• 05 Jun, 2026

Sektor hunian atau living sector masih menjadi andalan yang mendorong pertumbuhan properti nasional dalam beberapa tahun terakhir terutama saat pandemi Covid-19 melanda. Tumbuhnya konsep co-living (hunian komunal ramah lingkungan) di area perkotaan menjadikan investasi hunian makin menarik.

Ragam kebutuhan hunian menjadi penggerak transaksi, mulai dari hunian untuk kelompok menengah, asrama atau hunian di sekitar perguruan tinggi. Konsep hunian yang mengusung co-living diperkirakan akan terus tumbuh positif di tahun ini meski di tengah pelemahan daya beli masyarakat.

Director ESG Knight Frank Asia-Pacific dan Singapore Jackie Cheung mengungkapkan sektor hunian yang mengusung konsep co-living akan mempengaruhi pengembangan properti di masa mendatang. Menurutnya, green property atau bangunan ramah lingkungan juga akan menjadi pusat perhatian penting dalam pengembangan realestat di Asia Pasifik.

Green property akan menjadi pusat perhatian dalam pengembangan realestat seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya prinsip-prinsip ESG,” ungkapnya.

Hal senada diungkap Rahmat Daresa Alam, Head of Project Management Colliers Indonesia. Dia menyebutkan prinsip-prinsip berkelanjutan dalam pengembangan realestat saat ini menjadi semakin penting. Kerangka peraturan untuk konstruksi berkelanjutan di Indonesia cukup kuat, sehingga mengharuskan pengembang dan penghuni untuk menavigasi kebijakan properti berkelanjutan sejak pada tahap perencanaan. 

Selain persyaratan regulasi, ungkapnya, ada permintaan pasar yang meningkat untuk solusi realestat berkelanjutan termasuk di segmen hunian. Mengadopsi green certification adalah salah satu upaya pengembang agar selaras dengan tren keberlanjutan, sekaligus menjadi pembeda dengan proyek properti lain yang ditawarkan.

green3-3.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Berdasarkan pengamatan Colliers Indonesia, distribusi sertifikasi hijau yang terbatas pada bangunan komersial memberikan peluang bagi pengembang dan penghuni untuk mengadopsi praktik desain berkelanjutan seiring meningkatnya permintaan untuk perusahaan yang ramah lingkungan.

“Di tengah pasar yang semakin kompetitif, pengembang yang secara efektif mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam proyek mereka, tidak hanya akan memenuhi standar regulasi saja, tetapi juga menarik segmen yang lebih besar para konsumen yang memprioritaskan gaya hidup peduli lingkungan,” kata Rahmat Daresa.

Ditambahkan, daya tarik keberlanjutan dan desain ramah lingkungan akan meningkat dengan adanya dukungan konkret dari pemerintah seperti pengurangan pajak. Jika pengembang yang membangun gedung atau penghuni melakukan fit-out  dengan konsep co-living ini menerima insentif pajak, maka dapat menarik lebih banyak developer untuk mengadopsi konstruksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Menurut Rahmat Daresa, penerapan strategi desain berkelanjutan membantu meminimalkan dampak lingkungan dari sebuah bangunan, yang juga disertai dengan memberikan manfaat signifikan bagi pengembang serta penghuni. 

Beberapa fitur desain yang dapat berdampak positif pada semangat keberlanjutan antara lain berkaitan dengan efisiensi energi, konservasi dan pengelolaan air, bahan konstruksi, pengelolaan air hujan, kualitas lingkungan dalam ruangan, keterlibatan dan pendidikan komunitas, serta sertifikasi keberlanjutan.

“Alhasil, desain berkelanjutan memberikan manfaat yang substansial bagi pengembang dan juga penghuni, menjadi sebuah investasi yang bijaksana terkait dengan dampak lingkungan serta kinerja finansial yang bersifat jangka panjang,” sebutnya.

VP of Market Research & Product Strategy Sinar Mas Land, Dwi Novita Yeni menyebutkan, saat ini dari sisi pasar yang paling banyak menuntut konsep hunian co-living adalah kelas menengah atas. Hal itu karena dalam pembuatan rumah ramah lingkungan membutuhkan teknologi yang baru dan biayanya cukup mahal, sehingga harga rumah lebih cocok untuk segmen kelas menengah ke atas.

“Produk ini memang memberikan benefit jangka panjang, baik kepada pemilik maupun lingkungan secara umum. Tetapi kami sedang mengkaji untuk menyiapkan produk hunian ramah lingkungan yang menyasar segmen kelas menengah,” katanya.

Dinamika Pasar

Head Research Department Colliers Indonesia, Ferry Salanto menambahkan pertumbuhan properti di tahun 2025 akan diwarnai oleh tren-tren baru yang beradaptasi dengan dinamika pasar terutama hunian berbasis green living , kawasan mixed-use , kawasan industri berbasis data center, serta properti logistik yang terus berkembang. 

“Kebijakan fiskal dan moneter pada 2025 juga akan berpengaruh signifikan terhadap industri properti,” ungkapnya. 

Ferry memberi contoh keputusan pemerintah yang kembali melanjutkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah tapak dan apartemen siap huni ( ready stock ) hingga 31 Desember 2025 akan menjadi salah satu pendorong utama yang menjaga sektor properti tetap bertumbuh.

green2-3.jpg

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya juga berkeyakinan sektor properti akan mencatatkan kinerja positif pada 2025. Salah satu faktor pendorong adalah kencenderungan aktifnya transaksi pembelian properti sejak tahun lalu. Proyeksi transaksi properti diperkirakan akan lebih aktif mulai semester II-2025.

“Penting bagi pelaku pasar untuk terus mengembangkan strategi yang adaptif agar tetap relevan dalam menghadapi perubahan tren kebutuhan properti di masyarakat,” sebutnya. (Teti Purwanti)

 

Teti Purwanti