• 21 Apr, 2026

Properti mewah di Malaysia tengah berada di puncak permintaan, didorong peluang investasi dan pendidikan. Mengutip laporan The Strait Times, terjadi peningkatan permintaan properti terutama di Kuala Lumpur, baik di kawasan pusat bisnis (CBD) dan kawasan kelas atas seperti Bukit Damansara, Bangsar, dan Kenny Hills.

Menurut Juwai IQI, properti hunian mewah, yang biasanya dihargai RM1 juta (Sin$300.000) ke atas, sangat diminati. Angka ini hampir dua kali lipat dari harga rata-rata apartemen baru, yang mencapai RM582.887. 

CEO Juwai IQI Kashif Ansari mengatakan bahwa ada peningkatan 42% dari pembeli Tiongkok pada kuartal pertama tahun 2024 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

“Peningkatan 42% oleh pembeli Tiongkok mengakibatkan peningkatan serupa dalam pembeli yang membeli rumah,” kata Ansari kepada The Straits Times.

Dia menambahkan bahwa pembeli Tiongkok sekarang menjadi segmen pembeli asing terbesar di Malaysia, dengan fokus pada properti di Kuala Lumpur dan Johor dengan harga hingga RM2 juta. 

Meskipun ada tren global investor Tiongkok yang melepas properti di  luar negeri karena meningkatnya biaya hipotek dan melambatnya ekonomi Tiongkok, minat terhadap realestat Malaysia tetap kuat. Laporan itu mengatakan perombakan skema visa tinggal Malaysia My Second Home (MM2H) pada bulan Juni 2024 kini mengharuskan penduduk asing untuk membeli properti, sehingga semakin meningkatkan permintaan.

Menurut laporan tersebut, Malaysia telah meningkat menjadi tujuan Asia Tenggara terpopuler kedua bagi pembeli realestat Tiongkok, melampaui peringkat ketiga sebelumnya pada tahun 2022. 

CEO Zerin Properties Previn Singhe mengatakan telah mengamati peningkatan signifikan dalam transaksi yang melibatkan properti mewah senilai di atas RM4 juta, dengan peningkatan 20% pada paruh pertama tahun 2024 dibandingkan dengan paruh kedua tahun 2023.

“Pemerintahan Malaysia yang stabil, meningkatnya aktivitas ekonomi, dan keberagaman berbagai ras menarik pembeli dari Tiongkok dan Inggris untuk tinggal bersama keluarga mereka di masyarakat multi-kultural,” kata Previs.

Faktor Pendidikan

Kehadiran warga Tiongkok yang terus  meningkat tidak hanya karena alasan investasi, tetapi juga faktor pendidikan.

Kementerian Pendidikan Malaysia melaporkan bahwa jumlah mahasiswa Tiongkok di lembaga pendidikan tinggi meningkat sebesar 35% pada tahun 2023 mencapai sekitar 44.043 orang., Ditambah lagi, jumlah eksekutif dan karyawan Tiongkok yang bekerja di Malaysia telah meningkat empat kali lipat dari 10.000 pada tahun 2021 menjadi sekitar 45.000 saat ini.

Sejak Malaysia memperkenalkan perjalanan bebas visa bagi warga negara Tiongkok pada Desember 2023, negara tersebut telah mengalami lonjakan pariwisata Tiongkok, dengan 1,1 juta pengunjung dalam lima bulan pertama tahun 2024. Selain Malaysia, Thailand juga diproyeksikan akan menjadi salah satu pasar tujuan investor properti dari Tiongkok. 

Direktur Pelaksana Property DNA, Surachet Kongcheep memperkirakan perusahaan-perusahaan yang didanai China ini telah berinvestasi lebih dari 100 miliar baht di Bangkok, Pattaya, dan Phuket. 

Surachet mengatakan jika rencana yang diusulkan untuk meningkatkan rasio kepemilikan properti asing dan jangka waktu sewa disetujui, hal itu dapat memacu lebih banyak investor Tiongkok untuk memasuki pasar properti Thailand untuk membeli unit guna mengantisipasi meningkatnya permintaan dari orang asing.

“Pengembang properti Thailand memperkirakan bahwa peraturan baru akan membantu memperluas penjualan di antara pembeli asing, tetapi bisa jadi perusahaanperusahaan ini, yang dioperasikan oleh nominee Thailand atau investor bersama Thailand, yang akan menyapu bersih semua pasokan,” katanya.

Departemen Pengembangan Bisnis melaporkan bahwa pada paruh pertama tahun 2024, perusahaan perusahaan Tiongkok berinvestasi sebesar 382,06 miliar baht di Thailand, atau 9,48% dari seluruh investasi asing langsung. Hal ini menempatkan Tiongkok di posisi ketiga negara yang paling banyak berinvestasi di kerajaan tersebut, setelah Jepang (993,35 miliar baht, 24,65%), dan Singapura (473,57 miliar baht, 11,75%).

Lima industri atau sektor teratas yang menerima investasi terbanyak dari Tiongkok adalah otomotif dan suku cadangnya (19,47 miliar baht), ban dan ban dalam (16,86 miliar baht), properti bukan untuk tempat tinggal sendiri (14,62 miliar baht), manufaktur baja dan besi (13,65 miliar baht), serta pembangkitan dan distribusi listrik sebesar 12,93 miliar baht.  (Teti Purwanti)

 

Teti Purwanti