Suku bunga acuan (BI Rate) menjadi hal yang penting bagi sektor properti. Suku bunga acuan memiliki beberapa pengaruh signifikan karena akan menentukan besaran kredit pinjaman hingga memengaruhi harga properti itu sendiri.
Karena itu, keputusan terbaru Bank Indonesia (BI) sangat penting. Seperti diketahui, BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan alias BI Rate sebesar 25 basis poin ke level 5,50% berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 20-21 Mei 2025. Keputusan ini mengakhiri “penahanan” suku bunga acuan di level 5,75% sejak April lalu.
Bersamaan dengan itu, suku bunga deposit facility dan lending facility juga diturunkan masing-masing ke level 4,75% dan 6,25%.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai lebih banyak ruang untuk penyesuaian penurunan suku bunga BI lebih lanjut pada tahun anggaran 2025. Adapun dampaknya ke sektor properti akan positif, apalagi menurutnya, selama beberapa tahun terakhir sektor properti perkembangannya cukup lambat.
“Tentunya penurunan bunga acuan BI ini dampaknya bisa beragam. Bagi calon konsumen, ya tentu dengan penurunan ini membuat bayar cicilannya menjadi tidak semahal jika bunga acuan masih tinggi,” jelas Myrdal kepada Majalah REI.
Yang kedua, bagi konsumen eksisting yang sudah punya cicilan properti, tentu penurunan BI Rate juga cukup bagus karena cicilan mereka bisa turun menjadi lebih murah. Uang yang mereka simpan dari selisih cicilan tersebut mungkin bisa juga dipakai untuk menggerakkan aktivitas ekonomi secara umum.
“Selain itu, jika ingin sektor properti lebih agresif, maka penurunan suku bunga acuan harus lebih dalam lagi. Kita berharap bisa ada penurunan bunga acuan lagi minimal 25 basis poin di tahun ini,” sebutnya.

Menurut Myrdal, minimal suku bunga BI Rate yang lebih rendah seharusnya dapat memacu laju bisnis properti. Pasalnya ada sejumlah bank yang menggunakan BI Rate sebagai acuan untuk bunga floating .
“Kita lihat sih pengaruhnya positif ya. Termasuk juga bagi orang yang mau cicil properti, apakah cicil rumah atau cicil apartemen. Kita berharap dengan kebijakan ini bisnis properti bisa bergerak,” ujarnya.
Bank Indonesia beralasan, inflasi tetap terkendali di dalam negeri dan masih dalam sasaran di level 2,5% plus minus 1%. Bahkan bank sentral memproyeksikan inflasi di akhir tahun ini akan berada di kisaran 2,6%. BI menyebutkan ketidakpastian ekonomi global masih ada, karenanya harus ditangani oleh kebijakan moneter.
Myrdal menilai pemangkasan suku bunga acuan dan bunga bank akan mendukung lebih banyak aktivitas ekonomi, karena situasi ekonomi saat ini menunjukkan permintaan domestik yang lebih lemah dari perkiraan. Oleh karenanya, dia mendorong adanya pemangkasan suku bunga acuan lanjutan, setidaknya 25 basis poin untuk menstimulasi ekonomi domestik sepanjang tahun 2025.
Kepada pengembang, dia berpesan agar lebih banyak menggunakan dana internal terutama untuk pengembang kecil. Sementara untuk pengembang besar, menurut Myrdal, penurunan BI Rate akan membuat kemungkinan banyak pendanaan bagi pengembang.

Penurunan BI Rate dinilai sebagai upaya bank sentral untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya, serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bank Indonesia juga menjelaskan bahwa ke depan, BI akan terus mengarahkan kebijakan moneter untuk menjaga inflasi dalam sasarannya dan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai fundamental.
Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Royzani Sjachril juga menyambut baik penurunan BI Rate. Dia berharap perbankan bisa segera menurunkan bunga KPR.
“Selain itu, tentu kami berharap pembiayaan-pembiayaan juga turun agar menggairahkan dunia usaha," ungkap owner Mahatama Group itu.

Tidak hanya perbankan konvensional, Roy juga berharap penurunan BI Rate akan mendorong perbankan syariah untuk menurunkan persentase bagi hasil untuk pembiayaan properti, baik modal kerja maupun sisi kredit rumah.
Saham Properti Menguat
Diketahui, BI telah mempertahankan suku bunga sejak awal tahun ini guna meredam tekanan terhadap nilai tukar yang dipicu ancaman tarif dari Amerika Serikat (AS). Secara jangka pendek, saham properti terdampak dan kompak bangkit sehari usai pengumuman penurunan BI Rate tersebut.
Beberapa saham yang menunjukan peningkatan antara lain, PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) naik 4,06% diikuti PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) sebesar 4%, di posisi ketiga ada PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) 3,7%, dan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) 1,5%.
Direktur PT Ciputra Development Tbk (CTRA), Harun Hajadi, menyambut positif langkah BI dalam menurunkan suku bunga acuan. Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan bahwa BI menyadari adanya perlambatan ekonomi, terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 yang hanya mencapai 4,87%.
"Ini kabar baik. BI melihat adanya perlambatan ekonomi, dan penurunan suku bunga menjadi bentuk insentif," kata Harun.
Namun demikian, dia mengingatkan bahwa dampak kebijakan ini tidak akan langsung terasa terhadap kinerja perusahaan. Harun menaksir efek keputusan BI tersebut mungkin baru akan terasa menjelang kuartal IV-2025.
“Biasa ada lag time , karena bank pemberi KPR juga tidak bisa langsung menurunkan. Yang sulit kalau bank-bank pemberi KPR tidak ikut menurunkan suku bunga, sehingga tidak ada pengaruh (penurunan BI Rate),” jelasnya. (Teti Purwanti)