Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menekankan pariwisata berkelanjutan sebagai masa depan sektor pariwisata dunia termasuk Indonesia. Pariwisata berkelanjutan mengusung konsep berwisata yang dapat memberikan dampak jangka panjang, baik terhadap sosial, budaya, maupun bagi ekonomi dan lingkungan.
“Kita membahas masa depan industri pariwisata yang terutama berputar di sekitar pembangunan berkelanjutan dan menjajaki bagaimana kita dapat meningkatkan pertumbuhannya,” kata Sandiaga di Westminster International University of Tashkent, Uzbekistan, Rabu (2/10).
Menparekraf menjadi dosen tamu dalam “Seminar with Westminster International University of Tashkent” di Uzbekistan.
Dia menjelaskan, Pemerintah Indonesia menghadirkan berbagai program atau kebijakan yang mendorong terwujudnya pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Di antaranya adalah pengurangan emisi karbon, pelestarian sumber daya alam, budaya, serta tradisi lokal.
Sandiaga mengungkapkan, Indonesia mendukung penandatanganan Deklarasi Glasgow pada 2022. Ini menjadi salah satu bukti komitmen Pemerintah Indonesia dalam menyelaraskan kebijakan pariwisata dengan tujuan aksi iklim. Hal itu, menurutnya, juga menandakan urgensi untuk mempercepat aksi iklim dalam pariwisata untuk mendukung tujuan global untuk mengurangi separuh emisi pada tahun 2030 dan zero emisi sebelum tahun 2050.
Kemenparekraf pun memiliki program Carbon Footprint Calculator (CFPC) yang merupakan upaya dalam melakukan pengimbangan nilai emisi yang telah dihasilkan, dengan menyerap jejak karbon demi membantu mencegah dampak buruknya pada iklim.
“Kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif harus intended , bahwa isu-isu lingkungan ini menjadi isu utama kita, sehingga ini dapat meningkatkan nilai reputasi dan kepercayaan publik pada sektor pariwisata, serta menguatkan gerakan pariwista ramah iklim,” tegas Menparekraf Sandiaga.
Dia tambahkan, Kemenparekraf juga telah mengimplementasikan program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dalam empat tahun terakhir. Ekosistem yang terbentuk pun dinilai semakin baik dan telah fokus pada nilai-nilai keberlanjutan.
Indonesia juga sedang mempersiapkan Indonesia Quality Tourism Fund, agar memperkuat sektor pariwisata Indonesia dengan menyediakan pendanaan untuk proyek-proyek yang berkelanjutan lingkungan dan memiliki potensi tinggi untuk menarik wisatawan serta mendorong pertumbuhan ekonomi di lingkungan destinasi pariwisata. Dana tersebut akan disiapkan untuk disalurkan pada tahun 2025 dengan total US$131 juta atau sekitar Rp2 triliun pada tahun pertama.
“Dana ini diarahkan untuk penyelenggaraan event berskala besar yang berkelanjutan lingkungan, juga bermanfaat secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat lokal di destinasi pariwisata,” katanya.
Menparekraf Sandiaga menyampaikan, dalam melaksanakan program pariwisata yang berkelanjutan ini, fondasi dasar yang dilakukan Pemerintah Indonesia adalah mengembangkan regulasi untuk membangun kerangka kerja yang mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Bahas Peluang Investasi

Sebelumnya, Menparekraf Sandiaga Salahuddin bertemu dengan Menteri Investasi, Perindustrian, dan Perdagangan Uzbekistan, Kudratov, untuk membahas peluang investasi di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia yang kian kondusif dan menunjukkan tren positif.
Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di Kantor Kementerian Investasi, Perindustrian, dan Perdagangan Uzbekistan, Sandiaga menjelaskan bahwa Indonesia diproyeksikan akan menjadi pasar konsumen terbesar ke-4 dunia pada 2030, dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka 5 persen setiap tahunnya.
“Dengan potensi tersebut Indonesia membuka peluang bagi Uzbekistan untuk menanamkan investasinya di sektor parekraf," kata Sandiaga.
Kawasan yang membuka peluang investasi di antaranya Mandalika, Lombok Tengah; Likupang, Minahasa Utara; Tanjung Kelayang, Belitung; Tanjung Lesung, Pandeglang; Nongsa, Batam; Lido, Bogor; Singasari, Malang; Morotai; KEK Sanur, Denpasar; dan Kura-Kura Bali, Denpasar.
Sektor usaha yang ditawarkan sebagai peluang investasi juga beragam mulai dari akomodasi, food and beverage , atraksi wisata, pariwisata berkelanjutan dan regeneratif, wellness and health tourism, sports tourism , hingga ekonomi kreatif dan digital.
"Kami pun memberikan kemudahan berinvestasi melalui sejumlah insentif seperti kemudahan prosedur investasi melalui Risk Based Approach Licensing dan Online Single Submission (OSS), golden visa , hingga insentif dan manfaat untuk para investor yang menanamkan investasinya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)," kata Sandiaga.

Khusus, Indonesia menawarkan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) selain Likupang yakni Danau Toba, Mandalika, Labuan Bajo, dan Borobudur yang mengusung green tourism sebagai konsep pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
Tercatat nilai realisasi investasi parekraf tahun 2023 mencapai Rp45,35 triliun. Dengan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp14,8 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp30,54 triliun. Untuk tahun 2024 di semester I, nilai realisasi investasi pariwisata dan ekonomi kreatif pada 2024 semester I sebesar Rp23,71 triliun. Dengan PMA US$617,1 juta dan PMDN sebesar US$963,79 juta.
Menparekraf menyampaikan, Indonesia berhasil mendapatkan pengakuan internasional. Dimana peringkat Indeks Kinerja Pariwisata naik dari posisi ke-32 ke posisi ke-22, menurut Travel and Tourism Development Index (TTDI) yang dirilis secara resmi oleh World Economic Forum (WEF). Selain itu, menurut Global Muslim Travel Index (GMTI) dalam dua tahun berturut-turut, Indonesia menempati posisi pertama sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia.
“Dengan daya tarik wisata yang semakin diakui dunia internasional dan iklim investasi yang kondusif, Indonesia menjadi pilihan yang tepat bagi para investor global,” pungkas Sandiaga. (Rinaldi)