun 2025 seiring dengan upaya pemerintah menggerakkan perekonomian dan mengurangi backlog perumahan.

Tidak hanya di sisi penyaluran kredit, BTN turut mencatat peningkatan dana pihak ketiga (DPK) menjadi sebesar Rp384,70 triliun per kuartal I-2025, naik 7,5% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp357,74 triliun. Pertumbuhan DPK tersebut didukung oleh peningkatan dana murah berupa tabungan dan giro ( current account saving account /CASA). 

Pertumbuhan DPK BTN ditopang oleh perolehan dana murah ritel dan institusi menengah, termasuk dari digital channel . “Inisiatif BTN meluncurkan Super App Bale by BTN serta Bale Korpora pada awal tahun ini telah berbuah hasil yang positif, sehingga kami optimistis digital channel akan menjadi mesin andalan untuk menggerakkan pendanaan perseroan secara jangka panjang,” ujar Nixon. (Rinaldi)

 

Muhammad Rinaldi