• 21 Apr, 2026

Pada tahun 2024, Jepang mencatat rekor kunjungan wisatawan asing, mencapai sekitar 36,8 juta kunjungan. Jumlah kunjungan wisatawan asing meningkat sebesar 47,1% dibandingkan dengan tahun 2023. Bahkan pada 2030, Negeri Matahari Terbit itu menargetkan dapat mencapai 60 juta kunjungan wisatawan asing.

Rekor kunjungan wisatawan asing ini membawa dampak positif bagi perekonomian Jepang, terutama di sektor pariwisata. Pengeluaran wisatawan asing juga meningkat, mencapai 8,14 triliun Yen (sekitar US$51,78 miliar), dipicu pula oleh melemahnya nilai tukar Yen.

Meski Yen masih menjadi salah satu mata uang yang kuat di dunia, namun beberapa waktu terakhir ini nilai tukar Dolar Singapura terhadap Yen relatif lebih kuat. Didukung penguatan itu, dan berkembangnya sektor pariwisata di Jepang, mendorong para pengembang asal Singapura untuk berinvestasi hingga ratusan juta dolar di Jepang pada kuartal I-2025.

Diantaranya, Far East Hospitality Trust (FEHT) REIT mengumumkan akuisisi Hotel Four Points by Sheraton Nagoya yang memiliki 319 kamar di Bandara Internasional Chubu Jepang senilai US$41 miliar. Kepala Eksekutif FEHT, Gerald Lee mengatakan properti hotel bisnis bintang empat seperti yang mereka akuisisi “lebih dapat diperdagangkan” dan serbaguna, karena melayani pelancong bisnis dan wisatawan.

jepang1a.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Terkait adanya pembicaraan tentang potensi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan, Lee mengatakan bahwa dana investasi realestat (REIT) telah berhasil mengunci pinjaman suku bunga tetap selama empat tahun untuk akuisisi Nagoya. 

FEHT telah mengumumkan dalam pengajuan bursa pada tanggal 16 April bahwa mereka telah menandatangani perjanjian fasilitas terkait keberlanjutan senilai US$22 juta dengan sebuah bank institusional, meskipun tidak menyebutkan untuk apa perjanjian tersebut akan digunakan. 

Sementara itu, perusahaan ekuitas swasta Patience Capital Group (PCG) mengumpulkan total US$370 juta untuk Dana Pariwisata Jepang, yang sebagian besar akan digunakan untuk mengembangkan lebih lanjut kota resor ski Myoko di prefektur Niigata. Perusahaan ini membangun resor pegunungan dan kota kecil, dua hotel, dan tempat tinggal, serta bermaksud untuk meningkatkan fasilitasnya.

Sebagian besar didanai oleh ekuitas swasta dan mencakup sejumlah bank Jepang seperti Mizuho,  ​​ dan bank lokal dari Niigata dan prefektur tetangga Nagano. PCG mengadakan pertemuan bagi warga setempat setiap dua atau tiga bulan untuk membahas berbagai permasalahan, seperti bagaimana aliran air dapat mempengaruhi sawah mereka.

Investasi tidak hanya terbatas pada sektor perhotelan. Penerapan komputasi awan dan kecerdasan buatan (AI) generatif dalam skala besar juga mendorong pertumbuhan eksponensial dan permintaan penyimpanan data.

jepang3.jpg

Kepala Eksekutif CapitaLand Investment (CLI) Jepang Hideto Yamada mengatakan bahwa CLI berada dalam posisi yang kuat untuk berekspansi di sektor ini mengingat kemampuan pusat datanya yang terintegrasi secara vertikal. Ia  mengatakan Jepang adalah pasar pusat data Tier 1 yang siap untuk pertumbuhan yang kuat.

"Diproyeksikan akan tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 10%, dari US$23,8 miliar pada tahun 2023 menjadi US$38,7 miliar pada tahun 2028. Ini juga merupakan pasar pusat data terbesar di Asia-Pasifik di luar Tiongkok, dengan Tokyo dan Osaka menjadi pusat data utama di kawasan tersebut," jelas Yamada dikutip dari borneobulletin.com

Miliki Daya Tarik 

Kepala Intelijen Investor untuk Asia-Pasifik di perusahaan manajemen investasi dan real estat komersial global JLL Pamela Ambler mengatakan melemahnya Yen terhadap Dolar Singapura merupakan keuntungan yang meningkatkan daya tarik investasi.

“Pada sisi fundamental, dinamika penawaran dan permintaan sangat stabil. Karena inflasi berkelanjutan di sekitar target inflasi 2% selama lebih dari dua tahun sekarang, kami melihat hal itu terjadi melalui pertumbuhan sewa. Permintaan meningkat di berbagai kelas aset seiring dengan restrukturisasi perusahaan,” ungkapnya.

Dia menambahkan bahwa investor Singapura juga mendapatkan pengembalian yang disesuaikan dengan risiko yang lebih tinggi di Jepang dibandingkan dengan pasar dalam negeri Singapura, sehingga orang akan melihat lebih banyak peluang pencarian modal Singapura di Jepang.

Sebelumnya, Konglomerat Malaysia yang bekerja sama dengan Alyssa Partners telah mengakuisisi gedung apartemen sewa di kawasan Minato, Tokyo. Manajer investasi yang berkantor pusat di Tokyo bekerja sama dengan LGB Group yang berkantor pusat di Kuala Lumpur untuk membeli Grand Concierge Roppongi yang terdiri dari 134 unit dengan harga lebih dari JPY 10 miliar (US$65 juta). 

Bangunan setinggi 20 lantai tersebut selesai dibangun pada tahun 2017 dan terletak di seberang ANA InterContinental Hotel di jalan raya Roppongi Dori di kawasan Roppongi yang mewah. 

“Mengingat lokasinya yang strategis dan kualitas bangunannya, aset ini diposisikan dengan baik untuk meraih pertumbuhan sewa dan keuntungan lebih lanjut dari strategi konversi apartemen berlayanan/berperabotan,” kata Boujellabia dikutip dari mingtiandi.com

Dengan operasi yang mencakup tujuh negara, bisnis LGB meliputi pengelolaan limbah, pengolahan air limbah, pembangkit listrik dan jalan tol, serta pengembangan dan investasi properti. Didirikan pada tahun 1978 oleh insinyur Lim Geok Bak, grup ini memasuki pasar realestat Jepang pada tahun 2016 dengan fokus awal pada perkantoran dan ritel.

“Kami senang dapat memperluas strategi investasi jangka panjang kami untuk mencakup kelas aset tambahan di Jepang,” kata direktur LGB Group Sean Lim. 

“Sejak 2016, kami telah berhasil mendiversifikasi portofolio kami untuk mencakup ruang perkantoran dan ritel, hotel, dan kini sektor perumahan bersama Alyssa Partners. Jepang terus menjadi tujuan investasi utama bagi kami," ungkap Boujellabia. (Teti Purwanti)

Teti Purwanti