• 05 Jun, 2026

Di tengah pasar yang masih melambat, Rumah123 Flash Report September 2025 menyebutkan bahwa harga rumah sekunder atau rumah seken di Depok menunjukkan tren paling positif. Secara nasional, pertumbuhan harga di Depok hanya setingkat di bawah Yogyakarta.

Hingga Agustus 2025, pertumbuhan harga rumah seken di Kota Depok mencapai 3,8% secara tahunan ( year on year ). Angka tersebut jauh berada di atas rata-rata Jabodetabek yang hanya tumbuh 0,3% dan secara nasional sebesar 0,2%. Hal ini memperlihatkan Depok tetap konsisten sebagai pasar yang dinamis.

“Capaian ini menunjukkan daya tarik Depok sebagai lokasi hunian alternatif dekat Jakarta dengan dukungan infrastruktur yang terus berkembang,” ungkap Head of Research Rumah123, Marisa Jaya dalam keterangannya, baru-baru ini.

Kawasan Cinere dan Sawangan menjadi contoh menarik dengan karakter pasar yang berbeda. Cinere kuat di segmen menengah atas, sementara Sawangan tumbuh sebagai magnet baru untuk hunian menengah bawah.

Menurut Marisa, kondisi ini menjadi sinyal kuat bagi pencari hunian untuk segera mengambil keputusan sebelum harga berpotensi lebih tinggi.

Bagi investor, Depok menawarkan prospek jangka panjang yang menjanjikan karena adanya potensi apresiasi nilai properti di masa depan.

depok3.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Dari sisi permintaan, Depok mencatat pertumbuhan enquiries  sebesar 5,5% sepanjang Januari–Agustus 2025 dibanding periode sama di 2024. Bila dibandingkan dengan tahun 2023, lonjakan bahkan mencapai 1,6 kali lipat. Ini sekaligus memperlihatkan bahwa meski terjadi fluktuasi, minat terhadap rumah seken di Depok tetap stabil.

“Tren stabil ini salah satunya didorong oleh pembangunan infrastruktur yang masif,” sebut Marisa.

Diantaranya keberadaan tol Depok–Antasari dan jaringan Serpong–Cinere hingga Jagorawi yang tersambung hingga Cibitung Bekasi, sehingga menjadikan aksesibilitas kawasan semakin baik. Bagi masyarakat yang bekerja di Jakarta, mengingat tol ini memangkas waktu tempuh secara signifikan. Efeknya, hunian di Depok menjadi lebih menarik, baik untuk keluarga muda yang mencari rumah pertama maupun bagi investor yang menargetkan capital gain .

Selain itu, ungkapnya, fluktuasi permintaan juga menunjukkan adanya perbedaan preferensi antar kecamatan. Kawasan yang memiliki akses tol lebih dekat cenderung mengalami peningkatan minat lebih cepat. Hal itu bisa dilihat dari tingginya permintaan di Cinere dan Sawangan, yang masing-masing mencapai lebih dari 15% dari total enquiries  di Depok.

Dari sisi popularitas, 10 kecamatan paling diminati di Depok antara lain Cinere (16,3%), Sawangan (15,8%), Cimanggis (12,8%), Beji (11,2%), dan Pancoran Mas (8,6%).

Cinere menjadi area paling populer dengan porsi permintaan 16,3%.  Kawasan ini dikenal sebagai pilihan utama pembeli menengah hingga menengah atas karena lokasinya dekat Jakarta Selatan.  Data menunjukkan 54,7% permintaan Cinere berada di kisaran Rp1 miliar – Rp3 miliar, menjadikannya pusat pertumbuhan segmen premium di Depok.

Beji dan Cimanggis cenderung diminati segmen menengah dengan dominasi permintaan pada rumah Rp400 juta–Rp1 miliar.  Proporsinya mencapai 51,2% di Beji dan 55,2% di Cimanggis. Kedua wilayah ini menarik bagi masyarakat yang mencari hunian terjangkau, tetapi masih memiliki akses kota yang cukup strategis.

Sementara itu, Pancoran Mas serta Sawangan lebih banyak menyerap permintaan di bawah Rp400 juta, masing-masing sebesar 35,3% dan 48,7%.  Meski demikian, Sawangan menarik perhatian karena dalam beberapa tahun terakhir terus berkembang dengan kehadiran tol dan proyek-proyek perumahan dari pengembang besar. Kawasan ini diproyeksi menjadi pusat pengembangan masa depan di Depok. 

“Potensi naik kelas membuat Sawangan digadang sebagai pusat pertumbuhan baru perumahan di Depok,” jelas Marisa.

Di atas Depok, secara nasional ada Kota Yogyakarta yang menempati posisi tertinggi pertumbuhan rumah seken hingga sebesar 4% ( year on year ) hingga Agustus 2025.  

Selain Yogyakarta, di Pulau Jawa tercatat harga rumah seken di Kota Semarang tumbuh 1% dan di luar Pulau Jawa hanya Denpasar yang tumbuh 3,3% secara tahunan. Sedangkan di Jabodetabek, posisi kedua (setelah Depok) ditempati Tangerang yang tumbuh secara tahunan sebesar 1,4%. 

Harga rumah sekunder secara nasional hingga Agustus 2025 tercatat tumbuh tipis 0,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lokasi Terpopuler

Yang menariknya, Tangerang juga berhasil menempati kembali posisi teratas sebagai lokasi rumah paling populer di Indonesia dengan porsi 15% dari total daftar permintaan informasi ( listing enquiries) pada bulan tersebut. Disusul Jakarta Selatan dengan 12,9% dan Jakarta Barat 10,5%.

ispas.jpg

Secara bulanan (month-on-month) di kawasan Jabodetabek, Jakarta Barat mencatat pertumbuhan popularitas tertinggi sebesar 1,2%, diikuti Depok (0,2%) serta Jakarta Pusat dan Jakarta Timur yang masing-masing naik tipis 0,1%.

depok6.jpg

Di luar Jabodetabek, Semarang dan Malang mencatat pertumbuhan popularitas masing-masing 0,2% dan 0,1%. Sementara di luar Pulau Jawa, Denpasar tercatat menjadi kota dengan pertumbuhan minat tertinggi meski hanya naik tipis 0,1%. Sebaliknya, penurunan popularitas terjadi di Tangerang (-0,7%), Bandung (-0,3%), dan Surabaya turun -0,2%. (Rinaldi)

 

 



 

 

Muhammad Rinaldi