• 17 Apr, 2026

Stimulus Pariwisata Pacu Sektor Perhotelan Thailand

Stimulus Pariwisata Pacu Sektor Perhotelan Thailand

Di saat sektor realestat lain menghadapi aktivitas yang lesu karena sentimen investor yang berhati-hati, sektor perhotelan di Thailand terus berkembang. Lebih dari setengah operator hotel memperkirakan kedatangan wisatawan asing di 2026 akan mendekati sekitar 33 juta pengunjung.

Konsultan properti terkemuka dunia, CBRE Thailand menyebutkan, selama tahun 2025 pariwisata Thailand mampu menarik sebanyak 32,9 juta wisatawan internasional yang mewakili penurunan 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun kedatangan dari Asia Selatan dan Timur Tengah meningkat, tetapi pengunjung dari Tiongkok yang merupakan pasar terbesar bagi Negeri Gajah itu mengalami penurunan 33,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Secara pasokan, jumlah hotel di Bangkok berkembang pesat. Lebih dari 3.000 kamar telah dibuka pada tahun 2025 di pusat CBD kota, termasuk Aman Nai Lert Bangkok, KROMO Bangkok - Curio Collection by Hilton, dan Grande Centre Point Lumphini. Dengan total inventaris yang kini melebihi 83.000 kamar, pemilik properti lama sedang menilai kembali relevansi produk, daya tarik tamu, dan posisi kompetitif karena operator meningkatkan standar layanan dan desain. 

“Banyak pemilik hotel yang melakukan renovasi, program rebranding , dan peningkatan yang ditargetkan untuk memperkuat nilai aset,” ujar Kieran Chevamongkol, Associate Director, CBRE Hotels & Hospitality Thailand.

thai3.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

CBRE memperkirakan sektor perhotelan dan hospitality di Thailand akan terus berkembang seiring dengan kemajuan pembangunan baru dan renovasi besar-besaran. Sebanyak 751 kamar hotel beroperasi di akhir tahun 2025. Terlepas dari tantangan yang terus berlanjut, industri ini tetap optimis akan peningkatan kedatangan tamu pada tahun 2026.

Industri perhotelan Thailand memasuki tahun 2026 dengan kepercayaan diri yang terukur, karena data industri terbaru menunjukkan total kedatangan wisatawan asing akan sama atau mendekati level tahun 2025, yaitu sekitar 33 juta pengunjung. Tetapi angka ini masih jauh di bawah target kedatangan 36,7 juta yang ditetapkan oleh Otoritas Pariwisata Thailand.

Mengutip Thailandhotel.news, di kuartal IV-2025 pendapatan hotel di Thailand meningkat dibandingkan dengan kuartal ketiga, didukung oleh peningkatan jumlah wisatawan jarak jauh dan efek positif dari skema stimulus pariwisata domestik seperti Tiew Thai Kon La Khrueng dan Tiew Dee Mee Kuen. 

Program-program ini berhasil mendorong perjalanan dan pengeluaran domestik, memberikan dorongan yang disambut baik, terutama untuk properti bintang empat ke atas yang mendapat manfaat dari permintaan yang lebih kuat dan fleksibilitas harga yang lebih besar. 

Kedatangan wisatawan asing juga diperkirakan akan meningkat, terutama untuk hotel bintang empat ke atas dan properti yang terletak di destinasi resor selatan. Hotel-hotel ini lebih siap untuk menarik tamu dengan pengeluaran lebih tinggi yang mencari masa inap lebih lama dan pengalaman premium. Akibatnya, operator kelas atas umumnya lebih optimis daripada rekan-rekan mereka yang berbintang tiga ke bawah, yang menghadapi paparan yang lebih besar terhadap wisatawan yang sensitif terhadap harga dan fluktuasi kelompok wisata. 

thai2a.jpg

Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar hotel memperkirakan penyesuaian moderat pada tarif harian rata-rata di kuartal pertama tahun 2026. Di antara properti bintang empat ke atas, lebih dari sepertiga berencana untuk mempertahankan tarif mendekati level saat ini, sementara sekitar 35 persen memperkirakan akan menaikkan harga hanya sebesar 3 hingga 5 persen. Hanya sebagian kecil atau sekitar 4 persen, yang percaya mereka dapat menaikkan tarif sebesar 6 hingga 10 persen. 

Kelanjutan Stimulus

Para pelaku industri perhotelan Thailand memperingatkan bahwa tanpa pengembangan destinasi yang lebih cepat dan layanan yang lebih komprehensif, Thailand berisiko kehilangan pangsa pasar di pasar-pasar utama. Asosiasi Hotel Thailand mendesak pemerintah untuk mempertahankan keberlanjutan kebijakan pariwisata sepanjang tahun 2026. 

Prioritas utama meliputi pemulihan kepercayaan wisatawan, penguatan hubungan masyarakat dan pemasaran, serta penyelenggaraan kegiatan dan acara yang dapat mendorong kunjungan ke kota-kota utama dan sekunder. Terdapat pula penekanan kuat pada upaya menarik segmen wisatawan berkualitas melalui pariwisata berbasis pengalaman, praktik berkelanjutan, dan promosi wisata kesehatan dan kebugaran. 

Para operator hotel mendorong agar stimulus pariwisata, pengurangan biaya melalui dukungan energi dan pajak, akses ke pembiayaan berbunga rendah untuk renovasi, reformasi kebijakan tenaga kerja untuk menstabilkan angkatan kerja, serta pengembangan infrastruktur yang lebih luas dapat terus dilanjutkan.

“Secara keseluruhan, prospek perhotelan Thailand pada tahun 2026 mencerminkan perpaduan kompleks antara ketahanan dan pengendalian,” ungkap Kieran Chevamongkol.

Lebih lanjut, CBRE Thailand merekomendasikan agar pemilik hotel memerhatikan manajemen aset hotel terutama dalam menghadapi perubahan perilaku tamu dan persaingan yang semakin ketat di pasar hotel dan perhotelan Thailand. 

Menurut Kieran, sektor perhotelan terus berkembang di tengah perubahan pola perjalanan, ketidakpastian ekonomi, dan perluasan pasokan hotel mewah dan kelas atas yang baru. 

“Kondisi ini memberikan tekanan yang lebih besar pada aset yang lebih tua dan mendorong pemilik untuk mengadopsi strategi manajemen aset yang lebih terstruktur dan berbasis data untuk melindungi kinerja jangka panjang,” pungkasnya. (Rinaldi)

 

Muhammad Rinaldi