• 21 Apr, 2026

Kerja sama operasi (KSO) PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI), PT Acset Indonusa Tbk (Acset), dan PT Nindya Karya (NK) terus mengerjakan Jalan Tol Probolinggo – Banyuwangi (Probowangi) Paket 2 sepanjang 11,20 kilometer. 

Jalan tol yang menghubungkan Kraksaan hingga Paiton ini nantinya akan tersambung dengan tol Gending – Kraksaan sepanjang 12,88 km yang telah fungsional pada libur Natal dan Tahun Baru 2024 lalu.  

“Sampai dengan Januari 2025, progres pengerjaan jalan tol ini mencatatkan progres sebesar 81,91%,” ujar Direktur Operasi III HKI Aditya Novendra Jaya dalam keterangannya.

 

Jalur bebas hambatan yang diproyeksi meningkatkan konektivitas dan perekonomian di kawasan Probolinggo-Banyuwangi tersebut ditargetkan rampung Juli 2025.

Ditinjau dari fasilitas struktur, jalan tol ini akan memiliki satu interchange , yakni Interchange Paiton STA 19+591 sebagai akses keluar dan masuk tol dari Paiton. Selain itu, jalan tol ini juga dirancang dengan lajur 2x2 dan kecepatan rencana 100 km/jam.

Untuk percepatan konstruksi di lapangan, KSO HKI-Acset-NK menerapkan metode deep cement mixing (DCM). Ini adalah metode perbaikan tanah yang digunakan untuk meningkatkan stabilitas dan kekuatan tanah dasar pada proyek konstruksi dengan metode pengeboran tanah dan diisi dengan semen. 

Metode ini efektif untuk memperbaiki tanah yang tidak stabil, sehingga dapat mendukung struktur jalan tol dengan lebih baik.

“Penggunaan metode DCM di proyek jalan tol Probolinggo – Banyuwangi Paket 2 menjadi salah satu yang pertama diimplementasikan dalam pembangunan jalan tol. Biasanya metode ini digunakan kontraktor dalam membangun jenis pekerjaan gedung dan bangunan,” terang Aditya.

Selain metode DCM, konstruksi Jalan Tol Probolinggo – Banyuwangi Paket II HKI juga mengimplementasikan Building Information Modelling (BIM) yang didukung dengan penggunaan Light Detection and Ranging (LiDAR) untuk menghasilkan pemetaan topografi dan pembuatan model 3D dari lingkungan yang akan dibangun. 

Dengan menggunakan BIM, proses konstruksi di lapangan menjadi lebih efektif karena perencanaan konstruksi yang matang dan detail untuk mengurangi rework and waste.

Jika nantinya tol Probolinggo-Banyuwangi Paket 2 dioperasikan, maka tol ini akan mempercepat pengiriman logistik ke atau dari Jawa Timur dan meningkatkan kondisi ekonomi di sekitar jalan tol.

“Kami mohon doa dan dukungan masyarakat agar pembangunan tol Probolinggo – Banyuwangi Paket II Kraksaan-Paiton bisa segera kami selesaikan dengan baik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Jawa Timur dan sekitarnya,” harap Aditya.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Miftachul Munir mengatakan sesuai dengan instruksi, Kementerian PU berkomitmen dan terus berupaya untuk meningkatkan layanan transportasi jalan khususnya di Jawa Timur yakni peningkatan kemantapan jalan, termasuk zero pothole dan rehabilitasi jalan, penambahan panjang jalan tol baru (fungsional), serta peningkatan konektivitas antar moda melalui pembangunan akses pelabuhan dan bandara serta peningkatan dan integrasi sistem jaringan jalan nasional dengan jalan daerah.

Untuk jalan tol, saat ini jalan tol di Jawa Timur yang telah beroperasi mencapai 439,41 km dan tahap konstruksi sepanjang 56,5 km.

Percepat Ekonomi

Sementara itu, Menteri PU Dody Hanggodo menargetkan pembangunan jalan tol Kediri-Tulungagung ruas akses tol Bandara Dhoho Kediri bisa difungsikan pada Oktober 2025.

“Jalan tol dari Kediri ke arah Bandara Dhoho sepanjang 6,82 kilometer pada Oktober 2025 Insya Allah sudah dapat difungsikan,” ungkapnya.

Jalan tol ini merupakan proyek KPBU yang diusulkan oleh PT Gudang Garam. Proyek ini merupakan kelanjutan dari tol Kertosono-Kediri. Proyek ini dikerjakan dengan skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Perpres No. 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik - Bangkalan - Mojokerto - Surabaya - Sidoarjo - Lamongan, Kawasan Bromo - Tengger - Semeru, serta kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan.

Jalan tol tahap pertama Kediri-Tulungagung ruas akses tol Bandara Dhoho Kediri memiliki panjang 6,82 kilometer. Jalan tol tersebut dibangun dengan dua lajur, yakni masing-masing 3,6 meter dan dilengkapi 20 jembatan dan overpass , 4 box underpass dan 28 box culvert .

Untuk kontraktor, jalan tol ini dikerjakan oleh LMA Highway Konsorsium. Pembangunan tol ruas Kediri-Tulungagung diperkirakan menelan biaya sekitar Rp9,9 triliun. 

Jalan tol dengan masa konsesi selama 50 tahun itu ditujukan untuk menghubungkan pusat perekonomian di Provinsi Jawa Timur bagian selatan, membangun akses menuju ke Bandara Dhoho Kediri, membuka percepatan pembangunan ekonomi di kawasan selingkar wilis dan lintas selatan termasuk sektor pariwisata, serta mempermudah akses masyarakat menuju kawasan Jatim selatan. (Teti Purwanti)

 

 

Teti Purwanti