• 15 Apr, 2026

Investasi Properti Masih Primadona

Investasi Properti Masih Primadona

Sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran tetap berada di peringkat lima besar sebagai kontributor investasi paling primadona. 

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, atau 101,3 persen dari target Rp1.905,6 triliun. Secara tahunan, total realisasi investasi nasional di 2025 tumbuh sekitar 12,7 persen ( year on year ).

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani mengatakan dalam ketidakpastian ekonomi global, capaian ini menegaskan ketahanan iklim investasi nasional sekaligus memperkuat peran investasi sebagai motor pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. 

“Tahun 2025 bukanlah tahun yang mudah karena ekonomi global masih diwarnai ketidakpastian, mulai dari pelambatan ekonomi dunia, ketegangan geopolitik, hingga fragmentasi perdagangan internasional. Alhamdulillah target investasi tahun 2025 tercapai dan bahkan melebihi target,” ungkapnya dalam keterangan pers.

laput-1c-2.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Dilihat berdasarkan sektor-sektor investasi, Rosan menilai masih cukup konsisten. Realisasi terbesar masih investasi di industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan turunannya, disusul oleh transportasi, gudang dan telekomunikasi. Selanjutnya investasi pertambangan, kemudian jasa lainnya, serta di peringkat kelima secara konsisten di tempati sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran senilai Rp140,4 triliun atau 7,3 persen.

Rosan memproyeksi sektor properti yang meliputi perumahan, kawasan industri dan perkantoran tetap akan menjadi primadona bagi realisasi investasi nasional di 2026.

“Kami melihat perumahan dan kawasan industri ini terutama, akan meningkat cukup signifikan,” ungkap Rosan dikutip dari IDN Financials.

Menurutnya, pipeline atau antrean investasi yang masuk ke sektor properti saat ini sudah cukup besar, baik investasi dari dalam maupun luar negeri. Bahkan, di tahun 2026 diproyeksikan pipeline -nya akan meningkat cukup signifikan.

rosan-roeslani1.jpg

Meski tidak menyebutkan berapa besar antrean investasi di sektor properti, namun Rosan yakin hasilnya mampu mengerek posisi sektor ini ke peringkat pertama, sebagai sektor dengan realisasi investasi tertinggi.

“Salah satu pendorong investasi di sektor properti adalah program Presiden Prabowo Subianto untuk membangun 3 juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” ujar Rosan.

Momentum Bangkit

Pakar properti, Panangian Simanungkalit memprediksi pasar properti nasional berpotensi bangkit di 2026, seiring munculnya tanda-tanda pemulihan ekonomi sejak kuartal IV-2025. Menurutnya, pemulihan ekonomi menjadi momentum untuk mendorong program 3 juta rumah.

“Sektor properti selalu mengikuti pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.

Menurutnya, industri properti melemah dalam beberapa tahun terakhir karena pertumbuhan ekonomi periode 2014-2024 hanya berkisar 4 persen, terutama akibat pandemi Covid-19. Namun, di kuartal IV-2025 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,45 persen.

laput-1b-7.jpg

Sementara di 2026, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, sementara Bank Indonesia (BI) memperkirakan di kisaran 5,1-5,6 persen. 

“Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa titik terendah pertumbuhan telah terlewati. Dengan begitu, pemerintah tinggal memelihara ekonomi agar terus naik. Jadi tinggal kebijakan dan stimulus apa yang dilakukan pemerintah,” tegasnya.

Berdasarkan konsep growth elasticity , Panangian mengatakan pertumbuhan properti umumnya mencapai 1,5-1,7 kali pertumbuhan ekonomi. Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen, maka sektor properti dapat tumbuh hingga 8 persen atau mendekati 10 persen. Jika pertumbuhan properti mampu bangkit, maka pasar properti akan menuju booming

“Seperti di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, properti bangkit pada tahun 2009, tapi mulai booming  pada 2010 hingga 2012 karena properti umumnya menjadi tempat untuk orang menempatkan uangnya atau berinvestasi, apalagi ketika harga komoditas naik,” jelasnya.

Sementara itu, pengamat properti Aleviery Akbar memperkirakan pertumbuhan properti stabil di tahun ini dan berpotensi naik tipis sekitar 1,5-2 persen dibandingkan tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut ditopang insentif pemerintah seperti diskon Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hingga program 3 juta rumah.

“Secara umum kemungkinan stabil. Mungkin pertumbuhan properti sekitar 1,5-2 persen dengan peluang naik di atas 2 persen, didukung kebijakan pemerintah dan program perumahan rakyat,” kata Aleviery dikutip dari CNNIndonesia.com.

Dia menambahkan, kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah cukup efektif karena memberikan stimulus langsung ke pembeli dan sektor terkait, mendorong transaksi properti yang lesu, dan berkontribusi signifikan pada stabilitas serta pertumbuhan ekonomi nasional. (Rinaldi)

 

Muhammad Rinaldi