• 21 Apr, 2026

Sektor industri dan logistik menjadi salah satu subsektor properti yang memiliki potensi bertumbuh tinggi dan dinilai memiliki risiko yang minim. Kondisi itu karena kawasan-kawasan industri di Indonesia terutama di Pulau Jawa menjadi yang paling diincar di regional Asia Pasifik.

Riset yang dilakukan Knight Frank Indonesia menyebutkan, saat ini kawasan industri di Greater Jakarta dan Subang menjadi submarket paling potensial dengan sektor auto-related sebagai prime mover terutama yang terkait dengan pengembangan produksi EV ( electric vehicle ) dan berbagai industri turunannya. Performa subsektor industri terhitung mencatatkan yang terbaik sejak pandemi melanda

Sementara untuk sektor data center yang sejak tahun 2021 terdeteksi aktif menyerap lahan industri di Greater Jakarta, mulai akhir tahun 2024 terpantau tidak lagi menjadi occupier  utama, dengan total serapan lahan yang tidak setinggi dua tahun sebelumnya.

“Performa subsektor industri cukup baik, sehingga tidak mengherankan jika beberapa kawasan industri di Jabodetabek berencana membuka tambahan pasokan lahan untuk memenuhi permintaan para industrialist ,” ungkap Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat dalam paparan risetnya, baru-baru ini.

kawasan-industri5.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Dia menambahkan, penambahan pasokan lahan itu membuktikan bahwa kawasan industri di dalam negeri cukup diminati, bahkan selama pandemi. Pasar industri Indonesia sangat diperhitungkan di ranah global dan regional. Hal ini menjadi peluang hebat yang harus ditangkap pengembang atau pengelola kawasan industri nasional.

Menurut Sari (demikian dia akrab disapa), Indonesia memiliki pasar yang besar dengan bonus demografi penduduk yang mayoritas didominasi kelompok muda yang sangat dibutuhkan sektor industri. Selain itu, Upah Minimum Regional (UMR) di Indonesia relatif kompetitif dibandingkan negara lain di regional Asia, serta ketersediaan bahan baku yang melimpah.

“Sehingga saya pikir wajar ketika Indonesia menjadi salah satu yang menarik bagi pabrikan global termasuk asal Tiongkok. Oportunity itu harus ditangkap pemerintah dengan menyiapkan berbagai regulasi yang mendukung sehingga terjadi efisien bagi aktivitas manufaktur,” harapnya.

Frank Tumewa, General Manager Knight Frank Indonesia menambahkan, Indonesia mempunyai peluang besar untuk menangkap relokasi pabrik dari Tiongkok, menyusul perang tarif impor antara negara tersebut dengan Amerika Serikat. 

Selain biaya tenaga kerja Indonesia paling kompetitif, situasi politik dan keamanannya juga sangat kondusif. Letak Indonesia dinilai paling strategis untuk mendukung akses ke pasar ASEAN dan Asia baik ekspor maupun impor. 

“Relokasi pabrikan Tiongkok mungkin tidak hanya ke Batam, tetapi juga ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kami memantau banyak permintaan masuk dari pabrikan asal Tiongkok yang ingin merelokasi pabriknya ke Indonesia,” ungkapnya.

Knight Frank Indonesia mengungkapkan di semester II-2024 total stok kawasan industri di Greater Jakarta dan sekitarnya bertambah menjadi 15.729 hektar. Dengan total serapan lahan di semester kedua tahun lalu sekitar 77 hektar, dimana Subang, Bekasi dan Karawang masih menjadi submarket paling potensial.

“Harga masih stabil, namun cenderung mulai meningkat terutama di beberapa kawasan yang memiliki daya kompetisi yang relatif lebih tinggi, seperti di koridor timur Jakarta,” ungkap riset tersebut.

Tahun 2024 menjadi performa terbaik dalam 5 tahun terakhir, melalui catatan permintaan lahan berkisar 312 hektar. 

Ekspansi Berlanjut 

Sementara itu, Colliers Indonesia mengungkap adanya angka penjualan lahan industri yang luar biasa di tahun 2024, yang memperlihatkan sektor industri berada di jalur yang tepat dan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.

Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia mengatakan pihaknya  memprediksi sektor ini akan terus berkembang di masa depan, terutama jika didukung oleh pondasi ekonomi yang kuat, pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) yang sejalan dengan target pemerintah, serta lingkungan politik dan keamanan yang stabil.

“Namun untuk mempertahankan daya saing dengan negara-negara  tetangga dan menarik lebih banyak investasi asing, pemerintah daerah harus secara konsisten meningkatkan tata kelola keamanan di dalam zona industri,” ujarnya. 

Diakui Ferry, gangguan keamanan di area industri sering kali menjadi penghalang bagi investor yang mempertimbangkan alokasi modal di Indonesia. Oleh karena itu, lingkungan industri yang aman dan kondusif harus dianggap sebagai prioritas utama.

riset-maret.jpg

Colliers memperkirakan bahwa penyerapan lahan industri di masa depan akan terus didominasi oleh industri berbasis teknologi, seperti pusat data dan manufaktur kendaraan listrik. Selain sektor kendaraan listrik, industri otomotif konvensional tetap aktif, dengan total transaksi sekitar 30,37 hektar di enam kawasan industri.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, penjualan dan aktivitas sewa-menyewa lahan industri di kawasan Greater Jakarta mencatat rekor tertinggi. Pada tahun 2024, total transaksi mencapai 427,06 hektar, hampir menyamai pencapaian tahun 2014. 

“Jika dibandingkan dengan total transaksi tahun 2023, terjadi kenaikan hampir dua kali lipat,” pungkasnya. 

Tren pertumbuhan ini diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. (Rinaldi)

 

Muhammad Rinaldi