Sektor properti diproyeksi memiliki ruang pertumbuhan yang kuat di semester II-2025. Sejumlah stimulus positif turut mendukung seperti penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, insentif pajak yang berlanjut hingga penyerapan rumah tapak yang masih terjaga baik.
Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% pada Mei lalu. Diperkirakan penurunan bunga acuan akan kembali dilakukan hingga akhir 2025 dengan catatan inflasi terkendali. Sayangnya, penurunan bunga acuan bank sentral tidak diikuti penurunan suku bunga kredit bank, padahal daya beli masyarakat termasuk segmen menengah saat ini sedang lemah.
Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI), Joko Suranto berpendapat jika melihat realisasi penjualan hunian yang positif di paruh pertama tahun ini, dia mengaku optimis sektor properti akan tetap tumbuh di semester II-2025 terutama di segmen residensial. Dengan masih adanya insentif fiskal PPN DTP sebesar 50% dari Juni-Desember 2025, diharapkan mampu menguatkan penjualan hunian.
“REI telah mendorong agar PPN DTP sebesar 100% ditanggung pemerintah dapat tetap berlaku, tetapi kami masih menunggu informasi terbaru. Setidaknya masih ada diskon 50% dan biasanya ditambah diskon dari pengembang, sehingga ini dapat membantu daya beli,” ujar CEO Buana Kassiti Group itu.
Di sisi lain, merujuk data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) nilai investasi sektor properti masih tumbuh 17% di kuartal I-2025. Artinya banyak kawasan yang sedang akan dikembangkan dan berproses dijual pada semester kedua nanti. Menurut Joko, banyak proyek properti baru biasanya dapat menstimulus pasar untuk lebih bersemangat.

Lebih dari itu, jika mencermati kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang sangat pro-ekonomi sekali dan mengena langsung kepada rakyat, termasuk program pembangunan 3 juta rumah diharap bisa cepat berjalan.
“Kami mendengar ada pengalihan kredit usaha rakyat (KUR) untuk perumahan, apakah itu 50% atau 100% yang jelas sangat positif sekali untuk membiayai pembangunan perumahan di desa dan pesisir,” kata Joko Suranto.
Optimisme pelaku usaha, diharapkan juga menjadi sentimen positif bagi kinerja emiten properti di paruh kedua tahun ini.
Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan menilai sektor properti terutama penjualan rumah berpotensi tumbuh di semester II-2025 seiring ruang penurunan bunga acuan BI. Dia memprediksi bunga acuan akan turun lagi pada kisaran 25–50 bps hingga akhir 2025, seiring makroekonomi Indonesia yang relatif solid dan tingkat inflasi yang masih sesuai asumsi.
“Emiten properti dengan portofolio dominan di segmen rumah menengah memperlihatkan kinerja yang relatif tangguh,” ujar Valdy dalam risetnya.
Head of Indonesia Research and Strategy J.P.Morgan, Henry Wibowo mengatakan capaian mayoritas emiten properti di kuartal I dan semester I-2025 relatif bagus. Meski di tengah latar belakang makroekonomi yang menantang.
Henry optimistis di termin kedua 2025 bakal menjadi momentum penguatan bagi emiten properti. “Awal dari siklus pemotongan suku bunga bisa menjadi titik balik bagi sektor ini,” kata Henry.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan berpandangan bahwa penguatan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ekspektasi penurunan bunga acuan (BI Rate) berpotensi memberikan dorongan positif bagi sektor properti.
“Penurunan suku bunga tentu menurunkan biaya pinjaman dan meningkatkan aksesibilitas ke KPR yang pada akhirnya mendorong daya beli masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, dukungan kebijakan dari pemerintah seperti insentif PPN DTP menjadi katalis tambahan yang mampu memperkuat sektor properti dalam jangka pendek hingga menengah.
“Sejak awal April 2025, rata-rata saham properti mulai memperlihatkan peningkatan di atas 20%,” jelas Ekky.
Ada Tantangan
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, meskipun penurunan BI Rate secara teori berdampak positif bagi sektor properti, namun kondisi di lapangan belum sepenuhnya sesuai harapan.
“Investor melihat penurunan BI Rate ini belum tentu langsung menurunkan bunga KPR, karena kondisi likuiditas bank masih ketat,” katanya.
Di sisi lain, dia melihat adanya kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan potensi arus keluar dana asing turut membayangi sentimen pelaku pasar.
Sementara itu, pertikaian antara Iran dan Israel yang semakin memanas juga menjadi kekhawatiran yang dapat menganggu akselerasi sektor properti.
Wakil Ketua Umum DPP REI, Bambang Ekajaya mengatakan jika terjadi kenaikan bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik tersebut terlebih dengan rencana penutupan Selat Hormuz, maka harga BBM di banyak negara termasuk Indonesia akan melonjak.

“Kalau benar terjadi, otomatis terjadi kenaikan biaya transportasi dan biasanya diikuti naiknya harga bahan material. Banyak material konstruksi itu masih impor seperti besi, biaya angkutannya pasti juga naik. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi sektor properti,” ungkapnya.
Kinerja Emiten Properti
Di kuartal I-2025, kinerja emiten properti menunjukkan hasil beragam. Beberapa marketing sales (pra-penjualan) emiten mengalami penurunan, namun mayoritas lain berhasil mencatat pertumbuhan positif. Secara umum, kinerja sektor properti di kuartal pertama tahun ini masih di bawah ekspektasi beberapa analis
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) di tiga bulan pertama 2025 mencatat kinerja gemilang. Emiten ini membukukan marketing sales sebesar Rp2,43 triliun atau setara 24% dari target tahun ini.

“Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan 9% dibandingkan capaian kuartal pertama tahun lalu sebesar Rp2,22 triliun,” ujar Direktur BSDE, Hermawan Wijaya.
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) juga mencatatkan pencapaian marketing sales hampir mencapai Rp900 miliar di kuartal I-2025. Pencapaian ini tercatat masih sejalan dengan target yang telah ditetapkan perusahaan.
Direktur SMRA, Lydia Tjio menyebutkan meski situasi pasar properti masih dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi, namun pencapaian marketing sales tersebut mencerminkan daya tarik produk-produk SMRA di pasar properti.
“Kami melihat pencapaian ini cukup positif, dan sejalan dengan target yang telah ditetapkan perusahaan untuk tahun 2025,” sebutnya. (Rinaldi/Teti)