• 21 Apr, 2026

Pemerintah meminta para pengelola kawasan industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam bersiap untuk merebut peluang apabila terjadi relokasi pabrik dari Tiongkok ke Indonesia.

Hal itu menyusul kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang menetapkan hambatan tarif ( barrier tariffs ) impor baru bagi seluruh produk yang berasal dari Negeri Tirai Bambu tersebut.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza saat berdialog dengan para pengelola kawasan industri di Kawasan Industri Batamindo, Kota Batam, Kepulauan Riau, baru-baru ini. Kunjungan itu juga untuk melihat kesiapan 19 kawasan industri di pulau yang berdekatan dengan negara jiran Singapura tersebut.

“Kita memiliki peluang besar untuk menjadi tujuan relokasi pabrik di Tiongkok. Pelaku usaha di Tiongkok sudah melihat kebijakan AS itu sebagai sebuah hambatan untuk melakukan ekspor langsung dari Tiongkok ke AS. Karena itu, mereka melihat kemungkinan mencari lokasi-lokasi baru terutama di kawasan ASEAN, “ jelasnya.

Wamenperin mengatakan, Indonesia dipandang sebagai negara yang memiliki stabilitas ekonomi, serta strategis lokasinya sebagai tujuan investasi atau relokasi pabrik. Apalagi, berbagai kawasan industri yang berada di KEK Batam cukup siap apabila tren relokasi itu nantinya terjadi.

batam1.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

 

“Ada beberapa sektor yang sudah memiliki niat untuk relokasi. Selain elektronik, ada juga tekstil, alas kaki, dan otomotif. Oleh karena itu, persiapan dari masing-masing kawasan industri di Batam menjadi sangat penting,” sebutnya.

Selain mengunjungi Batamindo, Wamen Faisol Riza juga mendatangi Kawasan Industri Bintan Industrial Estate (BIIE), sebagai kawasan yang didesain khusus untuk industri halal. Dengan luas mencapai 4.000 hektar, BIIE juga berpeluang besar menangkap relokasi perusahaan-perusahaan yang berasal dari Tiongkok.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Khusus Batam, Robinson Tan mengatakan geliat industri di pulau tersebut berdampak besar terhadap bisnis properti. Hal itu karena keberadaan kawasan industri dan KEK sangat memengaruhi pertumbuhan populasi dan mendorong daya beli masyarakat di Batam.

“Pertumbuhan industri menjadi faktor penting bagi pasar perumahan, terutama bagi para pekerja yang membutuhkan hunian,” ungkapnya.

robinson-tan-rei-batam.jpg

Dia menjelaskan, keberadaan KEK dan kemudahan berinvestasi berpengaruh terhadap pertumbuhan pasar properti di Batam dalam beberapa tahun terakhir. Status KEK mendatangkan banyak warna negara asing (WNA) untuk bekerja di Batam, dan mendorong perekonomian daerah. Selain itu, letak Batam yang berdekatan dengan Singapura juga menarik WNA asal negara pulau tersebut untuk mencari hunian kedua atau tempat berlibur.

REI Batam memproyeksikan pasar properti pada 2025 berada dalam kondisi stabil.Hal itu didukung agresifitas pengembang properti yang menerapkan berbagai strategi dan penawaran khusus guna meningkatkan minat pembeli konsumen. Termasuk diantaranya pasar WNA yang terus meningkat.

Untuk lokasi yang paling diminati WNA antara lain Nongsa, Sekupang, Bengkong, Nuvasa, Opus Bay, dan Pantai Indah Mutiara Golden Prawn.

Jajaki Investasi

Pemerintah Indonesia tampaknya sangat antusiasi menjajaki masuknya investasi industri dari Tiongkok. Dalam lawatannya ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) beberapa waktu lalu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani bahkan intens melakukan pertemuan dengan perusahaan-perusahaan di negara tersebut.

Diantaranya pertemuan dengan Geely Auto Group untuk membahas potensi investasi dalam pengembangan industri otomotif di Indonesia. Geely merupakan salah satu produsen otomotif global terkemuka dan pemegang saham di beberapa merek mobil terkenal Eropa, di antaranya Volvo, Daimler, dan Lotus. Di Asia Tenggara, Geely menjadi pemegang saham minoritas Proton.

Geely telah berkomitmen melakukan kerja sama perakitan industri mobil listrik dengan perusahaan Indonesia. 

“Kami menyambut baik ajakan untuk pengembangan industri otomotif di Indonesia. Kami juga mengembangkan ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi dari mulai refinery , industri baterai, dan battery recycling, ” jelas Vice President Geely Auto Group Song Jun.

Menteri Rosan juga bertemu Zhenshi Holding Group Co., Ltd yang telah berinvestasi di beberapa proyek peleburan nikel, antara lain di Maluku Utara dan Morowali. Anak perusahaan Zhenshi, yaitu Jushi Group, adalah salah satu produsen fiberglass terbesar di dunia. 

Jushi Group berencana melakukan investasi baru di bidang industri fiberglass,  dengan perkiraan penyerapan tenaga kerja 4.500 orang.

“Kami mendengar pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto berencana membangun 15 juta rumah dalam lima tahun mendatang. Kami melihat ini kesempatan baik, karena fiberglass bisa menjadi alternatif untuk atap rumah,” ungkap Chairman of the Board of Zhenshi Holding Group Co. Ltd. Zhang Yuqiang. 

Kepala BKPM juga bertemu dengan Wankai New Materials yang merupakan bagian dari Zhink Group untuk membahas minat investasi di sektor industri turunan petrokimia. 

Rencana investasi ini akan dilakukan dalam tiga tahap. Zhink Group sendiri merupakan produsen PET (Polietilena Tereftalat) terbesar ke-3 di Tiongkok dan terbesar ke-5 di dunia.

Dalam kunjungan kerjanya, dia juga melakukan pertemuan dengan beberapa Perusahaan besar di Tiongkok, termasuk Hongshi Holding Group.

Perusahaan ini berencana mengembangkan kawasan industri yang akan memproduksi silikon, polisilikon (bahan baku solar panel), baterai beserta komponennya, dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2 gigawatt. Rencananya, konstruksi investasi baru ini akan dilakukan secara bertahap.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Rosan menyampaikan apresiasi dan kesiapan mengawal rencana investasi dari Tiongkok di Indonesia, termasuk dalam hal percepatan pemberian perizinan berusaha. (Rinaldi)

 

 

 

Muhammad Rinaldi