Tahun 2025 disebut-sebut sebagai tahun strategis bagi perekonomian Indonesia, termasuk sektor properti. Selain telah melewati fase pandemi Covid-19 yang cukup melelahkan, Indonesia juga sukses menyelesaikan tahun politik melalui pemilihan raya di 2024.
Karena itu, tahun ini tampaknya akan menjadi titik harapan baru untuk kebangkitan sektor properti di Indonesia. Meskipun banyak tantangan juga menghadang terlebih di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kebangkitan sektor properti nasional didorong oleh sejumlah faktor positif. Salah satunya adanya program pembangunan tiga juta rumah yang direncanakan oleh pemerintah. Program ini diharapkan membawa dampak psikologis positif bagi para pengembang.
Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip menyebutkan optimisme yang berkelanjutan masih akan berlangsung di 2025.
Meski perekonomian global dan kondisi geopolitik masih tegang, namun para pelaku properti memprediksi hal tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap perekonomian nasional yang ditargetkan akan mencapai akselerasi pertumbuhan di atas 5%.
“Tantangan terbesar yang harus dihadapi dalam mencapai akselerasi pertumbuhan ekonomi diantaranya adalah gangguan supply chain , peningkatan suku bunga dan deflasi. Sedangkan pengaruh kondisi global seperti pemilu di Amerika Serikat diprediksi tidak terlalu signifikan,” ungkapnya.
Justru, Willson melihat tren kenaikan investasi asing diprediksi akan bakal berlanjut, terutama ditopang aliran dana yang bergulir sejalan dengan relokasi manufaktur China akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China, yang membuka peluang terhadap sektor logistik dan lahan industri di dalam negeri.
Keputusan manufaktur China merelokasi pabrik, menjadi salah satu kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat rantai pasok regional.
Sebagian besar pelaku usaha juga percaya bahwa harga properti tetap akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Beberapa isu seperti pelemahan daya beli segmen menengah, tingginya harga tanah, dan kenaikan suku bunga diprediksi akan menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam pertumbuhan sektor properti di 2025.
CEO Leads Property , Hendra Hartono juga memproyeksi pasar properti di 2025 secara umum akan tetap bergerak positif terutama produk-produk yang secara konsep memiliki keunikan. Selain keunikan konsep, produk dengan fasilitas lengkap juga akan mendominasi pasar.
“Selain harga yang terjangkau, konsumen kini semakin memperhatikan fasilitas, mulai dari sarana olahraga hingga area komersial dan kuliner. Hal ini memberikan nilai tambah bagi kawasan property terlebih perumahan,” katanya.

Persaingan produk antar pengembang diperkirakan akan semakin ketat di 2025. Produk hunian tapak ( landed house ) yang terjangkau di kelas menengah tetap jadi pilihan konsumen. Sedangkan untuk apartemen, produk di kelas premium masih potensial, karena daya beli konsumen di segmen ini masih tinggi.
Pengamat Properti dari Stellar Property, M. Gali Ade Nofrans memprediksi sektor properti di 2025 akan stabil. Hal ini dilihat dari pertumbuhannya dalam beberapa tahun terakhir yang bergerak di kisaran 1,5%-2% per tahun. Namun, ungkapnya, sektor properti di tahun ini memiliki peluang untuk bertumbuh di atas 2% menyusul adanya kementerian khusus perumahan.
Selain karena adanya regulasi baru dan sederet insentif dari pemerintah seperti perpanjangan PPN DTP dan pembebasam BPHTB yang mendorong peningkatan penjualan properti di Indonesia.
“Pertumbuhan properti di 2025 jika terjadi peningkatan, mungkin bisa mencapai 2,2% hingga 2,3%. Angka ini lebih tinggi dari 10 tahun terakhir (2014-2024) yang menyentuh rata-rata di level 1,9%,” paparnya.
Pakar properti, Panangian Simanungkalit juga berkeyakinan kebangkitan sektor properti Indonesia akan terjadi selama periode 2025-2029. Kebangkitan ini akan fokus pada properti hunian yang trennya terus membaik di 2025.
“Hal ini karena ditunjang program Prabowo - Gibran yang menghadirkan program tiga juta rumah. Ini akan berpengaruh terhadap kegairahan industri properti secara umum, karena memberikan dampak psikologis positif terutama bagi para pengembang yang tergabung dalam asosiasi-asosiasi perumahan,” ujarnya.

Pakar pemasaran properti, Matius Jusuf menyebutkan produk properti masih akan tetap menjadi investasi favorit, karena harganya terus meningkat. Bisnis ini, menurutnya, tidak akan pernah rugi sepanjang investor mempertimbangkan lokasi dan kredibilitas pengembang ataupun pengelola.
“Dalam lima tahun terakhir, pasar properti tumbuh fluktuatif dan bersifat simetri. Siklus bisnis realestat berkembang naik turun sesuai permintaan dan kebutuhan dengan konsep penjualan, mengikuti keinginan pembeli maupun pedagang,” ungkapnya dikutip dari property&bank.com.
Dia juga berkeyakinan jika sektor ini akan mengalami kebangkitan secara nasional setelah Pemilu 2024 didukung dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan tumbuh sebesar 8% di 2025.
“Tahun 2024 properti mulai bangkit, tapi booming- nya akan terjadi di 2025. Sampai tahun 2026 dan selanjutnya kurang lebih 8 hingga 10 tahun properti akan terus bangkit,” ujarnya.
Terobosan dan Insentif
Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI), Hari Ganie mengatakan salah satu titik berat Pemerintah Prabowo-Gibran di bidang perumahan adalah penyediaan rumah layak huni di kawasan pedesaan sebanyak 2 juta unit. Demikian pula di kawasan perkotaan yang ditargetkan sebanyak 1 juta unit.

“Itu merupakan peluang bagi dunia usaha properti termasuk pengembang. Tinggal bagaimana pemerintah mencari terobosan agar program-program tersebut bisa terserap pasar dengan baik oleh masyarakat. Dibutuhkan terobosan dan cara baru, serta kontinuitas insentif untuk dapat mendukung program 3 juta rumah ini,” sebutnya.
Menurutnya, insentif seperti PPN DTP merupakan salah satu contoh regulasi yang masih dibutuhkan di 2025, karena terbukti dapat mendorong penjualan properti di tahun lalu.
Sementara itu, CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menyarankan agar pengembang tetap cermat mengelola keungan di 2025 terutama di semester pertama tahun ini karena pasar masih bergerak lambat.

Dalam menghadapi ketidakpastian pasar properti, ungkapnya, penerapan manajemen keuangan ( cashflow management ) yang hati-hati akan menjadi kunci keberhasilan bagi pengembang di tahun 2025.
“Pengembang harus cermat dalam mengelola arus kas mereka selama enam bulan ke depan dan menyesuaikan strategi pengembangan agar mampu bertahan di tengah pasar yang semakin ketat,” kata Ali dalam keterangannya dikutip dari propertyandthecity.com. (Rinaldi/Teti)