Sektor industri yang stabil dan proses perizinan yang cukup baik membawa optimisme bagi pengembang di Pulau Batam. Bisnis properti pada tahun ini diprediksi akan lebih baik, bahkan lebih prospektif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Khusus Batam, Robinson Tan yang dihubungi, baru-baru ini.
Menurutnya, pembangunan dan penjualan properti termasuk hunian di Batam masih cukup stabil di semester I-2025. Bahkan dibandingkan semester I-2024 penyerapannya lebih baik.
“Oleh karena itu, di semester kedua kami masih sangat optimis pasar properti tetap prospektif di Batam. Kecuali jika ada situasi signifikan baik secara politik maupun aktivitas industri manufaktur dan perkapalan di sini,” ungkap Robinson.
Menurutnya, selain kondisi manufaktur yang stabil dan kondusif, optimisme bisnis properti hingga akhir tahun juga didukung oleh pemerintah daerah yang melakukan banyak perbaikan terutama dalam hal perizinan. Dia memerinci perbaikan terjadi di sektor birokrasi maupun waktu pengurusannya.
Bahkan, menurut Robinson, pada semester I lalu tidak ada kendala yang berarti. Kalaupun ada kendala, diakuinya hanya sedikit karena ada perubahan pengurusan perizinan yang masih belum lancar.
“Meski di awal-awal belum berjalan sesuai harapan, namun ke depan akan semakin membaik. Tentu kami berharap sektor properti bisa ikut berperan dalam memyukseskan program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah, sekaligus bisa ikut berkontribusi dalam peningkatan jumlah lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ungkap Robinson.
Properti Orang Asing
Di sisi lain, dia menjelaskan permintaan properti khususnya hunian dari warga negara asing (WNA) di Batam juga masih berada dalam kondisi stabil. Menurut Robinson, belum ada faktor baru yang mampu menjadi daya tarik signifikan bagi WNA untuk memilih Batam sebagai rumah kedua mereka.
“Upaya menarik minat WNA tetap dilakukan oleh masing-masing pengembang melalui berbagai promosi, tetapi sejauh ini belum ada lonjakan permintaan yang signifikan,” ujarnya.
Terkait pengaruh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam yang saat ini sedang digencarkan pemerintah, dikatakan hal itu lebih berdampak kepada sektor industri dibandingkan ke pasar properti. Namun dia berharap pertumbuhan industri akan membawa dampak terhadap daya beli masyarakat untuk membeli rumah terutama para pekerja industri.
Oleh karena itu, Robinson sangat yakin tahun ini bukan tidak mungkin menjadi momentum rebound bagi pengembang di kota pulau tersebut. Dia mengatakan sejumlah cara dilakukan DPD REI Batam untuk meningkatkan minat masyarakat membeli rumah. Salah satunya lewat pameran REI Expo 2025 di Grand Batam Mall (GBM) pada akhir Mei hingga 8 Juni 2025.
“Pameran REI Expo ini juga untuk membangkitkan semangat teman-teman pengembang agar terus membangun. Konsepnya menggabungkan segmen properti menengah ke atas dan rumah subsidi melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP),” papar Robinson.
“Antusiasme masyarakat datang ke pameran REI Expo tinggi, dan ini jadi sinyal kuat bahwa sektor properti terus bertumbuh prospektif," tambahnya.
Nilai transaksi penjualan properti yang terjadi selama expo pada Mei lalu mencapai Rp100 miliar. Capaian itu melampaui target Rp88 miliar. Robinson mengungkapkan, mayoritas unit yang terjual selama pameran adalah hunian kelas menengah ke atas. Sebagian besar diantaranya memanfaatkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Di Tanggung Pemerintah (PPN DTP) dari pemerintah. (Teti Purwanti)