• 21 Apr, 2026

Kementerian Perindustrian terus berperan aktif dalam mendorong penguatan industri halal di Indonesia. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai pusat industri halal global.

“Kami berkomitmen meningkatkan daya saing industri halal melalui berbagai program strategis, termasuk standardisasi, sertifikasi halal, serta fasilitasi inovasi dan teknologi bagi pelaku industri dalam negeri,” kata Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Andi Rizaldi dalam keterangan resminya di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, industri halal memiliki potensi besar untuk dikembangkan, baik di pasar domestik maupun global. Merujuk pada data yang dirilis dalam State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) edisi 2023/2024, konsumsi produk halal global diperkirakan mencapai US$2,4 triliun pada tahun 2024 dan diproyeksi menembus US$3,1 triliun pada tahun 2027.

halal4.jpg
FOTO FOTO ISTIMEWA

Oleh karena itu, Indonesia berpeluang besar menjadi hub atau pusat industri halal dunia, yang merupakan bagian tujuan masterplan industri halal Indonesia. Apalagi, ungkap Andi, Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. 

“Dengan potensi ini, kami bertekad mendukung penguatan ekosistem industri halal dengan memastikan penerapan standar halal yang berkualitas dan berdaya saing tinggi,” tuturnya.

Sebagai langkah nyata, Kemenperin telah melakukan berbagai inisiatif melalui unit-unit kerja di bawah binaannya, seperti penyediaan layanan sertifikasi halal, pengembangan laboratorium pengujian halal, serta peningkatan kapasitas industri melalui pelatihan dan konsultasi. Bahkan terus mendorong Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) di bawah naungan Kemenperin untuk lebih memaksimalkan potensi layanan yang beragam dengan cakupan pemeriksaan nasional dan internasional. 

Guna mendukung upaya tersebut, Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Hasil Perkebunan, Mineral Logam, dan Maritim (BBSPJIHPMM) Makassar, salah satu unit kerja di bawah BSKJI Kemenperin, resmi meraih status LPH Utama setelah menerima Sertifikat Akreditasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Pencapaian ini menandai langkah penting bagi BBSPJIHPMM dalam memberikan layanan sertifikasi halal yang lebih luas dan terpercaya.

Dengan status LPH Utama, maka lembaga ini siap melayani pemeriksaan halal pada skala industri kecil dan menengah hingga industri besar. Adapun ruang lingkup sektor industrinya, antara lain makanan dan minuman, produk kimiawi, barang gunaan, serta berbagai layanan jasa seperti pengemasan, pendistribusian, penyembelihan, pengolahan, penyimpanan, penjualan, hingga penyajian.

Saat ini, BBSPJIHPMM memiliki 11 layanan existing yang mencakup layanan Pengujian, Kalibrasi, Sertifikasi Produk, Layanan Pemeriksa Halal, Inspeksi Teknis, Industri Hijau, Konsultasi Industri, Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Industri, Pendampingan Teknis, dan layanan Verifikasi TKDN serta Penyewaan Sarana dan Prasarana.

Sebagai LPH Utama, BBSPJIHPMM juga berupaya untuk memberikan kemudahan bagi pelaku usaha dalam memperoleh sertifikasi halal yang sah dan diakui, sekaligus memastikan keberlanjutan produk halal yang memenuhi standar nasional dan internasional.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan Indonesia memiliki bonus demografi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan industri halal. Terlebih, populasi muslim Indonesia adalah yang terbesar di dunia, sehingga menjadi pasar untuk produk-produk berbasis halal. 

Di sisi lain, permintaan produk halal di seluruh dunia akan terus meningkat, sehingga menjadi peluang besar untuk mengekspor produk halal ke berbagai negara. Hal ini tentu saja menjadi ceruk bagi pengembangan kawasan industri halal di Tanah Air.

“Kami kira untuk produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG) terutama makanan dan minuman pasar lokal dan global akan mengacu kepada produk-produk halal, karena populasi muslim yang terus meningkat,” pungkas Sari, demikian dia akrab disapa saat dihubungi.

Saat ini di Indonesia ada tiga kawasan industri halal yaitu Modern Halal Valley di Cikande Serang, Banten;  Safe N Lock Halal Industrial Park di Sidoarjo, Jawa Timur; serta Bintan Inti Halal Hub di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Kejar Ketertinggalan

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri halal global. Namun, saat ini Indonesia hanya menguasai 3% dari total perdagangan industri halal dunia.

Disebutkan, Indonesia memiliki sumber daya dan pasar yang besar, tetapi masih tertinggal dalam ekspor produk halal. Kita harus bergerak cepat dan strategis untuk meningkatkan daya saing global. 

“Proses sertifikasi halal kami genjot agar semakin mudah, murah, dan cepat, agar industri kita bisa lebih kompetitif di pasar internasional," ujar Haikal Hasan pada Indonesia Muslim Market Outlook 2025 di Jakarta, baru-baru ini.

Adi Saputra Tedja Surya, Direktur Utama PT Makmur Berkah Amanda Tbk selaku pengembang Kawasan Industri Halal (KIH) di Sidoarjo, Jawa Timur melihat potensi besar industri halal di Indonesia. Menurutnya, 24% dari populasi dunia adalah muslim dengan kontribusi sebesar US$ 2,2 triliun per tahun dan diprediksikan akan naik sebesar 5,2% per tahun mencapai US$ 3,2 triliun.

Terlebih, Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dengan jumlah penduduk muslim sebesar 299 juta jiwa justru menjadi importir produk halal terbesar di dunia mencapai US$ 167,9 miliar. Tetapi nyatanya, Indonesia masih jauh tertinggal dalam ekonomi halal dunia, di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Saudi Arabia. 

“Padahal peluang pasar dan potensi investasi sektor halal di Indonesia cukup besar. Populasi penduduk muslim kita terbesar di dunia, terlebih banyak UMKM yang potensial menghasilkan produk halal belum terkelola dengan baik,” kata Adi Saputra yang juga Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) itu.

adi-tedja-1.jpg

PT Makmur Berkah Amanda Tbk melalui kawasan Safe n Lock Sidoarjo saat ini dinyatakan telah memenuhi kriteria dan persyaratan sebagai KIH pertama yang ada di Jawa Timur. Safe n Lock fokus pada pengembangan consumer good , makanan dan minuman, serta kosmetik.

“Kami fokus menciptakan Halal Eco-System yang sempurna untuk industri halal yang berada di dalam kawasan, terutama kepada UMKM yang bergerak di bidang makanan dan minuman, kosmetik dan kesehatan, serta menyediakan bahan baku halal untuk keperluan industri,” paparnya. (Rinaldi)

 

Muhammad Rinaldi