Peran aktif Yayasan Lembaga Pengkajian Pengembangan Perumahan dan Perkotaan Indonesia (LP P3I) atau lebih dikenal dengan nama The Housing and Urban Development Institute (The HUD Institute) sangat diperlukan bangsa. Posisi The HUD Institute harus mewakili kepentingan bangsa Indonesia dalam memberikan gagasan bagi kebijakan Perumahan dan Permukiman.
“Bagaimana menjaga HUD jauh dari kepentingan pejabat atau para pengembang. Peran The HUD Institute ini sangat diperlukan bangsa Indonesia untuk secara terus menerus mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Banyak tantangan perumahan yang (harusnya) bisa diselesaikan, tidak hanya dengan uang,” ungkap Fahri Hamzah, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) pada acara Kegiatan Tasyakuran (ulang tahun) ke-14 The HUD Institute di Jakarta, Selasa (14/1).
Menurut Fahri, membangun rumah dan kawasan permukiman itu adalah membangun manusia, membangun peradaban dan bukan hanya fisik (bangunan). Hal itu lanjutnya sesuai dengan kajian-kajian yang sudah dilakukan The HUD Institute sebelumnya. Wamen PKP memuji kajian HUD, salah satunya soal usulan kebijakan perumahan swadaya berbasis komunitas.
“Saya sudah membaca dan mempelajari beberapa masukan HUD. Menurut saya sejauh ini untuk pengembangan perumahan, khususnya di pedesaan usulan HUD soal pengembangan perumahan swadaya berbasis komunitas paling cocok. Di dalamnya bisa masuk koperasi, usaha kecil dan kelompok-kelompok masyarakat yang dilaksanakan secara gotong royong,” tambahnya
Simpul Kolaborasi
Ketua Umum The HUD Institute, Zulfi Syarif Koto mengatakan, The HUD Institute yang dideklarasikan pada hari Jumat, 14 Januari 2011 lalu, telah berkiprah selama 14 tahun dan telah banyak jejak langkah bersama dengan pemangku kepentingan lainnya, baik pemerintah maupun non pemerintah dalam penyelenggaraan perumahan rakyat dan pembangunan perkotaan di Indonesia.
Berjalannya waktu, sambungnya, The HUD Institute telah membuktikan berbagai peran yang telah dijalani, baik sebagai mitra kerja, simpul kolaborasi, maupun pemberi masukan bagi pemangku kepentingan baik pemerintah pusat/daerah maupun non pemerintah (swasta, perguruan tinggi, organisasi profesi/masyarakat, media massa, dan masyarakat).
“Tadi pengarahan Pak Wamen bagus. Beliau mengingatkan bahwa membangun rumah dan kawasan permukiman itu hakikatnya adalah membangun manusia, membangun peradaban, bukan hanya fisik/bangunan semata. Pak Wamen juga memiliki harapan besar ke HUD untuk tetap independen, dan mewakili kepentingan bangsa Indonesia,” paparnya.
Dikatakan Zulfi, The HUD Institute mendorong terwujudnya program 3 juta dan akan turut menjadi bagian yang memberikan sumbang saran yang produktif dan kolaboratif agar program tersebut terlaksana
“Pak Wamen juga meminta The HUD Institute terus mempertajam diskusi, gagasan dan inovasi serta memfasilitasi para peneliti khususnya peneliti muda,” tambahnya.
Sehari sebelumnya, rangkaian kegiatan perayaan The HUD Institute ke-14, dimulai dengan kegiatan Tabur Bunga ke Taman Makan Pahlawan Kalibata, Senin (13/1). Seremonial kegiatan tabur bunga langsung dipimpin oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait.
Tabur bunga dilakukan di makam Alm. Cosmas Batubara (Menteri Negara Perumahan Rakyat Indonesia 1978-1988), Alm. Hasan Basri Durin ( Menteri Negara Agraria 1998 - 1999), Alm. Mohammad Yusuf Asyari (Menteri Negara Perumahan Rakyat Indonesia 2004-2009) serta Alm. Hermanto Dardak (Wakil Menteri PU 2009-2014). (Rinaldi)