Dibandingkan subsektor properti lain, pasar perkantoran menjadi subsektor yang paling lama bangkit dan pulih.
Kembali Pasca Pandemi Covid-19. Kondisi sektor perkantoran dalam beberapa tahun terakhir ini justru tidak banyak. Bergerak, Bahkan Diproyeksi Stagnan Sampai Akhir 2024.
Ya, sektor perkantoran terutama di Jakarta masih mengalami situasi tertekan. Banyak factor penyebabnya, dari mulai akibat pasokan yang melimpah (oversupply), tekanan selama pandemi karena ada pembatasan aktivitas, perubahan tren kerja selama pandemi menjadi lebih banyak dari rumah (work from home/WFH) dan setelah pandemi justru marak tren kerja hybrid yakni sebagian kerja di kantor (work from office/WF) dan sebagian tetap di rumah. Akibatnya, banyak ruang kantor kosong.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan pasar perkantoran di Jakarta masih dihadapkan pada ketersediaan ruang yang melimpah. Meskipun ada banyak pilihan, permintaan ruang perkantoran diperkirakan akan tetap rendah sepanjang tahun 2024. “Tetapi faktor-faktor seperti meningkatnya jumlah profesional muda, meningkatnya kepercayaan bisnis, dan ekonomi global yang lebih stabil diharapkan dapat berkontribusi pada capaian yang positif pada masa mendatang,” kata Ferry dalam laporannya, baru-baru ini.
Colliers memproyeksi kebutuhan ruang kantor di Jakarta terutama di kawasan Central Business District (CBD) tidak akan mengalami pertumbuhan hingga tahun 2025. Begitu juga pasokan baru tidak ada terlihat sampai akhir tahun depan. Hal itu disebabkan ketersediaan ruang kantor saat ini masih cukup bahkan melebihi kebutuhan.
Saat ini ada sekitar 2 juta meter persegi ruang kantor yang tidak dihuni (kosong). Berlimpahnya ruang kantor ini berpotensi bertambah jika kantor-kantor pemerintahan jadi pindah ke Ibu Kota Nusantara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur. “Di CBD Jakarta pada 2024 dan 2025 kemungkinan tidak ada pasokan baru. Sesuai proyeksi, ini menjadi salah satu indikasi yang positif untuk keseimbangan sektor perkantoran,” ungkap Ferry.
Pasokan yang sedikit juga mendorong perbaikan pada tingkat keterhunian (okupansi) dan mendorong pasar yang sekarang stagnan menjadi bertumbuh penyerapannya.
“Memang untuk kembali ke angka semula (seperti sebelum pandemi) itu agak berat. Kenapa? Karena kekosongan ruang kantor di Jakarta itu sampai 2 juta meter persegi, jelas butuh waktu yang cukup panjang untuk menyerapnya,” kata Ferry.
Konsultan properti lainnya, JLL Indonesia menyebutkan jumlah permintaan terpantau masih terbatas, tetapi stabil.
“Kawasan CBD Jakarta tidak ada tambahan pasokan gedung baru hingga akhir tahun 2024, sementara untuk kawasan non-CBD kemungkinan masih ada tambahan pasokan baru,” jelas Yunus Karim, Head of Research JLL Indonesia dalam keterangannya.
PT Leads Property Services Indonesia atau Leads Property mengungkap permintaan ruang kantor di CBD Jakarta di tahun 2023 mengalami penurunan 22% dibanding tahun sebelumnya menjadi 49.000 m2
Associate Director Research & Consultancy Leads Property, Martin Samuel Hutapea mengatakan meski masih stabil, tetapi telah terjadi peningkatan transaksi ruang perkantoran di kuartal II-2024 sebagai dampak positif dari hasil pemilihan presiden. Total penyerapan bersih di kuartal tersebut mencapai 23.423 m2, yang tercatat sebagai pe-nyerapan bersih triwulanan tertinggi dalam 21 bulan terakhir