Pasar industri di Singapura sepanjang kuartal II-2025 menunjukkan pertumbuhan harga sewa yang berkelanjutan, dipimpin oleh segmen pabrik multiguna. Meski tingkat hunian pergudangan sedikit menurun, karena penyewa memprioritaskan fleksibilitas operasional.
Head of Research Colliers International Singapore, Catherine He menyebutkan pasar industri di Singapura terus menguat. Dalam Laporan Prospek Industri Q2 2025 diungkap bahwa indeks sewa JTC (All Industrial) mencatat kenaikan kuartalan selama 19 kali berturut-turut. Di kuartal II-2025, harga sewa naik 0,7% secara kuartalan dibandingkan kenaikan di kuartal I-2025 sebesar 0,5%.
“Ini adalah indeks tertinggi sejak level terendah di kuartal III-2022 dengan kenaikan mencapai 24,6%. Pertumbuhan sewa yang positif terjadi di semua segmen, dipimpin segmen pabrik multiguna dan kawasan bisnis,” ungkapnya.
Namun, menurut Colliers, okupansi industri di negara kota tersebut secara keseluruhan menurun tipis menjadi 88,8%. Hal ini disebabkan oleh segmen pergudangan yang mengalami penurunan okupansi sebesar 1,7%.
“Kami memprediksi, sektor industri akan tetap tangguh di tahun 2025 dengan jaringan distribusi yang terkelola dan pola permintaan baru, meskipun masih terdapat ketidakpastian global,” sebut Catherine He.
Lanskap perdagangan yang terus berkembang menciptakan pola permintaan baru yang mendukung peran Singapura sebagai pusat logistik yang netral dan efisien. Di segmen logistik dan kawasan bisnis, jaringan distribusi yang terkelola diharapkan dapat mendukung stabilitas sewa dan tingkat okupansi yang sehat.
Minat sewa di pabrik-pabrik multiguna dan kawasan bisnis berteknologi tinggi diperkirakan akan menguat, didorong oleh meredanya tekanan pasokan dan permintaan berkelanjutan dari perusahaan-perusahaan teknologi, kecerdasan buatan, dan biomedis.

Sedangkan pasokan ruang industri diperkirakan akan meningkat hingga akhir tahun 2027 mencapai pasokan sekitar 1,3 juta meter persegi, jauh lebih tinggi daripada rata-rata historis. Sebagai perbandingan, rata-rata pasokan dan permintaan tahunan masing-masing adalah sekitar 0,9 juta meter persegi dan 0,6 juta meter persegi selama tiga tahun terakhir.
“Dengan kalibrasi pasokan yang cermat dan reputasi yang kuat sebagai pusat regional tepercaya, Singapura berada di posisi yang tepat untuk menangkap permintaan jangka panjang dari penyewa,”jelas Nicolas Menville, Direktur Eksekutif dan Kepala Klien Industri Colliers International Singapore.
Begitupun, tingkat ketergantungan Singapura yang tinggi kepada perdagangan—di mana reekspor mencakup hampir dua pertiga dari total perdagangan—menunjukkan bahwa negara ini tetap sangat sensitif terhadap hambatan eksternal, terutama perkembangan kebijakan perdagangan.
Potensi penerapan tarif baru pada ekspor utama seperti semikonduktor dan farmasi dapat memberikan tekanan pada sektor-sektor industri dan pergudangan ini. Meski sewa guna usaha tetap aktif, tetapi pasar diminta bersikap hati-hati.

“Resiko jangka pendek terkait tarif dan perdagangan global dapat membebani manufaktur tradisional, meski peluang dapat muncul dalam logistik khusus, penyimpanan berikat, dan format industri berteknologi tinggi,” jelas Catherine He.
Executive Director, Head of Logistics & Industrial Services Cushman & Wakefield Singapore, Brenda Ong mengatakan sewa pabrik konvensional di Singapura terus tumbuh sebesar 0,5% kuartal ke kuartal, meski pertumbuhan sewa diperkirakan akan menurun di kuartal mendatang karena perlambatan pemulihan manufaktur.
Sewa properti berteknologi tinggi naik sebesar 0,7% secara kuartalan, didorong oleh properti yang lebih baru dan berlokasi lebih baik. Sewa kawasan bisnis di pinggiran kota juga tumbuh sebesar 0,7% kuartal ke kuartal, sementara sewa kawasan bisnis di pinggiran kota naik sebesar 0,1%.
“Meski pertumbuhan sewa industri diperkirakan melambat, sebagian besar properti industri masih dapat mengalami pembalikan sewa yang positif karena masa sewa mereka akan diperpanjang mengingat pertumbuhan sewa industri yang kuat dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Brenda Ong.

Ruang logistik utama dan gudang akan mengalami peningkatan pasokan pada tahun 2025. Proyek logistik utama multiguna yang baru saja selesai yakni 36 Tuas Road, diperkirakan telah terisi 57%, sementara proyek-proyek baru yang akan masuk pasar di tahun ini seperti Mapletree Joo Koon Logistics Hub dan 5 Toh Guan Road East dikabarkan telah terpesan hampir 50%.
Pengaruh Aktivitas Manufaktur
Executive Director Savills Singapore, Alan Cheong menyebutkan para industrialis di Negeri Singa itu terus meningkatkan ketahanan dan fleksibilitas. Momentum itu berhasil mendorong total volume sewa untuk ruang industri naik 7,6% ( year-on-year ) di kuartal II-2025 menjadi 3.360 penyewa, atau tertinggi sejak kuartal III-2021.
“Segmen industri berspesifikasi tinggi juga menunjukkan beberapa tanda perbaikan setelah periode pelemahan, dengan kenaikan sewa sebesar 2,1% secara kuartalan menjadi SGD3,98 per kaki persegi pada kuartal II-2025,” sebutnya.
Seiring berlanjutnya negosiasi antara Pemerintah Singapura dan Amerika Serikat (AS) untuk menurunkan tarif yang hasilnya belum dicapai keselarasan, maka landasan bisnis yang digunakan untuk mengambil keputusan masih belum pasti. Kondisi itu, ungkap Alan Cheong, akan memengaruhi industri manufaktur, sehingga pasokan untuk ruang pabrik dan gudang diperkirakan akan terpengaruh di paruh kedua tahun 2025.
“Hal ini mungkin akan membantu mengurangi tingkat kekosongan sekaligus mendukung pertumbuhan sewa yang stabil selama sisa tahun ini,” ungkapnya.
Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura memprediksi ekonomi Singapura akan tumbuh sebesar 4,3% pada kuartal II-2025, lebih tinggi daripada pertumbuhan 4,1% di kuartal I. Ekspansi ekonomi didorong oleh sektor manufaktur yang tumbuh 5,5% di kuartal II. Perusahaan manufaktur dikabarkan mempercepat pembelian dan pengiriman mereka menjelang potensi kenaikan lebih lanjut tarif dagang AS di atas 10%.
Mengingat rezim tarif baru, pembatasan perdagangan, dan meningkatnya perang teknologi, pelaku industri dan pergudangan diprediksi bakal memikirkan kembali strategi realestat mereka untuk beradaptasi di bawah tekanan yang meningkat. Pelaku bisnis juga berpotensi menunda keputusan sewa mereka di tengah ketidakpastian kebijakan dan permintaan yang tidak dapat diprediksi. (Rinaldi)