Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan PT Hutama Karya (Persero) sedang menuntaskan pembangunan jalan tol Sigli–Banda Aceh (Sibanceh) sepanjang 74,2 kilometer (km). Jalan tol pertama di Provinsi Aceh ini hampir tersambung penuh yang ditargetkan rampung paling lambat di pengujung tahun ini.
Pembangunan jalan tol ini telah dilaksanakan secara bertahap sejak semester II- 2018 yang diawali dari ruas Indrapuri-Blang Bintang. Tol Sigli–Banda Aceh terdiri dari 6 seksi dengan progres fisik seluruhnya mencapai 96,67%. Saat ini, progres konstruksi menyisakan sedikit pekerjaan tahap akhir di Seksi Padang Tidji–Seulimeum dan Seksi Kuto Baro–Simpang Baitussalam.
Seksi 1 Padang Tidji –Seulimeum sepanjang 24,67 km saat ini telah memasuki tahap akhir konstruksi dengan progres fisik 99,46%. Pada ruas Padang Tidji –Seulimeum tengah diselesaikan pekerjaan diantaranya pembangunan gerbang tol, box culvert, dan overpass .

Seksi 2 Seulimeum-Jantho sepanjang 6,26 km telah beroperasi sejak 8 Maret 2022, Seksi 3 Jantho-Indrapuri sepanjang 16,37 km beroperasi sejak 26 Februari 2021, Seksi 4 Indrapuri-Blang Bintang sepanjang 14,60 km beroperasi sejak 1 Juli 2020, dan Seksi 5 Blang Bintang-Kuto Baro sepanjang 7,3 km juga telah beroperasi.
Selanjutnya, Seksi 6 Kuto Baro–Simpang Baitussalam sepanjang 5 km untuk jalan utama sudah selesai 100%. Saat ini tengah diselesaikan pembangunan Simpang Susun (SS) Kutabaro dengan progres 87%. Sementara untuk Seksi Kutabaro - Simpang Baitussalam hanya tinggal simpang susun saja yang belum tuntas.
“Saat ini untuk Seksi 6 progresnya sudah 87%, sementara untuk mainroad sudah operasi,” ungkap Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Heri Yugiantoro.
Dengan penyelesaian dua seksi terakhir tersebut, maka seluruh trase tol Sigli – Banda Aceh akan tersambung penuh di tahun 2025 ini. Tol tersebut diyakini akan menjadi penggerak pertumbuhan kawasan serta memperlancar arus barang dan mobilitas masyarakat serta membuka akses terhadap pusat-pusat produksi dan distribusi di wilayah Aceh.
Jalan tol Sigli - Banda Aceh merupakan salah satu ruas utama (backbone) Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 2.998 km yang menyatukan akses jalan darat dari Lampung hingga Banda Aceh. Kehadiran tol Sigli - Banda Aceh dapat meningkatkan daya saing dan sistem logistik di jalur perdagangan di Provinsi Aceh yang nantinya akan tersambung hingga Provinsi Sumatera Utara.

Hutama Karya bertindak selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) jalan tol ini dengan nilai investasi sebesar Rp13,5 triliun dan PT Adhi Karya Tbk selaku kontrantor pelaksana.
Sekretaris Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Aceh, Mursal Fahmi mengatakan pembangunan jalan tol Sigli–Banda Aceh memacu pertumbuhan titik baru pengembangan hunian dan properti komersial di Aceh.
Saat ini, kawasan-kawasan yang menjadi incaran pengembang untuk dibangun perumahan di sepanjang tol Sibanceh antara lain Cadek, Kajhu, Darussalam, Blang Bintang dan Lambaro.
“Semua daerah tersebut masuk dalam Kabupaten Aceh Besar, karena hampir semua pintu masuk dan keluar jalan tol berada di wilayah Aceh Besar,” ungkapnya saat dihubungi.
Sebagian besar lahan di wilayah tersebut masih berupa tambak yang terbengkalai, sawah yang tidak aktif, kebun dan tanah rawa. Harga pasaran tanahnya saat ini berkisar Rp200 ribu hingga Rp800 ribu per meter persegi.
Menurut Mursal, mayoritas rumah yang dibangun pengembang di sekitar tol Sigli-Banda Aceh masih didominasi perumahan bersubsidi yang banyak peminatnya dengan persentase hingga 70%.
“Sedangkan untuk di Sigli memang pasar dan permintaan rumah belum tinggi, karena jarak Sigli ke Banda Aceh hanya satu jam, sehingga masyarakat memilih beli rumah di sekitar Banda Aceh saja,” jelas Presiden Direktur MIKA Property Group tersebut.
Stabilitas Pangan
Hutama Karya juga sedang menggencarkan pembangunan jalan tol Betung (Sp.Sekayu) – Tempino – Jambi sepanjang 170 km. Proyek yang terbagi dalam 4 seksi dan dirancang khusus untuk memperkuat konektivitas dan menghubungkan sentra produksi dengan pusat distribusi nasional, sekaligus mendukung stabilitas pasokan pangan bagi masyarakat terutama distribusi hasil pertanian dan perikanan.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim menjelaskan dalam upaya mendukung visi Asta Cita Presiden RI Prabowo tersebut, Hutama Karya mencatatkan progres pembangunan yang signifikan melalui infrastruktur yang terintegrasi.
“Hingga Juni 2025, akumulasi progres konstruksi untuk seluruh seksi non dukungan konstruksi (dukon) pemerintah pada tol Betung (Sp.Sekayu) – Tempino – Jambi (Seksi 1, 2, dan 4) telah mencapai rata-rata 28,02%, dengan progres pengadaan lahan sebesar 38,8% dari total panjang 135,2 kilometer,” jelas Adjib.
Seksi 4 (18,5 km) Tempino-Ness telah menjadi ruas yang paling progesif mencapai 97,8% konstruksi dan 98,86% pembebasan lahan. Sementara progres konstruksi Seksi 1 Betung-Tungkal Jaya (62,38 km) mencapai 22,22%, dan 30,92% pembebasan lahan; dan Seksi 2 Tungkal Jaya-Bayung Lencir (54,32 km) mencapai 10,28% konstruksi dan 22,30% pembebasan lahan.
Sedangkan Seksi 3 Bayung Lencir-Tempino (34,10 km) telah beroperasi penuh sejak akhir 2024 dan saat ini dilalui ribuan kendaraan setiap harinya.
Hutama Karya menargetkan penyelesaian bertahap mulai 2025 hingga kuartal IV-2026, dengan prioritas pada seksi-seksi yang langsung berdampak pada distribusi pangan. (Rinaldi)