Proses transisi pemecahan nomenklatur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menjadi dua entitas yakni Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) dipastikan tidak akan menghambat program pengembangan destinasi dan infrastruktur sektor pariwisata di Tanah Air.
Deputi bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hariyanto menjelaskan bahwa kedeputian yang dinaunginya memegang peran strategis dalam pengembangan destinasi yang dilengkapi dengan pengembangan produk ekonomi kreatif. Hal tersebut tercantum dalam UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan yang salah satu dari empat pilar utama kepariwisataan di dalamnya adalah destinasi pariwisata.
“Salah satu program flagship di kedeputian ini adalah kegiatan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Sebuah program pengembangan desa wisata melalui serangkaian kegiatan, dari visitasi, pendampingan, bantuan sarana prasarana, hingga rangkaian malam anugerah ADWI,” kata Hariyanto.
Sejak tahun 2021 hingga 2024, program ADWI menjadi unggulan dan telah melahirkan 225 desa wisata berprestasi di seluruh Indonesia bahkan ke tingkat internasional dan dunia. Tercatat perkembangannya terus meningkat dari waktu ke waktu. Hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan pada tahun 2023 menunjukkan peningkatan pada beberapa aspek pengembangan desa wisata, yang dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat setelah menjadi bagian dari ekosistem ADWI.
Dimana rata-rata kenaikan kunjungan wisatawan mencapai 80,66 persen di tahun 2021-2022, kemudian meningkatnya pendapatan desa wisata dengan rata-rata 50,91 persen, serta penyerapan tenaga kerja mencapai 3,88 persen.
Dalam rangka memperkuat ekosistem desa wisata, platform Jejaring Desa Wisata (Jadesta) hadir sebagai basis data terintegrasi yang menghubungkan seluruh desa wisata di Indonesia untuk memperluas jejaring dan kolaborasi. Saat ini, sebanyak 6.037 di Indonesia telah bergabung dalam Jadesta, yang mencerminkan komitmen kolektif terhadap kemajuan pariwisata desa.
“Partisipasi ini menjadi bukti bahwa desa wisata terus menjadi fokus dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan dan pembedayaan masyakarat lokal,” jelas Hariyanto.
Pemasaran Kolaboratif
Penegasan yang sama disampaikan Deputi bidang Pemasaran Kemenparekraf, Ni Made Ayu Marthini. Dikatakan, masa transisi tidak menyurutkan semangat pihaknya untuk mencapai target target utama yang diembankan.
“Kita terus lanjutkan, karena tidak ada perubahan dari segi arah, tetap sama agar program pariwisata dan ekonomi kreatif membawa manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Untuk kunjungan wisatawan mancanegara, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) secara kumulatif untuk periode Januari - Agustus 2024 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara telah mencapai 9,09 juta kunjungan. Sedangkan target yang telah ditetapkan untuk kunjungan wisman di tahun 2024 adalah sebesar 14,3 juta wisman.
Untuk memaksimalkan pencapaian pergerakan wisman dalam dua bulan terakhir di tahun 2024, terdapat sejumlah program yang akan dijalankan salah satunya adalah keikutsertaan dalam ajang bursa pariwisata terbesar kedua di dunia, yakni World Travel Market (WTM) London yang akan berlangsung pada 5 hingga 7 November 2024. Made mengatakan, dalam ajang tersebut, pihaknya akan memfasilitasi 46 pelaku industri pariwisata mulai dari hotel, travel agent, dan lainnya.

Selain keikutsertaan di WTM London, program pemasaran dan branding pariwisata Indonesia juga akan dilangsungkan di Kanada, Australia, Tiongkok, dan sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura serta memaksimalkan cross border tourism di Batam dan Bintan.
“Sebelumnya kami juga telah menjalankan program pemasaran kolaboratif dengan berbagai pihak dengan menyelenggarakan familiarization trip dan kampanye Wonderful Indonesia melalui kanal digital yang diharapkan dapat memperkuat citra pariwisata Indonesia di mata dunia sehingga akan mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan,” sebut Made.
Sementara untuk wisatawan nusantara, program yang akan dijalankan adalah kegiatan promosi dan pemasaran yang bekerja dengan berbagai pihak. Mulai dari mitra co-branding Wonderful Indonesia, pemerintah daerah, kerja sama terpadu dengan industri, Di Indonesia Aja Travel Fair, dan lainnya.

Selain itu juga memaksimalkan program-program pemasaran desa wisata seperti Beti Dewi, Senandung Dewi, serta tidak ketinggalan paket wisata 3B (Banyuwangi, Bali Barat, Bali Utara), dan lainnya.
“Dengan adanya aksi kolaboratif ini, semoga sampai akhir tahun ini kita bisa menambah 100 juta wisatawan nusantara,” pungkas Made. (Rinaldi)