• 21 Apr, 2026

Sektor pariwisata berpeluang menjadi alat pertahanan ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan eksternal akibat kebijakan tarif dagang dari Amerika Serikat (AS). Hal itu menyusul kebijakan ‘Tarif Timbal Balik’ yang diterapkan Presiden AS Donald Trump terhadap produk impor dari sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan Indonesia mampu mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki sektor pariwisata sebagai sumber devisa utama yang bebas dari hambatan perdagangan. Ketika ekspor barang terkena tarif tinggi, ungkapnya, maka negara harus melihat sektor lain yang bisa menjadi penyeimbang. 

“Pariwisata adalah bentuk ekspor jasa yang tidak terganggu oleh kebijakan tarif dagang. Dengan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara, kita dapat menjaga stabilitas Rupiah dan cadangan devisa,” ujar Menteri Widiyanti di Jakarta, baru-baru ini.

Dia mengajak para pemangku kepentingan di sektor pariwisata untuk memperhatikan tiga strategi utama dalam menghadapi dinamika perdagangan global. 

Pertama, pariwisata sebagai “ekspor jasa” penyeimbang. Dengan kekayaan alam, seni budaya, juga kreativitas masyarakat yang ada, Indonesia memiliki potensi inheren pariwisata yang sangat tinggi. Namun, persebaran 13,9 juta wisatawan mancanegara yang hadir di Indonesia saat ini masih sangat terpusat di destinasi tertentu.

pariwisata1-3.jpeg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Kedua, Kementerian Pariwisata mengajak pelaku usaha pariwisata di seluruh daerah untuk bersiap dan beraksi, memanfaatkan peluang dari perubahan dinamika global  untuk menggiatkan Indonesia sebagai destinasi wisata dunia. Kesiapan destinasi, produk wisata, usaha pariwisata, tenaga kerja, hingga promosi yang terarah perlu diupayakan secara terintegrasi. 

“Dengan upaya promosi dan pengembangan yang pemerintah lakukan, kami optimis langkah ini akan menjadi sumber devisa yang tinggi, memitigasi dinamika global dan menjadi “ekspor jasa” penyeimbang,” jelasnya.

Ketiga, optimalisasi UMKM dan ekonomi lokal. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengingatkan bahwa potensi pariwisata Indonesia yang luas tidak hanya terbatas di destinasi tertentu saja, tetapi juga dimulai dari desa. Kemenpar terus mengembangkan desa wisata dan mendorong aktivitas ekonomi berbasis pariwisata di seluruh Indonesia. 

Langkah ini, sebut Menteri  Widiyanti, bertujuan untuk mendistribusikan manfaat ekonomi secara merata dan mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekspor manufaktur yang terkena dampak tarif.

Keempat, fokus pada pengembangan high-quality tourism . Kementerian Pariwisata mengajak pelaku usaha pariwisata di semua destinasi untuk tidak semata-mata mengejar jumlah kunjungan, namun juga mengusahakan pengalaman wisata berkualitas yang menarik pengeluaran berwisata lebih tinggi. 

pariwisatahl.jpg

Data historis menunjukkan, segmen wisatawan yang rela mengeluarkan biaya untuk pengalaman wisata berkualitas relatif memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap fluktuasi harga global. Kemenpar mengidentifikasi, ruang untuk pelaku usaha pariwisata Indonesia untuk mengembangkan hal ini masih terbuka luas.

“Ini juga yang kami bawa dalam program unggulan Pariwisata Naik Kelas yang berfokus pada sektor maritim, gastronomi, dan wellness ,” ujarnya. 

Peningkatan Daya Saing

Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI), Ikang Fawzi berkomentar sektor pariwisata memang menjadi potensi ekonomi besar yang dapat terus dioptimalisasi Indonesia sebagai sumber devisa utama, termasuk di tengah hambatan perdagangan saat ini. Tetapi upaya itu tidak mudah dan bukan tanpa tantangan karena sektor pariwisata di Tanah Air juga memiliki berbagai kelemahan yang perlu segera dibenahi.

ikang-fawzi-3.jpg

“Pemerintah harus dapat memastikan bahwa sektor pariwisata kita mampu berkompetisi dengan negara-negara di sekitar seperti Vietnam yang dalam beberapa waktu terakhir sangat diminati wisatawan mancanegara. Indonesia harus mendorong peningkatan nilai tambah di sektor pariwisata,” ungkapnya rocker dan aktor era tahun 80-an tersebut.

Diantaranya pembenahan infrastruktur dan fasilitas pendukung destinasi wisata untuk meningkatkan kualitas pelayanan, keamanan dan kenyamanan wisatawan. Ikang memberi contoh fasilitas toilet di mayoritas destinasi wisata di Indonesia yang kurang terjaga kebersihannya sehingga dikeluhkan wisatawan terutama dari luar negeri.

“Pelestarian budaya lokal juga perlu diperhatikan agar wisatawan bisa merasakan nuansa autentik dari kunjungannya ke Indonesia. Ini pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi pemerintah supaya pariwisata kita siap bersaing,” pungkasnya. (Rinaldi)

Muhammad Rinaldi