• 21 Jul, 2026

Kenaikan batasan luas tanah rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kabupaten Jembrana, Bali, cukup menyulitkan pengembang di daerah tersebut untuk memasok pembangunan rumah bersubsidi. Harga tanah yang mahal berdampak terhadap penurunan daya pasok.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Bali, Anak Agung Made Darma Setiawan menyebutkan aturan kenaikan luas lahan menjadi 100 meter persegi di Jembrana akan berdampak pada penurunan realisasi target DPD REI Bali sepanjang tahun 2025, mengingat Jembrana merupakan salah satu “lumbung” pasokan rumah subsidi di provinsi tersebut. 

“Penurunan realisasi bisa mencapai 10%-15% karena total kavling lahan harus 100 meter persegi dari sebelumnya bisa 60 meter persegi, sehingga otomatis akan lebih sedkit rumah yang bisa dibangun,” ungkap Ajik, demikian dia akrab dipanggil.

Dia tidak menampik dengan luasan lahan yang bertambah membuat masyarakat di Jembrana semakin berminat membeli rumah. Namun pengembang harus berhitung ulang untuk membangun rumah bersubsidi di daerah tersebut, mengingat besaran harga rumah bersubsidi mengikuti ketetapan pemerintah. Ajik mengakui margin yang dapat diperoleh pengembang makin sangat tipis. 

“Kendalanya, dengan kavling lahan harus 100 meter persegi maka harga dasar rumah menjadi lebih tinggi, dan agak sulit bersaing dengan daerah lain. Apalagi harga lahan di Jembrana juga terus naik,” jelasnya.

DPD REI Bali telah melakukan audiensi dengan Bupati Jembrana agar luasan rumah bisa diturunkan. Tetapi permintaan tersebut belum mendapat persetujuan, karena Bupati Jembrana menggunakan PP 64 tahun 2016 terkait prosedur pembangunan rumah MBR, sehingga pengembang tidak memiliki solusi mengenai ketentuan luas lahan.

Strategi Pemasaran

Di tengah situasi sulit di Jembrana, DPD REI Bali berharap target pembangunan rumah subsidi di Pulau Dewata pada tahun ini tidak akan banyak terpengaruh. REI Bali juga berusaha mempertahankan penjualan rumah melalui berbagai promosi dan strategi pemasaran.

Salah satu upaya yang dilakukan DPD REI Bali adalah dengan meluncurkan website resmi. Website ini menawarkan kemudahan bagi calon konsumen dalam memilih rumah idaman sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Website www.reibali.com merupakan kolaborasi dengan website properti. 

Ajik mengatakan website ini memuat info rumah baru yang ada di sembilan kabupaten/kota di Bali. Bahkan website ini memiliki sistem simulasi kredit pemilikan rumah (KPR). Tujuan utama dari website ini adalah memberi informasi lengkap utuh, antara lain dimana lokasi terbaik, jenis rumah terbaik, harga terbaik, dan besaran KPR yang ada di perbankan. 

Website REI Bali memuat 2.500 unit rumah komersil dan subsidi yang tersebar di seluruh wilayah mulai dari Denpasar, Gianyar, Badung hingga pelosok Karangasem dan Buleleng. Harga rumah yang tersedia bervariatif mulai dari Rp240 juta sampai Rp2 miliar yang komersil, dan rumah subsidi Rp180 jutaan. 

“Kami berharap upaya-upaya ini bisa menggenjot penjualan di tengah pasar yang masih sulit saat ini,” ujarnya.

Ajik menyampaikan terimakasih atas dukungan dari pemerintah pusat tahun ini, termasuk insentif Pajak Pertambahan Nilai Di Tanggung Pemerintah (PPN DTP) yang dilanjutkan hingga 2026. (Teti Purwanti)

 

 

 

Teti Purwanti