Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mendukung pemerintah untuk mempermudah akses pembiayaan perumahan bagi masyarakat Indonesia.
Hal tersebut diwujudkan melalui kolaborasi strategis, dimana BSI siap memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memiliki rumah idaman dengan berbagai skema pembiayaan, baik komersial maupun subsidi.

Direktur Utama BSI, Hery Gunardi mengatakan kerjasama ini akan memperkuat sinergi perseroan dengan lebih dari 6.000 perusahaan properti anggota REI, dimana BSI aktif terlibat dalam pembiayaan perumahan. Tidak hanya di sektor komersial, kolaborasi ini juga memperkuat penyaluran KPR subsidi .
“Kami berharap melalui kolaborasi dengan REI, penyaluran KPR BSI Griya dari anggota REI dapat meningkat hingga 30%. Ini adalah langkah nyata untuk mempermudah masyarakat, khususnya yang berpenghasilan rendah, dalam mendapatkan akses ke rumah layak dan terjangkau,” ungkap Hery.
Presiden RI Prabowo Subianto berkomitmen untuk membangun 3 juta unit rumah selama masa pemerintahannya. Sebanyak 2 juta unit di antaranya akan dibangun di perdesaan dan pesisir, sementara 1 juta unit lainnya di perkotaan.
Saat ini, angka kekurangan ( backlog ) perumahan di Indonesia mencapai 12,7 juta unit. Angka itu terus mengalami peningkatan sebesar 1,7 juta unit per tahun. Data Kementerian PUPR pada tahun 2022 menunjukkan dengan angka backlog perumahan sebesar 12,7 juta unit, sekitar 93% merupakan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Selain itu, sebanyak 60% dari angka tersebut didominasi oleh masyarakat yang bekerja di sektor informal. Hal itu menunjukkan urgensi dalam penyediaan rumah layak bagi masyarakat.
Hery menambahkan, sinergi ini merupakan bagian dari upaya BSI dan REI dalam mendukung program pemerintah terkait pengadaan perumahan yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Kolaborasi dengan REI bukan hanya sebatas angka, tetapi ini adalah tugas mulia untuk menyediakan perumahan yang layak, dan memperluas akses bagi masyarakat Indonesia yang membutuhkan rumah,” tegasnya.
Penegasan senada diungkapkan Ketua Umum DPP REI, Joko Suranto. Menurut Anggota Satgas Perumahan tersebut, angka backlog rumah sebanyak 12,7 juta unit itu dalam satu dekade hanya turun di bawah 10% saja. Hal itu menuntut adanya perubahan tata kelola termasuk dari sisi dukungan pembiayaan.
“Pembangunan 3 juta rumah per tahun ini adalah lompatan besar yang dapat menyelesaikan permasalahan backlog perumahan, asalnya dikelola secara benar. REI akan bekerja keras agar program 3 juta rumah per tahun ini bisa terwujud termasuk kesiapan mendampingi kontraktor desa untuk membangun rumah layak sesuai standar,” ujarnya.
CEO Buana Kassiti Group tersebut menambahkan, guna menyukseskan program 3 juta rumah, REI telah menyiapkan beberapa strategi. Pertama, mendorong pemerintah untuk menyiapkan captive market -nya terlebih dahulu melalui data profiling mengenai kriteria, siapa dan dimana saja masyarakat yang membutuhkan rumah agar inline antara pasokan dan permintaan.
Kedua, REI juga sudah menyiapkan peta jalan ( road map ) untuk menyelesaikan backlog perumahan melalui pendekatan propertinomic. Bahkan, road map sudah disampaikan langsung kepada presiden terpilih Prabowo Subianto. Ketiga, REI saat ini tengah memitigasi beberapa peraturan yang perlu disinkronisasi dan diharmonisasi terutama yang berkaitan dengan perizinan.

Keempat, REI sedang memperdalam kajian terkait dana pendampingan untuk mendorong percepatan pencapaian 3 juta rumah terutama untuk pendampingan bagi kelompok masyarakat sedikit di atas MBR dengan penghasilan Rp8 juta – Rp15 juta per bulan. “Sumber dana pendampingan berasal dari dana pensiun, dana badan penjaminan sosial, dana asuransi dan sebagainya,”ungkapnya.
Dukung Kegiatan REI
Kolaborasi lain terkait dengan rencana REI untuk menyelenggarakan 50 kegiatan hingga tahun 2025, BSI akan turut serta secara eksklusif dalam kegiatan tersebut. Melalui berbagai kegiatan ini, REI dan BSI berupaya memperkuat hubungan dengan para pengembang dan mendorong pertumbuhan sektor perumahan di Indonesia.
Tidak hanya itu, Hery juga menambahkan bahwa kemitraan dengan REI dan para pengembang adalah bentuk kerja sama yang saling menguntungkan. Saat ini, BSI menempati posisi sebagai bank terbesar keenam dalam hal penyaluran pembiayaan perumahan. Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia dengan lebih dari 21 juta nasabah, BSI bekerja sama dengan REI dan asosiasi pengembang untuk menyediakan perumahan yang layak dan berkualitas bagi masyarakat.
Dia mengaku optimis kolaborasi ini akan memberikan dampak signifikan dalam mendorong pertumbuhan sektor perumahan di Indonesia. BSI pun siap menyediakan dukungan pembiayaan, sementara pengembang di bawah naungan REI akan menyediakan hunian yang berkualitas dan layak.
“Kami merasa tidak ada kendala untuk mendukung pembiayaan. Harapan kami, ke depan BSI akan terus berperan aktif dalam membantu mengatasi permasalahan backlog perumahan di Indonesia,” pungkas Hery. (Rinaldi)