• 21 Apr, 2026

Di tengah ketidakpastian global, Bank Indonesia (BI) terus berupaya memperkuat stabilitas dan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia dari dampak rambatan global dengan mempertahankan BI-Rate dan meningkatkan sinergi kebijakan dengan pemerintah dan dunia usaha.

Hal tersebut mengemuka pada acara seminar nasional yang diselenggarakan Bank Indonesia di Gedung BI, Jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat, pada Rabu (5/3). Seminar nasional itu mengusung tema “Memperkuat Stabilitas Dan Menjaga Pertumbuhan Dari Dampak Rambatan Global” yang dimoderatori Direktur BI, Bambang Arianto.

Salah satu narasumber pada seminar nasional ini adalah Kepala Badan Advokasi dan Perlindungan Anggota DPP Realestat Indonesia (REI) Adri Istambul Lingga Gayo.

adri2.jpg

Dia mengatakan, REI sebagai asosiasi pengembang tertua dan terbesar di Indonesia mengusulkan agar BI melanjutkan kebijakan makroprudential yang longgar pada pembiayaan di industri perumahan agar mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan sebesar 8% di 2025. 

“Dalam hal ini perlu untuk penurunan suku bunga kredit, kajian penerapan Loan To Value (LTV) secara dispasial maupun pembiayaan yang inklusif,” ungkap Adri.

Menurutnya, posisi REI seperti yang disampaikan Ketua Umum DPP REI Joko Suranto adalah mendukung penuh Asta Cita yang menjadi program pemerintahan Presiden Prabowo melalui paradigma Propertinomic. Pendekatan Propertinomic adalah konsep yang menggabungkan aspek properti dan ekonomi, dimana sektor properti berperan besar sebagai pengungkit perekonomian nasional.

“Konsep ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memenuhi kebutuhan perumahan rakyat,” jelasnya.

Penuh Tantangan 

Seminar nasional tersebut dibuka oleh Juda Agung, Deputi Gubernur BI sekaligus peluncuran Kajian Stabilitas Keuangan Nomor 44 yang dihadiri juga oleh Muliaman Hadad yang pernah menjabat Deputi BI dan Kepala OJK yang sekarang menjabat Wakil Dewan Pengawas Danantara.

Prospek ekonomi domestik pada 2025 diperkirakan tetap baik di tengah prospek ekonomi global yang masih diwarnai dinamika tinggi dan penuh tantangan. Diperkirakan ekonomi dunia tumbuh 3,2% pada tahun 2025. Sementara BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2025 dalam kisaran target 11%-13%. (Rinaldi)

 

 

Muhammad Rinaldi