Bisnis realestat global secara umum masih bertahan di kuartal pertama tahun ini, meski di tengah situasi geopolitik yang memanas termasuk perang tarif dagang yang memengaruhi perekonomian di sejumlah negara.
JLL Internasional menyebutkan pasar realestat global masih positif, meski ketidakpastian menyebabkan fokus pada perencanaan jangka pendek terganggu terutama untuk subsektor yang rentan terhadap gangguan rantai pasokan seperti ritel dan industri, serta penyewaan kantor.
Diungkapkan, aktivitas penyewa pada kuartal I-2025 cukup beragam, dengan kinerja bervariasi di berbagai pasar dan jenis properti. Banyak penyewa industri dan ritel yang sedang meninjau dampak tarif baru AS pada rantai pasokan dan operasi mereka. Meski pun secara umum penyewaan kantor global terus pulih.
Kekhawatiran seputar dampak ekonomi dari tarif dagang baru-baru ini mengakibatkan perubahan sentimen bagi investor, yang mengawali periode ketidakpastian baru. Sementara komunitas investasi telah memperkirakan volatilitas dan telah beroperasi selama periode ketidakpastian yang meningkat selama lima tahun terakhir, dimana setiap titik perubahan pasar baru menyebabkan gangguan awal, yang diikuti oleh periode di mana investor perlu mengevaluasi dampak pada investasi dan strategi penempatan modal mereka.
"Perlu dicatat bahwa sektor realestat komersial telah memasuki periode volatilitas ini dalam kondisi yang relatif sehat. Perubahan nilai aset yang berlarut-larut selama 2,5 tahun terakhir telah secara efektif mengurangi risiko kelas aset, dan nilai relatif sektor tersebut dibandingkan dengan alternatif investasi pasar publik juga menghadirkan latar belakang yang menguntungkan," ungkap riset JLL.
Sejalan dengan itu, tingkat utang dan kredit di seluruh dunia sehat, dengan pasar utang likuid yang mendukung aktivitas pasar modal. Dan kinerja aset yang ada akan diuntungkan dari berkurangnya pasokan di banyak pasar yang matang. Meskipun tanda-tanda mulai muncul, nilai aset secara umum tetap stabil dan intensitas penawaran aktif di awal tahun.
Dari sisi investasi, aktivitas transaksi langsung mencapai total US$185 miliar pada kuartal pertama tahun 2025, naik 34% dari tahun ke tahun. Beberapa faktor bersatu untuk mendorong pertumbuhan aktivitas yang berkelanjutan, termasuk pasar utang likuid, peningkatan penawaran institusional, peningkatan bertahap dalam transaksi berskala, dan peningkatan transaksi lintas batas dari tahun ke tahun.

Volume transaksi di Amerika pada kuartal I-2025 mencapai US$93 miliar, naik 37% dari tahun ke tahun. Volume transaksi EMEA mencapai total US$55 miliar, menandai peningkatan 41%. Di Asia Pasifik, volume transaksi naik menjadi US$36 miliar, 20% lebih tinggi.
Selain itu, investasi lintas batas masih meningkat sebesar 57% dari tahun ke tahun pada kuartal I-2025. Itu menandai level kuartal pertama tertinggi sejak 2022, yang membuktikan bagaimana perbaikan berkelanjutan dalam dinamika pasar modal selama sebagian besar kuartal tersebut menghasilkan normalisasi tambahan aktivitas lintas batas, hanya untuk menghadapi peningkatan variabilitas pada awal kuartal kedua.
Sektor yang Diminati
Di seluruh sektor, investor berfokus pada kualitas aset, kredit penyewa, dan sektor-sektor yang berada di jalur pertumbuhan sekuler.

Sektor industri dan logistik, hunian, dan alternatif pilihan tetap menjadi yang paling diminati. Sedangkan porsi modal yang diinvestasikan di sektor ritel juga menunjukkan sedikit peningkatan, yang menunjukkan porsi lebih tinggi dibandingkan dengan lima tahun terakhir, meski transaksi skala masih di bawah potensi.
Pemisahan lintas dan dalam sektor terus berlanjut, terutama di sektor perkantoran di AS, meskipun transaksi perkantoran telah membaik di awal tahun.

Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) bidang Hubungan Luar Negeri, Rusmin Lawin mengatakan investasi di properti merupakan aset yang terbesar di dunia dan masih dipercaya oleh investor untuk mengamankan investasi mereka. Industri properti global pada tahun 2025 dia prediksi masih akan tumbuh, meski menghadapi beragam tantangan dan dinamika pasar.
“Secara keseluruhan, sektor properti global menunjukkan potensi bertumbuh terutama di sektor hunian, industri dan ritel. Kalau pun ada kendala seperti perang tarif dagang, kami pikir tidak memengaruhi penjualan properti global secara signifikan, terlebih pasca pandemi covid-19 peran penting rumah semakin besar,” ungkap Presiden FIABCI Asia-Pasifik tersebut.
Dia menambahkan, saat ini beberapa negara termasuk di Asia sudah memudahkan warga negara asing untuk memiliki hunian dengan beragam kemudahannya. Potensi pasar hunian untuk orang asing cukup besar terutama di Indonesia yang memiliki iklim hangat sepanjang tahun. Untuk itu, regulasi yang lebih kondusif dibutuhkan untuk menarik banyak investasi orang asing di sektor properti Indonesia.
“Orang Eropa itu sejak pandemi selesai sudah tidak menahan diri lagi untuk bepergian keluar negeri, dan mereka lebih mencari negara-negara yang hangat dan eksotik seperti Indonesia yang berada di garis khatulistiwa,” tegas Rusmin. (Teti Purwanti)