Diperkirakan kinerja hotel di Bali sepanjang tahun 2024 akan lebih baik daripada 2023. Tren kedatangan wisatawan asing terus meningkat dan diprediksi akan melebihi angka kunjungan di 2023. Hingga kuartal III-2024, secara keseluruhan okupansi hotel terlihat terus meningkat.
Riset yang dilakukan Colliers Indonesia menyebutkan tingkat keterisian hotel (okupansi) di Bali terus meningkat. Kawasan Kuta, Legian, Seminyak dan Canggu masih menjadi pilihan menginap para wisatawan. Namun, karena banyak kegiatan Meeting, Incentive, Conference, and. Exhibition ( MICE) dengan skala internasional diselenggarakan di Bali, maka kawasan Nusa Dua dan Tanjung Benoa yang kerap menjadi lokasi MICE mengalami peningkatan okupansi yang signifikan di kuartal III-2024.
“Libur sekolah bagi wisatawan domestik dan musim libur musim panas bagi beberapa negara lain memberi dampak positif karena banyak yang berlibur ke Bali,” ungkap Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto dalam paparannya, baru-baru ini.
Diperkirakan keterisian akan sedikit menurun di kuartal IV terlebih di bulan Oktober dan November, karena musim liburan baik domestik maupun overseas mulai selesai. Sama dengan tingkat keterisian, diperkirakan tingkat harga rata-rata akan sedikit menurun di kuartal akhir tahun ini terutama bulan Oktober dan November. Namun akan terjadi lonjakan kembali di bulan Desember, terlebih menjelang libur Natal dan Tahun Baru.
Diperkirakan sampai akhir 2024 kinerja hotel di Bali secara keseluruhan akan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Jumlah kedatangan wisatawan asing dan domestik terus meningkat. Sementara kegiatan offline MICE juga terus meningkat.
Dampaknya, performa baik AOR maupun ADR diperkirakan ikut mengalami peningkatan.
“Tren kedatangan wisatawan asing terus meningkat. Sampai dengan bulan Agustus 2024, dengan selisih 20.4% dengan tahun lalu, diperkirakan kunjungan wisatawan asing akan melebihi angka 2023,” sebut riset tersebut.
Di kuartal III-2024, secara keseluruhan okupansi hotel meningkat. Di sisi lain, tidak ada pasokan hotel baru di Bali pada kuartal tersebut. Justru, di Bali terjadi penurunan pasokan karena ada hotel yang akan di- rebrand dan sedang renovasi hotel khususnya didominasi oleh hotel bintang 5.
Disebutkan, saat ini pembangunan hotel baru di Bali tidak lagi terkonsentrasi di Bali bagian selatan. Lokasi favorit pembangunan hotel baru di Pulau Dewata kini mulai mengarah ke Ubud, Uluwatu, atau Canggu.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat secara quarter to quarter (q to q) ekonomi Bali pada triwulan II tahun 2024 tumbuh sebesar 6,34 persen. Pertumbuhan tersebut didorong aktivitas pariwisata dan konsumsi masyarakat.
Kepala BPS Bali, Endang Retno Sri Subiyandani menjelaskan peningkatan transaksi keuangan serta tumbuhnya kunjungan wisman, diperkirakan menjadi faktor pendorong ekonomi Bali terus tumbuh pada triwulan II-2024 secara (YoY). Jumlah kunjungan wisman yang meningkat 17,86 persen secara year on year (yoy). Tercatat, tingkat hunian kamar atau okupansi hotel bintang meningkat rata-rata 12,79 persen poin secara yoy.
Jumlah keberangkatan penumpang domestik dan internasional dari Bandara Ngurah Rai Bali meningkat masing-masing 5,18 persen dan 25,77 persen secara yoy. Selain itu, momen Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha yang diikuti dengan cuti bersama, masa libur sekolah, dan event Pesta Kesenian Bali ke-46 mendorong peningkatan mobilitas dan konsumsi masyarakat Bali
“Jumlah kunjungan wisman pada triwulan II-2024 naik 17,86 persen. Indikator Tingkat Penghunian Kamar (TPK) tercatat meningkat, baik untuk kelompok hotel bintang maupun non bintang pada kuartal II-2024. Penyelenggaraan beberapa event internasional di Bali, salah satu yang terbesar yaitu World Water Forum (WWF) pada bulan Mei 2024 berdampak langsung pada tingkat hunian hotel bintang yang naik signifikan khususnya di kawasan Badung Selatan
Moratorium Hotel
Sebelumnya, Pj Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya, mengusulkan moratorium pembangunan hotel di empat daerah tersibuk di Bali kepada pemerintah pusat. Usulan tersebut untuk mengatasi pembangunan yang berlebihan untuk tujuan komersial seperti hotel , villa, dan klub pantai.
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan mendukung usulan tersebut. Menurutnya, moratorium tersebut dapat berlangsung hingga 10 tahun. Dia mengungkapkan ada sekitar 200 ribu orang asing kini tinggal di Bali, yang berkontribusi terhadap berbagai masalah sosial termasuk kriminalitas dan persaingan untuk memperoleh pekerjaan.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno pun mendukung usulan Pemerintah Provinsi Bali untuk melakukan moratorium hotel dan villa terutama di kawasan Bali Selatan. “Pemerintah tengah merancang kebijakan moratorium pembangunan hotel dan villa di Bali,” ungkapnya.

Menanggapi rencana moratorium pembangunan hotel dan villa di Bali, Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) bidang Perkantoran dan Perhotelan, Wahyu Sulistio mengatakan adanya rencana moratorium pembangunan hotel dan villa di Bali tidak masalah. Langkah tersebut seharusnya positif karena akan membuat pasar properti di Bali semakin terbatas.

“Pasokan yang terbatasnya akan meningkatkan okupansi hotel dan villa yang sudah ada, serta mendorong kenaikan harga properti di Bali. Jadi bisnis perhotelan di Bali bisa semakin prospektif,” ungkap Direktur PT Metopolitan Land Tbk tersebut.
Menurutnya, Bali masih menjadi destinasi primadona wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Hal ini mendorong Metland membangun suites dan villa mewah yang memiliki pemandangan alam indah perbukitan dan lembah, serta dikelilingi pepohonan asri dengan brand Metland Venya Ubud.
Di atas lahan seluas 2 hektar, Metland akan membangun 21 unit kamar hotel dan 54 unit villa dengan nilai investasi mencapai Rp200 miliar. (Rinaldi)