• 21 Apr, 2026

Terpilih dan dilantiknya kembali Presiden Donald Trump dan berbagai kebijakannya yang tidak biasa membuat banyak spekulasi terhadap sektor ekonomi termasuk pasar properti, bukan hanya di Amerika Serikat (AS) tetapi juga di berbagai kawasan di dunia. 

Yang menambah ketidakpastian adalah fakta bahwa terdapat perbedaan signifikan antara dan di dalam pasar maju dan berkembang di Asia dan faktor-faktor lain seperti fundamental properti, kebijakan pemerintah, dan keistimewaan pasar, yang  memiliki pengaruh kuat pada kinerja sektor tersebut.

Berbagai skenario yang masuk akal mencuat. Konsultan properti JLL dalam laporan triwulanan terbarunya tentang pasar investasi properti komersial Asia menyebutkan bahwa tahun ini rasa takut ketinggalan akan mengalahkan rasa takut membuat kesalahan. Hal itu didasarkan kepada dinamika penawaran dan permintaan yang menguntungkan di banyak pasar menciptakan peluang investasi yang menarik.

Di AS, sektor properti diprediksi akan terjadi peningkatan usai "pembekuan" selama beberapa tahun terakhir. Salah satu katalis utama meningkatnya sektor realestat di AS adalah penurunan suku bunga. 

Sayangnya, mengutip CNBC Internasional, hal itu mungkin tidak akan terwujud, setidaknya dalam waktu dekat di bawah kepemimpinan Trump. Terutama jika kebijakan seperti tarif, pemotongan pajak, dan deportasi massal memicu inflasi. 

global1.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Federal Reserve (The FED) mungkin harus mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama dari yang diantisipasi, yang kemungkinan akan menopang suku bunga hipotek dan membebani sektor perumahan dan sektor terkait, kata laporan JLL. Tingkah laku pasar perumahan juga memengaruhi pengecer, seperti toko perlengkapan rumah mungkin tidak berjalan baik kalau orang tidak membeli, merenovasi, atau mendekorasi rumah baru. 

Meski begitu, deregulasi bisa menjadi sangat besar bagi sektor ini jika mempercepat jadwal pembangunan dan mengurangi biaya bagi pengembang. Pasalnya, Trump telah menyerukan pembukaan lahan publik bagi para pembangun dan menciptakan insentif pajak bagi para pembeli rumah, tanpa memberikan banyak rincian.

“Kebijakan perumahan akan menjadi salah satu inisiatif yang paling banyak diperhatikan dari pemerintahan baru ini,” sebut JLL.

Dampak Global

Lalu bagaimana dampak kebijakan Presiden Trumph terhadap pasar properti secara global? 

Di Kawasan Asia, Thailand diproyeksikan menjadi negara yang diuntungkan karena masalah perang dagang China dan AS. Para ahli memprediksi kebijakan Trump akan mendorong perusahaan asing untuk memindahkan basis manufaktur mereka ke ASEAN dan Thailand untuk menghindari tembok tarif dan meningkatkan penjualan tanah di sektor industri tahun depan, demikian proyeksi JLL Thailand.

Kebijakan tersebut, ditambah dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di beberapa bagian dunia, akan mengarahkan produsen asing ke tujuan berpotensi tinggi seperti EEC (Koridor Ekonomi Timur) Thailand, kata Michael Glancy , Direktur Pelaksana JLL untuk Thailand dan Indonesia, baru-baru ini.

“Sektor realestat di Thailand tengah diawasi ketat dan telah menjadi area yang dilirik para pemain global untuk berinvestasi. Dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik, Thailand dianggap sebagai tujuan yang menarik bagi investor asing," katanya.

Anawin Chiamprasert , Kepala Penelitian & Konsultasi di JLL, menambahkan bahwa kebijakan Trump akan membuat Thailand lebih menarik di kalangan investor yang ingin mendirikan gudang dan pusat data di kawasan ASEAN untuk melayani pasar negara berkembang.

Permintaan untuk layanan pusat data akan terus tumbuh, menempatkan Thailand sebagai pusat digital yang potensial, didukung oleh kebijakan pemerintah seperti Kebijakan Cloud First dan insentif investasi jangka panjang dari Dewan Investasi, katanya. 

Anawin mengatakan bahwa sektor properti Thailand tahun ini telah tertekan oleh beberapa faktor, termasuk ekonomi yang stagnan, meningkatnya utang rumah tangga, dan tingginya tingkat penolakan pinjaman perumahan.

Akan tetapi, meski dia meyakini akan ada penurunan suku bunga kebijakan lagi di awal 2025 yang dengan demikian meredakan tekanan tersebut, daya beli tidak akan serta merta pulih.

JLL mencatat bahwa tren tersebut akan mengubah permintaan di bidang realestat pada tahun ini, terutama di sektor properti perumahan yang mendorong nasabah untuk beralih dari membeli ke menyewa guna menghindari kerumitan dalam mengajukan pinjaman.

Anawin mengharapkan pertumbuhan hingga 40% di pasar kondominium sewa di zona dalam Kota Bangkok di 2025. 

"Faktor lain yang akan semakin mendongkrak pasar kondominium adalah warga asing yang ingin membeli rumah kedua di Thailand, terutama sekarang karena mereka dapat membeli hingga 49% dari unit yang tersedia,” katanya. 

Di antara lokasi yang populer untuk segmen ini adalah Bangkok, Phuket, dan Pattaya. (Teti Purwanti)

 

 

 

Teti Purwanti