Cushman & Wakefield Indonesia menyebutkan akan ada pengembangan empat pusat perbelanjaan baru di Depok-Bogor-Tangerang dan Bekasi (Debotabek) hingga akhir 2025. Hal ini akan memacu pasokan kumulatif ruang ritel di daerah peyangga Jakarta tersebut.

Direktur Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo mengungkapkan di paruh kedua tahun 2024, wilayah Debotabek mengalami penambahan empat pusat ritel baru dengan total pasokan 91.500 meter persegi (m2) ruang ritel. Secara tahunan ( year on year) , pasokan kumulatif meningkat sebesar 9,2%, sehingga total pasokan kumulatif menjadi 3.068.400 m2.
Sementara hingga akhir 2025, wilayah Debotabek diperkirakan akan menyambut pengembangan empat pusat perbelanjaan baru yakni Living World Grand Wisata, Markt Lane Sentul, Summarecon Mall Bekasi Fase 2, dan Jakarta Premium Outlet.
“Jika proyek-proyek itu mengikuti jadwal pengembangannya, maka pasokan ruang ritel kumulatif di wilayah Debotabek diproyeksikan akan tumbuh sebesar 4,6% di akhir tahun 2025,” ungkap Arief Rahardjo dalam laporan risetnya.

Di semester kedua 2024, permintaan ruang ritel di kawasan tersebut tumbuh sebesar 4,6% dibandingkan dengan semester sebelumnya, atau meningkatkan total permintaan kumulatif menjadi 2.288.700 m2. Akibatnya, rata-rata tingkat okupansi mengalami sedikit kenaikan menjadi 74,6% atau 1,7% secara tahunan. Sektor hiburan dan pasar swalayan masih menjadi penggerak utama ekspansi.
AEON Store hadir di Tangerang dan Bekasi, yang mendorong permintaan untuk ruang ritel besar. Peritel hiburan juga secara aktif melakukan ekspansi, dengan Playtopia memperkenalkan konsep Sport & Arcade di Supermal Karawaci dan Playtopia Adventure di Pakuwon Mall Bekasi. Pembukaan siginifikan lain termasuk Dino Xscape di Supermal Karawaci, Kid's Box Jumbo oleh Kidzoona di TangCity Mall, dan JFlowers Billiard di Pesona Square.
Dari sisi harga sewa dan biaya pemeliharaan ( service charge ), Cushman & Wakefield Indonesia menyebutkan pasar ritel Debotabek mencatatkan pertumbuhan moderat pada tarif sewa dasar dan service charge , dengan kenaikan tahunan sebesar 1,0% untuk tarif sewa dasar dan 2,0% untuk biaya layanan.
“Tren kenaikan service charge bahkan akan berlanjut pada semester berikutnya,” jelas Arief Rahardjo.
Investasi Unggulan
Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia menambahkan, sektor ritel masih menjadi salah satu sektor primadona yang menjadi pilihan investasi atau termasuk dalam Top Five Sector for Property Investment di Asia Pasifik. Dengan volume investasi yang tertinggi di Asia Pasifik.

“Ritel menjadi salah satu sektor properti dengan investasi yang minim risiko di Asia Tengggara, terutama di Jakarta dan Singapura,” ungkapnya.
Tetapi, Energized and Unstoppable Innovation perlu diterapkan dalam adaptasi ruang ritel saat ini, terutama untuk ritel kelas middle- low sehingga dapat mencapai ketangguhan yang diharapkan. Sedangkan ritel kelas middle-up juga perlu mengadaptasi nilai yang sama untuk terus riding the wave .
Artinya, ungkap Willson Kalip, seluruh kelas ritel saat ini tidak hanya dapat mengandalkan model brick-and-mortar retail , namun multiply channel harus dilakukan untuk bertahan dengan memperluas pemasaran produknya.

Secara umum, Knight Frank Indonesia menyebutkan bahwa di semester kedua tahun 2024, total pasokan mall di Jakarta tetap 4,3 juta meter persegi. Rerata tingkat okupansi ruang ritel berada di kisaran 77,55%, atau menurun tipis dari periode yang sama tahun 2023 (year on year).
Sedangkan rerata harga sewa meningkat sekitar 4,27% dari periode yang sama tahun lalu. Dilaporkan, new tenant in pada ritel kelas middle-up didominasi oleh global brand terutama sektor entertainment dan FnB. Sementara peritel local brand mewarnai di sektor supermarket, home appliance dan FnB.
“ Strata-retail masih penuh tantangan di 2025, ditandai dengan lemahnya okupansi dibandingkan ritel sewa. Namun, tingkat kunjungan terus mengalami kenaikan terutama saat libur panjang akhir tahun,” papar Willson Kalip.
Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memproyeksikan bisnis pusat perbelanjaan akan terus bertumbuh di 2025 sekitar 11%-12% secara tahunan. Pertumbuhan terutama terjadi di kawasan Jabodetabek.
Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja mengatakan secara pasokan baru, sedikitnya lahan di Jabodetabek menjadi tantangan terbesar. Oleh karena itu, pengembangan pusat perbelanjaan ke depan akan berfokus di proyek mixed-used development.
“Dari sisi rasio, luasan mall terhadap populasi di Indonesia masih sangat rendah, bahkan kalah dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ini menjadi peluang pasar,” ujarnya di Jakarta, baru-baru ini.
Meski optimistis pasar pusat perbelanjaan akan bergerak positif di tahun ini, tetapi diakuinya terdapat sejumlah hambatan seperti daya beli masyarakat yang menurun dan periode peak season yang menumpuk di kuartal pertama 2025. (Rinaldi)