• 21 Apr, 2026

Platform properti terkemuka Pinhome mengungkap pembangunan infrastruktur menjadi motor utama pertumbuhan pasar properti di Indonesia. Riset itu mencatat adanya peningkatan permintaan rumah hingga 21% di wilayah yang mengalami perkembangan infrastruktur signifikan seperti Pulau Jawa, Bali, Lampung, dan Kalimantan Timur.  

CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata menyebutkan adanya peran besar infrastruktur dalam menggerakkan pasar properti. Pembangunan infrastruktur yang masif di Indonesia telah membuka akses dan meningkatkan konektivitas antar wilayah. 

“Hal ini telah mendorong pertumbuhan pasar properti yang signifikan,” ujar Dayu dalam laporan risetnya.

Proyek infrastruktur besar seperti Jalan Tol Solo-Yogya, LRT Bali, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi katalis utama pertumbuhan permintaan properti. Selain itu, kawasan seperti Sidoarjo dan Tangerang juga mencatat lonjakan penawaran rumah baru, masing-masing meningkat lebih dari tiga kali lipat dan 34%, didukung oleh pembangunan Flyover Djuanda di Sidoarjo dan proyek Tol Kataraja di Tangerang.  

Sementara proyek LRT Jakarta Fase 1B dan LRT Jabodebek turut mendorong permintaan sewa apartemen di Jakarta Utara dan Jakarta Timur hingga empat kali lipat. Hal ini menunjukkan dampak infrastruktur tidak hanya pada pasar jual-beli, tetapi juga sektor properti sewa.  

Laporan riset Pinhome juga mencatat pertumbuhan positif pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), yang meningkat 9% di kuartal III-2024. Pembiayaan syariah semakin diminati dengan pertumbuhan 13%, termasuk lonjakan dua kali lipat pada skema bunga tetap 15 tahun. KPR Take Over bahkan mencatat kenaikan signifikan sebesar 26%.  

Permintaan properti di wilayah suburban Jabodetabek terus meningkat, dengan 85% transaksi pembelian rumah berasal dari kawasan ini. Peningkatan konektivitas melalui infrastruktur jalan dan transportasi menjadi alasan utama masyarakat memilih kawasan penyangga sebagai lokasi hunian.  

Rumah Seken

Laporan Pinhome juga menyebutkan adanya peningkatan jumlah inventori rumah seken yang tersedia di pasar sebesar 33% secara nasional. Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sumatera Utara memimpin pertumbuhan ini dengan peningkatan masing-masing 62% dan 46%. Tren ini didorong oleh permintaan rumah kecil dengan luas tidak lebih dari 54 meter persegi.  

rumah3w.jpg
Foto-foto Istimewa

Ketua Kehormatan Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) Lukas Bong mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, rumah seken memang mengalami permintaan yang bagus. 

“Rumah seken menajdi pilihan karena harga lebih murah dan juga siap dihuni," jelas Lukas.

Apalagi, menurutnya, rumah seken selama ini menjadi pelengkap untuk daerah-derah yang pasokan-nya terbatas apalagi di kota besar dan juga daerah penyangga yang harga rumah barunya ( primary ) sudah melonjak tinggi.

Dia memperkirakan pasar rumah seken akan terus membaik di 2025 termasuk di Jakarta. Menurut Lukas, dalam jangka pendek pemindahan ibu kota negara dari Jakarta akan sedikit menekan harga residensial seken di Jakarta. Tetapi harga tersebut akan kembali membaik seiring beralih fungsi Jakarta dari pusat pemerintahan menjadi pusat bisnis. 

“Akan ada penyesuaian harga, karena sebagai kota bisnis, Jakarta akan semakin nyaman,” jelasnya.

Rumah123 Flash Report edisi Desember 2024 mencatat adanya pertumbuhan Indeks Harga Rumah Seken per November di 13 kota besar Indonesia secara umum sebesar 2,4% secara tahunan, dibandingkan per Oktober lalu sekitar 1,7%.   

Tercatat, sebanyak sembilan kota mengalami pertumbuhan selisih tertinggi dari segi pergerakan harga dibandingkan laju inflasi tahunan per November dibandingkan Oktober lalu yang hanya sekitar 6 kota.   

Sembilan kota tersebut adalah Yogyakarta mencatatkan pertumbuhan selisih harga tertinggi di atas laju inflasi tahunan, yakni sebesar 9,3%, diikuti Denpasar (6,3%), Makassar (5,4%), dan Bogor (5%). Kemudian Semarang mencatatkan pertumbuhan selisih sebesar 3,9%, disusul Medan (1%), Depok (0,9%), serta Surakarta dan Tangerang yang masing-masing mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,1%.

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya menjelaskan, pertumbuhan selisih harga yang melampaui laju inflasi tahunan di sembilan kota ini menegaskan potensi properti sebagai aset investasi yang menjanjikan. Menurutnya, kenaikan ini menunjukkan bahwa kepemilikan properti di kota-kota tersebut tidak hanya memberikan stabilitas nilai, tetapi juga peluang apresiasi harga yang signifikan dalam jangka panjang. 

“Hal itu menjadikan properti sebagai instrumen investasi yang lebih menarik, terutama bagi pemilik properti di kawasan tersebut atau investor yang mencari aset dengan potensi pertumbuhan nilai yang lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi tahunan,” ungkapnya.

Di sisi lain, ada empat kota yang mengalami perlambatan selisih pertumbuhan harga rumah seken di atas laju inflasi tahunan, yakni Jakarta (-1,2%), Bekasi (-2,5%), Bandung (-0,5%) dan Surabaya (-1%).  

Di Jabodetabek, kenaikan dipimpin oleh Bogor (6,5%), Depok (2,8%), Tangerang (2,1%), dan Jakarta (0,4%). Di Jawa, selain Yogyakarta, kenaikan dialami oleh Semarang (5,3%), Solo/Surakarta (1,4%), Bandung (1%) dan Surabaya (0,3%).  

Sementara di luar pulau Jawa, Denpasar konsisten menjadi yang tertinggi dengan perolehan sebesar 9,2%, diikuti Makassar (6,8%) dan Medan (2,9%). 

“Hanya terdapat satu kota yang mencatatkan penurunan indeks harga rumah seken secara tahunan, yakni Bekasi dengan penurunan sebesar 0,7%,” sebut Marisa. (Rinaldi/Teti)  


 

 

Rinaldi dan Teti P.