Meski pasar mengalami tekanan hingga kuartal II-2025, namun investasi properti di Asia Pasifik hingga akhir tahun ini diproyeksi masih akan bertumbuh sekitar 10%-15% berkat permintaan kuat investor di sejumlah negara seperti Korea, Jepang, dan Singapura.
Demikian diungkap CBRE, perusahaan investasi dan jasa konsultasi realestat komersial asal Amerika Serikat.
Aktivitas penggalangan dana yang kuat dan spread imbal hasil positif yang semakin besar di sebagian besar pasar kemungkinan akan terus memberikan dukungan bagi investasi properti di kawasan ini, meskipun kinerja imbal hasil akan terus bervariasi.

Data CBRE menyebutkan, sektor perkantoran di kuartal II-2025 disebut melemah, karena sebagian besar pasar melaporkan penurunan permintaan dan pengambilan keputusan. Namun, aktivitas penyewaan perkantoran dapat meningkat pada semester II 2025 di tengah stabilnya kepercayaan bisnis dan pengetatan mandat untuk kembali ke perkantoran.
“Kami memperkirakan aktivitas penyewaan perkantoran akan setara dengan tahun 2024," ungkap CBRE dalam laporan risetnya.
Untuk sektor logistik, berdasarkan survei Penghuni Logistik Asia Pasifik CBRE 2025 menunjukkan adanya penurunan optimisme, dengan banyaknya penyewa berencana menyesuaikan portofolio dan merestrukturisasi rantai pasokan. Namun volume sewa logistik diperkirakan akan tetap stabil, didorong sikap pemilik properti yang lebih fleksibel; permintaan yang kuat dari perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang konsumsi domestik; serta penyewa yang merencanakan ekspansi jangka menengah hingga panjang.
Di sektor ritel , sentimen konsumen yang lemah dan pengeluaran diskresioner yang lesu mendorong para pengecer untuk lebih berhati-hati terhadap perencanaan realestat pada paruh pertama 2025. Preferensi yang kuat para pengecer terhadap lokasi inti utama akan memastikan tingkat kekosongan terus menurun, meski laju pertumbuhan sewa akan tetap rendah.
Sementara Tarif Harian Rata-Rata (ADR) hotel terus tumbuh di sebagian besar pasar, sementara okupansi meningkat seiring para pelaku bisnis perhotelan menerapkan berbagai strategi penetapan harga dan operasional untuk meningkatkan kinerja. Jepang, Korea, Vietnam, dan India diperkirakan akan memimpin kinerja Pendapatan per Kamar yang Tersedia (RevPAR) sepanjang tahun ini.
Di Asia Tenggara, hingga akhir tahun situasi pasar masih bervariasi. CBRE menilai kinerja perhotelan di Vietnam membaik berkat tingginya kunjungan wisatawan. Begitu juga Indonesia, meskipun tarif di Indonesia meningkat yang disebabkan oleh penurunan tingkat hunian hotel terutama di Bali. Sementara di Thailand, setelah tahun 2024 yang solid, diperkirakan akan mengalami penurunan kinerja karena banyaknya pembatalan pemesanan oleh wisatawan Tiongkok daratan karena masalah keamanan.

Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus memproyeksi sektor properti di dalam negeri pada 2025 masih berpeluang tumbuh tipis seperti yang terjadi pada 2024. Meski begitu, harga rumah diprediksi bakal meningkat signifikan karena stok hunian semakin menipis, sehingga pengembang akan menahan koreksi harga jual rumah.
“Pengembang berupaya memaksimalkan keuntungan dari unit-unit tersisa. Kemungkinan harga turun sangat kecil, terlebih saat ini konsumen sudah terbantu insentif pemerintah berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah baru sebesar 100% hingga akhir tahun nanti,” ungkapnya.
Diakui Anton, pemangkasan anggaran di berbagai kementerian dan lembaga sangat berdampak pada daya beli masyarakat di semester I-2025. Namun, dia memproyeksikan kondisi pasar akan membaik di semester II-2025 ditopang beberapa agenda prioritas dalam RAPBN 2026 yang mungkin berdampak pada sektor properti terutama pembangunan infrastruktur yang diharapkan mendorong kembali daya beli, serta reformasi birokrasi yang dapat menciptakan iklim investasi menjadi lebih baik, termasuk di sektor properti.
Penuh Dinamika
Cushman & Wakefield menilai meski penuh dinamika, namun sektor realestat di Asia Pasifik di beberapa negara masih akan bertumbuh pesat. Perusahaan konsultasi properti tersebut menilai pertumbuhan ekonomi yang stabil di tingkat regional sebesar 3,7% pada tahun 2025, akan mendukung sektor properti di kawasan Asia Pasifik.
Kebijakan Presiden Trump tahun 2025 termasuk perang tarif dagang disebutkan telah menimbulkan ketidakpastian yang meningkat di kawasan Asia Pasifik yang berpotensi menimbulkan risiko perlambatan momentum pertumbuhan ekonomi.

“Kendati untuk bisnis properti tetap memiliki momentum positif di 2025 yang didorong permintaan domestik yang kuat dan investasi realestat di Asia Pasifik yang stabil,” ungkap Dominic Brown, Global Head of Demographic Insight, APAC-lead Cushman & Wakefield.
Sektor properti di Asia Pasifik juga mencatatkan kinerja yang baik di awal tahun 2025. Hal itu ditandai dengan permintaan yang cukup sehat di segmen residensial dan meningkatnya aktivitas transaksi investasi. (Teti Purwanti)